
"Jadi, kita akan bekerjasama dengan Wisnu Hutama Corp, Kita akan mengkolaborasikan salah satu produk yang kita miliki di Adiwijaya Corp dengan satu produk milik Wisnu Hutama Corp. Dimana produk ini akan kita inovasi kan bersama dan di pasarkan bersama. Waktu berjalan kerja sama adalah satu tahun. Jika pangsa pasar sangat baik, akan ada kemungkinan kerjasama ini akan tetap berlanjut!" Kata Andrew tegas.
"Tapi, disini, saya akan membentuk tim baru yang akan menjalankan dan mengontrol kerjasama ini. Saya sudah memilih orang-orang terbaik dalam setiap bagian divisi dari setiap anak perusahan." Andrew memberi kode kepada sekretarisnya. Sekretarisnya mengangguk, dan menyerahkan selembar kertas kepada masing-masing peserta rapat yang isinya nama tim serta tugas dan tanggung jawabnya."
"Dan lusa, kita kembali berkumpul disini dengan tim Wisnu Hutama untuk mempertemukan dua tim dan menyusun rancangan kerjasama ini! Jika ada yang memiliki ide-ide silahkan dikemukakan saat rapat bersama dengan rekanan perusahaan kita nanti."
"Saya rasa cukup sekian dari saya, untuk lebih jelasnya, asisten pribadi saya yang akan membantu memberikan gambaran rinci dari kerja sama yang akan kita lakukan ini!" Kata Andrew. Dia lalu pamit kepada seluruh peserta rapat, dan segera keluar meninggalkan ruang rapat. Karena saat ini dia dan sekretarisnya akan mengadakan meeting dengan pihak rekanan lain.
Marsha melihat kertas yang ada di tangannya, Ada namanya tertera di situ.
"Ahh, kak Andrew, masa aku harus mengurus proyek kerjasama sama si cowok sengak, angkuh gitu sih? dari mukanya aja udah kelihatan kok arogansinya!!" Keluh Marsha, tapi hanya di dalam hati.
"Jadi disini, produk yang akan kita kolaborasikan dengan Wisnu Hutama Corp adalah bla bla bla..." Kata asisten Andrew meneruskan penjelasan. Marsha mencoba memahami setiap apa yang disampaikan oleh asisten Andrew tersebut. Mencatat setiap poinnya. Dia berusaha fokus hingga rapat itu selesai.
...***...
"Sha, Gue kemaren gak sengaja deh liat elo!" Kata Mario saat jam makan siang iya menyambangi Marsha ke ruangannya dan mengajak gadis itu makan siang bersama.
"Oya? kok elo gak nyapa gue?" Tanya Marsha.
"Segan gue, soalnya elo sama pak Andrew!" Jawab Mario.
"Elo salah lihat kali, mana ada gue jalan sama pak Andrew!" Elak Marsha.
"Yaelah, elu pikir gue rabun apa? jelas-jelas itu elo sama pak Andrew. Gue lihat pake mata kepala gue sendiri, gak mungkin gue salah lihat!" Kata Mario yakin.
"Nah, kenyataan elo beneran salah lihat kan?" Kata Marsha santai.
"Enggak!!! Gue beneran! Sini coba elo lihat mata gue! gue mau ngetes kejujuran elo!" Kata Mario.
"Ngapain gue liatin mata elo?" Protes Marsha.
"Udah ikutin aja apa kata gue, liat sini mata gue!" Kata Mario.
"Iya, iya!" Kata Marsha sambil melototi mata Mario.
"Elo ada hubungan apa sih sama pak Andrew?" Tanya Mario.
"Gak ada!"
"Bener elo gak ada jalan sama pak Andrew?" Tanya Mario.
__ADS_1
"Serius!" Jawab Marsha.
"Gue beneran gak jalan loh ya, gue cuman makan doang di cafe!" lanjut Marsha dalam hati.
"Yah, kalau gitu siapa dong yang gue lihat kemarin?" Tanya Mario lagi.
"Paling juga elo lagi ngayal, lagi mikirin gue, jadinya elo halu dan ngerasa ngelihat gue gitu!" Jawab Marsha.
"Masa sih? emang bisa gitu?" Tanya Mario tak yakin.
"Nah, tu buktinya elo? Gue yakin elo pasti selalu mikirin gue kan?" Tembak Marsha.
"Pede banget sih, Sha!" Kata Mario salah tingkah karena tebakan Marsha begitu tepat.
"Aah, sudahlah! Nanti jam makan siang keburu habis! Elo jadi gak ngajak gue makan? Kalau gak gue pergi sendiri ni ke cafetaria!" Kata Marsha sambil bangkit dari kursi kerjanya.
"Eh, jadi, yuk!" Kata Mario setelah dia berhasil menguasai sikap salah tingkahnya.
...***...
Marsha baru saja akan mengambil minuman dingin dari sebuah lemari pendingin di sebuah minimarket yang dia singgahi sepulang dari kantor ketika tiba-tiba sebuah tangan melewatinya dan mengambil botol minuman yang akan dia ambil tanpa permisi. Marsha memutar badan untuk melihat siapa sosok yang tidak punya sopan santun yang ada di belakangnya itu.
"Elo lagi?" Kata Bertrand sambil tersenyum sinis.
Marsha menarik nafas menahan jengkel, ia tak ingin membuat keributan lagi. Dia mengambil minuman lain. memasukan ke keranjangnya dan berjalan ke kasir. Saat Marsha hendak menaruh keranjangnya, kembali seseorang menyerobot dari belakang. Marsha menoleh.
Bertrand tersenyum menantang.
"Kenapa? ngajak ribut?" Tanya Bertrand.
"Gue udah diam dari tadi ya, tapi elo sok nantang!" Kata Marsha kesal.
"Maaf, mbak, mas, ini belanjaannya sama apa beda ya?" Tanya mbak kasir.
"Beda!" Jawab dua orang itu kompak membuat si kasir kaget.
"Jadi ini siapa duluan ya?" Tanya Kasir tersebut.
"Saya!" Jawab dua orang itu kembali bersamaan.
"Saya hitung punya mbaknya dulu ya mas?" kata kasir sambil menarik keranjang Marsha. Tapi Bertrand menahannya.
__ADS_1
"Gak bisa! Saya duluan!" Kata Bertrand sambil menyodorkan keranjang belanjaannya.
"Mau elo apa sih?" Tanya Marsha emosi. D
"Dari tadi elo nyerobot gue, tanpa permisi. Gak di ajarin sopan santun!" Tanya Marsha geram.
"Gue cuma tau sopan di depan orang yang juga punya sopan, sama elo mah, buat apa?" Tanya Bertrand menyepelekan.
"Maksud elo apa? Gue gak punya sopan santun? Dengarnya, gue gak kenal sama elo, gue gak tau elo siapa, tapi elo tiba-tiba selalu aja muncul di sekitar gue dan cari masalah mulu." Omel Marsha.
"Yang ada elo yang tiba-tiba muncul dan buat masalah tau!!" Bentak Bertrand.
"Berani bentak gue? mau sok arogan? elu fikir gue takut?" Tantang Marsha sambil maju selangkah ke hadapan Bertrand.
Bertrand memandang tajam gadis yang ada di hadapannya. "Gede juga nyali ni cewek!" Begitu fikirnya.
"Kenapa diam? ngapain ngeliatin gue kaya gitu?" Tanya Marsha semakin berani.
"Gue cuma merhatiin, elo ini gak ada cakep-cakep nya, nyolot, dan suka cari masalah, kok bisa ya jalan sama orang penting di Adiwijaya Corp, apa jangan-jangan?!" Kata Bertrand sambil menaikkan sebelah alisnya matanya.
Marsha geleng-geleng kepala mendengarnya. "Apa Bertrand juga melihatnya saat dia pergi makan bareng Andrew kemarin ya?" Fikir Marsha.
"Mbak, tolong hitung belanjaan saya, saya buru-buru!" Kata Marsha sambil kembali ke kasir.
"Saya dulu!" Kata Bertrand.
"Maaf, mas, mbak, ini belanjaannya udah saya hitung semua kok saat mas dan mbaknya berantem. Sekarang tinggal bayar aja!" Kata Kasir tersebut sambil tersenyum manis dan memberikan struk belanjaan ke duanya.
Marsha menerima struk belanja dan melihat totalnya, dia segera membayarnya.
"Ambil kembalian nya mbak!" Kata Marsha sambil mengambil kantong belanjaannya. Dia sudah berjalan selangkah. Lalu dia membalikkan badan dan menginjak kencang kaki Bertrand.
"Itu, hukuman buat orang yang suka gangguin gue!" Kata Marsha, lalu dia segera pergi meninggalkan Bertrand.
Bertrand yang tak menyangka akan diserang Marsha kontan mengaduh sambil memegang kakinya.
"Awwww!!! Gila Lo ya! ngapain pake nendang-nendang gue?" Jerit Bertrand.
Tapi Marsha sudah berada di luar minimarket, dan suara Bertrand terhalang oleh pintu kaca mini market yang baru saja di tutup oleh Marsha.
...***...
__ADS_1