
Tiga bulan berlalu. Kesibukan dipenghujung tahun membuat Marsha dan Bertrand lebih banyak memfokuskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk urusan pekerjaan. Hubungan mereka pun hanya stag di tempat yang sama. Tidak ada kemajuan sama sekali.
Tapi saat ini mereka berdua bisa bernafas lega. Segala tanggung jawab dan beban pekerjaan sudah diselesaikan dengan sangat baik sebelum memasuki libur penghujung tahun.
Hanya saja, masalah datang, saat kakek menagih janji, kapan mereka akan memberikan seorang cicit untuk kakek. Kakek meminta mereka untuk program kehamilan agar prosesnya semakin cepat.
"Kakek gak tau akan berapa lama lagi sisa hidup kakek, kakek khawatir, saat anak kalian lahir, kakek gak sempat untuk menyapanya sementara umur ini terus berkurang." ucap kakek pelan saat Marsha dan Bertrand mengunjungi kediaman Adiwijaya. Marsha berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Dia benar-benar merasa bersalah karena sudah mengecewakan kakek. Ingin rasanya Marsha berterus terang tentang hubungannya dengan Bertrand yang sebenar-benarnya. Tapi Marsha sama sekali tidak punya keberanian. Ia takut jika berterus terang akan membuat kakek menjadi shock. Bertrand menyentuh pelan lengan Marsha. Dia bisa membaca isi hati Marsha saat melihat ekspresi gadis itu.
"Maaf kek, sampai saat ini kami belum bisa memenuhi keinginan kakek. Tapi kami mohon doa kakek semoga kami mendapatkan yang terbaik." Ucap Bertrand mencoba merespon kakek, karena Marsha tidak berbicara sama sekali.
"Kakek selalu mendoakan kalian, kalian berdua adalah impian dan harapan yang kakek inginkan sebelum kakek meninggalkan dunia ini!" Kata Adiwijaya lagi.
"Kek, Jangan ngomong gitu yaa, Marsha jadi sedih loh!" Ucap Marsha, Dia memeluk kakeknya erat. dalam hati Marsha begitu nelangsa. Berapa dia merasa sangat bersalah terhadap kakek, membohongi dan menutupi segalanya dari kakek hingga sejauh ini. Kakek yang selalu mengabulkan apapun yang dia inginkan. Tapi saat kakeknya meminta sesuatu, justru Marsha mempermainkan harapan kakeknya.
__ADS_1
"Hehe, ya sudah, kalau gak mau kakek sedih, kalian harus segera merealisasikan keinginan kakek ini. Kalian pergi lah berbulan madu, ini saat yang tepat untuk kalian merencanakan berbulan madu. Agar kalian punya banyak waktu berdua. Kantor juga sedang libur. Kalian bisa mengambil tambahan cuti kan untuk berlibur dan berbulan madu?" Tanya kakek penuh harap.
Marsha dan Bertrand saling pandang. Marsha memberi kode agar Bertrand bisa memberi jawaban yang menenangkan untuk kakek.
"Kakek tenang saja, kami memang sedang merencanakannya!" Jawab Bertand lagi. Marsha menghela nafas. Bukan jawaban seperti itu yang seharusnya Bertrand berikan. Tapi, Marsha sendiri pun bingung harus seperti apa jawaban yang diberikan untuk kakek.
Baiklah, kakek akan menunggu kabar selanjutnya dari kalian!" Jawab kakek lagi.
***
"Ehem!" Dehem Bertrand. Dia berdiri disamping Marsha. Menatap lurus ke depan melihat pemandangan lampu-lampu yang bersaing terang di malam hari dari bangunan-bangunan yang ada di kejauhan dari ketinggian lantai apartemen mereka.
Marsha menoleh sekilas. lalu kembali melempar pandangannya ke depan.
__ADS_1
"Kemarin..." Bertrand memulai membuka pembicaraan. Sengaja digantungnya kata 'kemarin' untuk melihat reaksi Marsha. Marsha hanya diam. Tapi ekspresinya jelas menyiratkan bahwa ia menunggu kelanjutan ucapan Bertrand.
"Kakek Tama juga mengutarakan keinginan yang sama dengan kakek Adiwijaya. Sama seperti Elo, Gue juga gak sanggup untuk menyangkal dan menolak apa yang kakek utarakan." Ucap Bertrand lagi.
"Gue tau, gue ini bandel, gue juga keras kepala dan suka semaunya. Tapi, kalo sudah menyangkut kakek, gue juga sama kaya elo, gue gak bisa menolak dan membantah. Bukan karena gue takut. Bukan. Tapi karena kakek orang yang selama ini selalu support gue. Memenuhi semua keinginan gue. Tanpa pernah menolak sekalipun. Dan menikah dengan elo, adalah permintaan kakek yang pertama kalinya. Mungkin satu-satunya!" Ucap Bertrand Berlahan.
"Aku fikir, permintaan menikah itu, akan selesai setelah terlaksana. Semunya akan beres setelah resepsi dan waktu satu tahun itu." Ucap Marsha pelan.
"Tapi ternyata, tidaklah semudah yang dibayangkan, ada hal lain diluar perkiraan!"Lanjut Marsha lagi.
"Dan sekarang, kita sama-sama terjebak disini." Keluh Marsha.
"Terus apa rencana kamu, Sha?" Tanya Bertrand.
__ADS_1
Marsha terdiam lama. Dia sendiri bingung harus bagaimana untuk keluar dari situasi ini tanpa menyakiti dan mengecewakan siapapun.
***