When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Akhirnya...


__ADS_3

"Sha, ada apa ini sebenarnya? Tadi ada yang sempat mendengar kamu dan kakek seperti sedang ribut? " Tanya Andrew pada Marsha yang baru saja tiba.


"A-aku gak bisa jelasin sekarang kak, aku mau tau gimana keadaan kakek? "


"Kakek masih di periksa, kita diminta nunggu di luar! Kakak bener-bener kecewa kalo sampai kakek kenapa-kenapa karena ulah kamu, Sha! " Tegas Andrew. Reynald menepul pelan punggung anak lelakinya.


"Sudah Andrew, kita tunggu dahulu kabar dokter, doakan saja kakek tidak kenapa-kenapa. Tahan dulu emosi kamu, semua masih belum jelas. Kasian adek kamu juga sepertinya masih shock, kamu gak lihat wajah Marsha juga pucat begitu?" ucap reynald bijak. Dibawanya putrinya duduk di bangku yang tersedia di depan ruangan Adiwijaya yang tengah diperiksa. Berkali-kali Marsha menghapus air matanya yang meleleh.


"Kamu baik-baik saja kak? kamu sakit? wajahmu terlihat pucat! " Tanya Reynald sambil mengusap pelan puncak kepala putrinya itu. Marsha hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Kamu sudah kabari suamimu kalo kakek berada disini? " Tanya Reynald lagi. Yang lagi-lagi hanya di jawab Marsha dengan gelengan.


Reynald menghela nafas. Diambilnya ponsel yang ada di balik saku jas nya. Kemudian terdengar pembicaraan beliau bersama Bertrand yang mengabarkan jika Adiwijaya tengah berada di rumah sakit.


"Sebentar lagi Bertrand kemari. " Beritahu Reynald setelah panggilannya selesai. Dan Marsha hanya membalas dengan anggukan.


---____---


"Keluar kamu! kakek tidak ingin melihat mu! Usir Adiwijaya saat Marsha masuk ke ruangan kakeknya. Bertrand yang melihat itu tersentak, begitu pun Andrew dan Reynald yang berada di samping Adiwijaya.


" Kek, Kakek kenapa? Baru kali ini aku lihat kakek marah sama Marsha. Kalo Marsha ada salah, Aku minta maaf ya kek. " Ucap Bertrand sambil mengusap pelan punggung Marsha.


"Kamu lihat Marsha? Bagaimana baiknya Bertrand memperlakukan kamu, tapi lihat, bagaimana sikap kamu? Ternyata selama ini hanya sandiwara yang kamu perlihatkan! " Sentak kakek. Marsha semakin tergugu.


"Kek, Sabar, Kakek baru aja sadar, tensi kakek baru mulai turun, kalau kakek marah nanti tensi kakek naik lagi! " Ucap Andrew sambil mengusap-usap lengan Adiwijaya.


"Kek, ini kenapa? Marsha ada apa? aku benar-benar gak ngerti! " Tanya Bertrand bingung.


"Apa kamu tahu kalau istri mu itu mau menggugat mu Bertrand? Apa kamu tahu istri mu ini tengah mengajukan permohonan cerai? " Tanya kakek.


"M-Marsha bisa jelasin kek. " Ucap Marsha terbata.


"C-cerai?" Tanya Bertrand bingung.

__ADS_1


"K-kamu mau kita cerai, Sha? T-tapi kenapa Sha? B-bukannya hubungan kita baik-baik saja? Bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. K-kenapa Sha? " Tanya Bertrand tak percaya.


Marsha tak menjawab, Dia tak punya tenaga untuk berbicara. Hanya air matanya yang tak berhenti mengalir.


"Andrew, tolong bawa adikmu keluar! kakek benar-benar tak ingin melihatnya! " Ucap Adiwijaya lagi sambil membuang pandangannya. Hati Marsha perih mendengarnya. Dilihatnya Andrew yang memberi kode agar Marsha menunggu di luar. Marsha mengangguk mengerti.


Berlahan dia membalik badan, berjalan ke pintu, tapi belum sampai tangan Marsha meraih gagang pintu, tiba-tiba pandangan Marsha berputar, lalu gelap, dan Marsha ambruk begitu saja.


Sontak, Bertrand dan yang lainnya terkejut dan segera berhampur menghampiri Marsha.


"Andrew, kamu panggil dokter, Bertrand cepat angkat Marsha!" Perintah Reynald.


Andrew segera keluar, beruntung ada perawat yang lewat membawa brankar, Bertrand segera membaringkan Marsha ke atas brankar.


"Papa sama Andrew di sini saja jaga kakek, biar aku yang urus Marsha! " Ucap Bertrand sambil berlari membantu perawat tersebut mendorong brankar.


---____---


Dokter sudah menjelaskan seluruhnya kondisi Marsha. Dan Bertrand juga sudah tahu penyebab kenapa Kakek Adiwijaya begitu Marah.


"Jadi, kamu udah tau kalo kamu hamil?" Tanya Bertrand.


Marsha diam, dia hanya mampu menjawab dengan anggukan kepala yang lemah.


"Sejak kapan Marsha? sejak kapan kamu tau kalo kamu sedang hamil? kenapa gak kasih tau aku? aku ini suami kamu Sha! " Frustasi Bertrand, bahkan tanpa sadar suaranya ikut meninggi.


Marsha menghapus air matanya yang tumpah. Dia tak mampu menjawab pertanyaan Bertrand.


"Shaa,, jawab!!! " ulang Bertrand lagi, kali ini dengan nada yang lebih keras.


Namun, bukannya menjawab, Marsha justru semakin terisak. Bahkan bahunya ikut terguncang. Bertrand tersadar. Suara dan ucapannya mungkin membuat Marsha tertekan. Apa lagi kondisi Marsha saat ini sedang hamil. Kondisi fisik dan mentalnya benar-benar sangat lemah setelah semua yang terjadi.


Diusapnya wajahnya berkali-kali, Dia mengatur nafas dan emosinya. sebelum akhirnya di hampirinya Marsha. Dj tangkup nya wajah gadis itu hingga mata mereka sejajar. Perlahan di hapus air mata Marsha yang semakin deras mengalir. Hati Bertrand benar-benar hancur melihat Marsha yang seperti ini. segera di peluknya tubuh itu, di ciumnya kening Marsha lama.

__ADS_1


"Sttt, udah ya jangan nangis lagi, maaf, udah marah-marah sama kamu! aku minta maaf yaa, maaf! jangan nangis lagi, kamu yang tenang ya, aku bakal selalu di samping kamu! aku sayang sama kamu, sayangg bangettt. maaf, aku gak peka, aku ga tau kondisi kamu. pasti berat menyimpan ini semua sendiri. maaf sayang, maaf.. "


"Aku boleh tau, kenapa kamu melakukan itu semua tanpa memberitahu aku terlebih dahulu? aku pikir, setelah hubungan kita sejauh ini, kamu sama sekali tidak memikirkan perjanjian itu lagi. Tapi kenapa kamu masih saja fokus pada perjanjian itu, Sha? " Tanya Bertrand pelan. Diangkatnya dagu Marsha hingga gadis itu juga menatap Bertrand. Lama.. sampai akhirnya dengan suara pelan, Marsha berbicara.


"A-aku ga tau harus gimana, aku bingung, batas perjanjian itu makin dekat, aku gak mau kamu berfikir aku sengaja nahan kamu dengan kehamilan ini, a-aku tau kamu gak cinta sama aku, aku fikir aku bisa simpan kehamilan ini paling gak sampai perpisahan kita terjadi,d-dan aku akan pergi setelahnya, tapi ternyata semua gak sesuai rencana! a-aku gak mau menghalangi kamu, aku tau sudah ada yang menunggu kamu!"


"Sayang, kamu ngomong apa? apa yang sebenarnya kamu fikirkan? kamu lagi hamil anak aku Sha, bagaimana mungkin kamu berfikir mau pergi dari aku dengan kehamilan kamu dan membawa anak kita? Selama ini aku berusaha untuk nunjukin perasaan aku sama kamu, aku cinta kamu, aku butuh kamu, apa sedikit pun kamu gak merasakan itu, Sha? " Tanya Bertrand pelan, diangkatnya dagu Marsha agar gadis itu menatapnya mendengarkan ucapannya.


"A-awalnya aku berusaha untuk percaya, k-kamu, A-aku udah berniat untuk ngasih tahu kamu K-kalau aku hamil. T-tapi kemarin aku gak sengaja lihat k-kamu di cafe s-sama perempuan yang waktu itu di Paris. K-kalian sangat dekat sekali. B-bahkan kamu merangkul dia. A-aku juga sebelumnya gak sengaja jumpa foto k-kalian yang kamu simpan di laci. K-karena itu, a-aku fikir untuk menyelesaikan semua, sesuai perjanjian awal kita. " Ucap Marsha, sambil berusaha tersenyum, membuat seolah semua baik-baik saja. Padahal Bertrand bisa melihat dengan jelas, betapa rapuhnya Marsha saat ini. Dan Bertrand juga terkejut, tidak menyangka jika kemarin Marsha melihatnya saat bersama Aline.


"Sayang, aku bisa jelasin semuanya. Perempuan yang kamu lihat bersamaku itu bernama Aline. Dia teman aku, juga Ardian, bahkan, Ardi dan Aline itu sempat jadian. Tapi mereka putus di tengah jalan karena ternyata diam-diam Aline suka sama aku. Dan hubungan kami sempat renggang saat itu. Aku menjauhi Aline. Lalu sebelum di Paris, aku dan Aline sempat bertemu. Aline meminta maaf untuk semua yang terjadi. Dia sadar dia salah menyukai lelaki lain saat dia masih mengikat hubungan dengan seseorang. Aline menyesal. Dia baru sadar dia benar-benar cinta Ardian setelah mereka berpisah. Bahkan sampai saat ini Aline berusaha untuk mendekati Ardian. Sebenarnya waktu di cafe, Aku pergi bareng Ardian. Tapi Ardian sepertinya masih belum bisa menerima Aline lagi. Saat melihat Aline, Ardian langsung pergi. Aku cuma berusaha mempertemukan mereka. Dan aku merasa bersalah saat Ardian justru tak ingin bertemu Aline. Saat itu, aku hanya berusaha menenangkan Aline sebagai teman. Gak lebih. Kamu percayakan? " Tanya Bertrand sambil menggenggam kedua tangan Marsha.


"Aku gak tau, tapi waktu itu kamu bohong, kamu bilang kamu lembur, meeting, tapi sempat-sempatnya kamu bertemu dia! "


"Sebenarnya, aku emang ada kerja sama juga sama Aline. Tapi aku gak bisa bilang sama kamu sekarang. "


"Kok gitu? "


"Soalnya rahasia, nanti kalo proyeknya udah jadi, aku baru aku kasih liat ke kamu! " rayu Bertrand sambil mengecup punggung tangan Marsha.


"Kalo aku masih gak percaya gimana? " Tanya Marsha. Bukannya menjawab, Bertrand malah mendekatkan wajahnya ke perut Marsha.


"Sayang, bilang mama dong harus percaya sama papa, papa gak mungkin bohong, papa kan sayang sama mama! " Kata Bertrand seolah-olah sedang berbicara dengan calon buah hatinya. Marsha tertawa sekaligus tersipu malu.


"Mas apaan sih! " Ujarnya sambil memukul bahu Bertrand pelan.


Bertrand tersenyum, kembali di dekatkannya wajahnya dengan Marsha yang masih terbaring di Brankar.


"Sayang, tolong percaya, dan cabut gugatan kamu yaa.. " pinta Bertrand dengan wajah memohon.


"NGgg... Sebenarnya aku belum ngajuin apa-apa mas, aku baru buka website nya dan baru sempat mengisi sebagian data form, karena mual aku pergi ke toilet, lalu tiba-tiba kakek udah ada di ruangan dan melihat semuanya. Dan kakek masuk rumah sakit gara-gara aku. Sekarang kakek pasti benci banget sama aku, kakek bahkan ngusir aku. " Ucap Marsha pelan, matanya kembali berkaca-kaca.


"Sttt, udah, nanti biar aku yang jelasin sama kakek. Sekarang yang terpenting, kamu cepat pulih, istirahat yang banyak, jangan mikir macem-macem lagi. Aku selalu ada buat kamu!" Ucap Bertrand sambil mengecup lembut kening Marsha.

__ADS_1


---____---


__ADS_2