
"Sha, Kamu dimana?" Tanya Mama Marsha saat menelpon anak gadisnya itu.
"Ini lagi di klinik ma!" Jawab Marsha.
"Klinik? Ngapain di sana? bukannya tadi kamu jalan sama Bertrand dan Ardi?" Tanya Mama Marsha lagi sambil menghidupkan speaker ponselnya agar papa mertua dan suaminya turut mendengar.
"Iya ma, tadi kita makan malem, gak taunya si Bertrand alergi makanan, jadinya dia keracunan makanan!"Jawab Marsha.
"Terus Bertrand gimana?" Tanya Kakek.
"Lagi diperiksa dokter kek, tadi lemas banget sampai sesak nafas." Jawab Marsha lagi.
"Ardian sudah kasih tau keluarga Bertrand?" Tanya kakek lagi.
"Belum kek, katanya tunggu penjelasan dokter dulu."
"Tolong, nanti kasih kabar ke kakek ya, Mana Ardian? Kakek mau bicara sama dia." Kata kakek lagi.
Marsha memberikan ponselnya kepada Ardian.
"Kakek!" Ucap Marsha pelan. Ardi mengangguk.
"Ardian, titip Marsha dan Bertrand, ada apa-apa segera kabari kami!" Pesan kakek.
"Iya kek!" Jawab Ardi, lalu mengembalikan ponsel Marsha.
"Kok dokternya lama ya?" tanya Marsha.
"Mungkin masih di periksa!" Jawab Ardi.
Tak lama, dokter keluar.
"Pasien keracunan makanan, tubuhnya tidak bisa menerima zat dari makanan yang di konsumsi. Tapi pasien sudah di tangani, tapi belum bisa di bawa pulang. Sebaiknya pasien menginap dulu malam ini ya. Nafasnya masih sedikit sesak dan tekanan darahnya juga sangat rendah." Kata Dokter tersebut.
"Baik dok, berikan yang terbaik untuk pasien!" Kata Ardi.
"Kita boleh lihat pasien, dok?" Tanya Marsha.
"Silahkan!" Jawab Dokter tersebut.
Marsha dan Ardi segera melihat kondisi Bertrand. Bertrand terlihat tidur, diwajah dan lengannya terlihat merah bintik merah. Ada selang oksigen yang terpasang di hidungnya.
"Trand, gimana kondisi elo sekarang?"
"Lebih enakkan, tapi gue masih lemas banget!" Jawab Bertrand pelan.
"Malam ini elo nginap dulu tuh kata dokter. Gak pa-pa ya?" Tanya Ardi.
__ADS_1
"Emang gue ada pilihan lain?" Tanya Bertrand.
"Gak!!! kecuali kalo elo mau ngurus sendiri!" Jawab Ardi.
"Sialan elo!!" jawab Bertrand. Marsha hanya diam melihat dua orang tersebut.
"Maaf, mas, mbak, pasien kita pindah ke kamar rawat dulu ya." Kata seorang perawat yang datang bersama perawat lainnya.
"Oya, silahkan!" Kata Ardi.
Dua orang perawat tersebut membantu Bertrand bangun dan pindah ke ruangan lain dengan kursi roda. Marsha dan Ardi mengikuti dari belakang.
"Oya, Sha, aku mau telpon mama nya Bertrand dulu, kamu temani Bertrand sebentar ya." Kata Ardi saat mereka berada di depan ruang rawat untuk Bertrand.
"Ya udah, jawab Marsha!" Dia masuk lebih dulu weke ruang rawat Bertrand.
"Kami permisi dulu ya mbak!" Kata Perawat setelah mereka selesai memindahkan Bertrand.
"Satu jam lagi nanti kita cek tekanan darah sama oksigennya!" Kata perawat itu lagi.
"Baik, terimakasih mbak, mas!" Jawab Marsha kepada dua perawat tersebut.
"Elo gak pulang? nanti orang rumah elo nyari!" Kata Bertrand saat tinggal mereka berdua di ruangan tersebut.
"Mama sudah telpon tadi." Jawab Marsha sambil duduk di kursi yang ada di kamar itu.
"Ooh!" Jawab Bertrand. Lalu ruangan itu sepi, tak ada yang memulai pembicaraan, sampai Ardi masuk ke ruangan tersebut.
"Ya udah, gak pa-pa. Biar aku tunggu di sini." Jawab Marsha. Ardi kembali ke luar dari kamar rawat. Marsha mengeluarkan ponselnya bertepatan saat ponsel itu berbunyi. Panggilan telepon dari kakeknya.
"Gimana Bertrand?" Tanya Kakek tanpa basa-basi.
"Kata dokter harus nginap kek, tekanan darah dan tubuhnya masih lemah. Tunggu kembali normal baru boleh pulang."
"Kamu masih sama Ardian?" Tanya kakek.
"Masih, tapi Ardi lagi keluar cari makanan." jawab Marsha.
"Ya sudah, kamu jaga Bertrand ya, temani dia. Besok baru kakek jenguk. sampaikan salam kakek buat Bertrand.
"Iya kek!" Jawab Marsha pelan. Lalu memutuskan panggilan telepon tersebut.
...***...
Marsha hampir saja tertidur saat terdengar suara seseorang membuka pintu. Ardi dan seorang suster masuk ke kamar rawat.
"Ngantuk?" Tanya Ardi sambil mengacak pelan rambut Marsha. Bertrand sempat melirik saat suster memasangkan alat pengukur tekanan darah di lengan Bertrand.
__ADS_1
"Nih, minum dulu!" Kata Ardi sambil menyodorkan satu cup coffe yang masih panas.
Sementara suster memeriksa kondisi Bertrand.
"Tekanan darahnya sudah naik walaupun belum normal. Di bawa Istirahat ya mas!" Kata suster tersebut. Bertrand mengangguk lalu suster tersebut pun pamit.
"Gimana? sudah enakan?" Tanya Ardi sambil meletakkan air mineral dan sedotan di nakas di yang ada di samping tempat tidur.
"Hmm!" Jawab Bertrand malas.
"Lagian, penyakit kok di cari, jelas-jelas elo tuh gak bisa makan seafood, alergi elo bakal kambuh, eh masih juga nekat!" Kata Ardi.
Bertrand tak menggubris. Dia mengalihkan pembicaraan.
"Elo sudah ngabari nyokap gue belum gue di sini?" Tanya Bertrand
"Sudah, gue juga udah bilang gak perlu kesini, karena besok elo juga bakal pulang." Jawab Ardi.
"Thanks, bro!" Kata Bertrand
"Ponsel sama dompet gue di jaket mana?" Tanya Bertrand pelan.
"Tuh, jaket elo di sofa! Bentar gue cari!" Kata Ardi. Lalu berjalan ke sofa yang di duduki Marsha. Meraih dan merogoh sakunya. Setelah dapat barang di cari dia meletakan dua benda tersebut di samping bantal Bertrand.
"Elo istirahat gih, biar kondisi elo lebih baikan! jadi bisa pulang, tuh lihat, badan elo merah-merah, sebagian bentol-bentol, untuk muka elo cuma merah gak ikutan bengkak dan jontor!" Kata Ardi sambil menunjuk bercak merah yang ada di sebagian wajahnya dan lengan Bertrand. Bertrand hanya diam. Lalu dia memejamkan matanya. Ardi kembali duduk di samping Marsha yang masih menyeruput coffe nya.
"Gimana udah telepon orang rumah? mau diantar pulang?" Tanya Ardi.
"Gak boleh pulang, di suruh jaga tu orang!" Kata Marsha sambil menunjuk Bertrand dengan gerakan bibir. Ardi terkekeh pelan.
"Gigih banget ya kakek elo mau deketin kalian." Kata Ardi.
"Tau, kaya aku gak ada peminatnya aja!" Keluh Marsha. Ardi tertawa pelan mendengar kata yang di pilih Marsha.
"High quality jomblo kan ya!" Gelak Ardi pelan.
"Tau kakek, kaya gak ada hal lain yang di urus!" Keluh Marsha.
"Mungkin niat kakek kamu baik, biar kamu gak salah pilih, lagi pula Bertrand kan juga cocok kok sama kamu, dia baik, ganteng, tajir juga!" Kata Ardi.
"Kamu muji dia karena dia sepupu kamu kan?" Kata Marsha.
"Ya gak lah, gue ngomong apa adanya!" Kata Ardi membela diri.
"Huh, cowok songong, kasar, nyebelin gitu di bilang baik! yang ada tuh orang arrogant banget tau!" Kata Marsha. Ardi terkekeh.
"Terus kapan rencananya kakek merealisasikan rencana mereka?" Tanya Ardi.
__ADS_1
"Gak tau, yang jelas tinggal menunggu waktu, kakek pasti sudah merencanakan dengan sangat-sangat matang!" Kata Marsha sambil menarik nafas berat.
...***...