When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Kesepakatan Marsha dan Bertrand


__ADS_3

Sudah dini hari, Marsha masih belum tertidur. Dia memikirkan waktu perjodohannya yang semakin dekat. Marsha meraih ponselnya. Lalu mengetik sesuatu di sana. Tak lama dia kembali meletakkan ponselnya. Dan mencoba untuk tidur.


***


Bertrand baru saja menutup laptopnya saat ponselnya berbunyi. Ada nada pesan masuk. Bertrand meraih ponselnya dan melihat layar di ponselnya. Keningnya berkerut melihat nama yang tertera. Dia membuka pesan tersebut dan membaca isinya. Dia menarik nafas. Mengetik sesuatu di sana dan mengirimkan balasan.


Pikiran Bertrand menerawang ke beberapa waktu belakangan. Awal dia bertemu Marsha, hingga perjodohan itu terjadi. Semua tanpa di duga. Hubungannya dengan Marsha masih sangat kaku. Semenjak kepulangan dari Klinik beberapa waktu lalu, dia belum pernah berjumpa gadis itu lagi. Lalu malam ini gadis itu tiba-tiba mengirim pesan untuknya mengajak bertemu besok setelah jam pulang kantor.


Bertrand tak bisa menolak keinginan kakeknya untuk menjodohkan dirinya. Ia tahu sekeras apa kakek, kakek bisa membuatnya kehilangan semua yang sudah ia miliki jika menolak permintaan kakek. Bertrand belum siap untuk itu. Ia bukan lelaki yang mandiri. Selama ini, segala kebutuhan dan kemewahan hidup yang ia miliki adalah fasilitas dari sang kakek.


Marsha bukan tipenya Bertrand, bukan karena gadis itu tidak cantik, gadis itu sangat cantik, pintar, dan berani. Dia punya segalanya, seperti yang Bertrand miliki. Tapi selama ini Bertrand selalu dekat dengan wanita sexy, manja tapi liar. Yah, rata-rata gadis itu selalu Bertrand manjakan dengan kemewahan, dan Bertrand akan dengan mudah mendapatkan apapun yang ia inginkan dari gadis-gadis itu. Tapi, entah mengapa, setelah pertemuannya dengan Marsha beberapa kali terakhir ini dia melihat Marsha sebagai gadis yang sangat berbeda dari gadis lain yang ia kenal selama ini.


Bertrand kembali membuka layar ponselnya. Ia menggeser layar tersebut mencari sesuatu. Setelah ia temukan, ia tatap layar ponselnya cukup lama. Sebelum mematikan layar ponselnya tangannya mengusap layar ponsel tersebut. Lalu ia meletakkan ponselnya di samping tempat tidurnya lalu mencoba memejamkan mata.


...***...


Marsha tengah duduk di sebuah cafe tak jauh dari kantornya. Dia melirik jam di tangannya. Sudah 15 menit. Dia melihat ponselnya. Kemudian menarik nafasnya sebelum menyeruput minuman yang ada di hadapannya. 10 menit kemudian, seseorang yang dari tadi ia tunggu berdiri di hadapannya.


"Maaf, terlambat, jalanan macet!" Kata Bertrand sambil menarik kursi yang ada di hadapan Marsha dan duduk di hadapan gadis itu tanpa meminta izin terlebih dahulu.Dalam dikira. Bertrand, toh gadis ini memang sedang menunggunya.


Marsha mengangguk maklum.

__ADS_1


"Gak pa-pa. Gimana keadaan kamu?? Minum apa?" Tanya Marsha sambil melihat ke wajah Bertrand sekilas, lalu ia memanggil seorang waitress yang kebetulan lewat. Waitress itu segera datang. Bertrand menunjuk satu menu yang ada di buku daftar menu yang ditunjukan waitress tersebut. Setelah waitress tersebut pergi. Bertand segera mengarahkan pandangannya ke gadis yang ada di hadapannya.


"Sudah baikan. Thanks untuk kemarin!" kata Bertrand. Marsha mengangguk. Dia membuka tas nya. Mengambil kertas yang tadi ia print di kantornya setelah jam kantor. Dia menyerahkan kertas tersebut ke Bertrand. Bertrand mengambil kertas yang disodorkan Marsha. Dia membuka lipatan kertas tersebut dan membaca isinya.


Poin perjanjian pra-nikah.


Bertrand membacanya sekilas. Lalu mengembalikan kertas tersebut ke Marsha.


"Kamu simpan, nanti kamu tambah poin-poin yang kamu inginkan, atau jika kamu ada yang keberatan dengan poin-poin yang aku ajukan." Ucap Marsha jelas.


Bertrand melipat kertas tersebut dan menyimpan di sakunya.


"Aku sama sekali gak butuh kekayaan dari keluargamu." Jawab Marsha tegas. Bertrand menganggukkan kepalanya.


"Jadi, kamu buat saja surat perjanjian itu, apapun isinya aku akan setuju. Aku percayakan semuanya sama kamu." Kata Bertrand yakin sambil menatap Marsha tajam. Marsha membalas tatapan tersebut.


"Oke!" Jawab Marsha singkat.


"Ada lagi?" Tanya Bertrand.


"Selebihnya aku yakin kamu tau apa yang harus di lakukan. Waktu kita sudah gak banyak. Semua sudah di atur oleh keluarga kita!" Jawab Marsha.

__ADS_1


"Apa yang bisa di lakukan selain mengikuti keinginan dua orang tua itu?" Tanya Bertrand. Marsha meringis mendengarnya. Yaa, memang tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mengikuti keinginan kakek mereka.


"Aku rasa sudah cukup. Kita bisa akhiri pertemuan ini." Kata Marsha.


Bertrand mengangguk. Dia menyeruput kopi yang tadi ia pesan dan sudah diantar sejak tadi oleh waitress cafe tersebut. Dia memberi kode kepada waitress tadi. Saat Waitress tersebut mendekat Bertrand menyerahkan beberapa lembar uang sambil menunjuk minumannya dan Marsha.


"Sisanya, buat kamu!" Kata Bertrand. Waitress tersebut sangat senang. Setelah mengucapkan terima kasih ia segera pergi ke meja kasir.


Marsha merapikan tasnya, Bertrand memperhatikan apa yang dilakukan Marsha. Marsha yang tengah diperhatikan memandang balik Bertrand.


"Kenapa? masih ada yang mau dibicarakan? aku mau nelpon taxi mau pulang." Kata Marsha.


"Ya sudah, biar aku antar!" Tawar Bertrand. Marsha tampak berfikir.


"Sudah, gak perlu sok mikir, nanti elo juga harus membiasakan diri bareng gua terus kan?" Kata Bertrand lagi.


Marsha menatap Bertrand beberapa saat. Sebelum akhirnya ia mengiyakan ajakan Bertrand.


"Oke! Kalau gak merepotkan!" Jawab Marsha. Bertrand berjalan lebih dulu ke mobilnya dan Marsha mengikutinya. Mereka masuk ke mobil Bertrand dan mobil berjalan berlahan meninggalkan parkiran cafe.


...***...

__ADS_1


__ADS_2