When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Obrolan di Meja Makan.


__ADS_3

"Kakek juga setuju jika Marsha dan Bertrand berjodoh!" Kata Adiwijaya. Membuat Marsha yang tengah minum kembali tersedak. Begitu juga dengan Bertrand yang baru saja menyuap makanannya. Mereka berdua sama-sama beranjak dan pergi ke kamar mandi. Kedua kakek mereka tertawa melihat tingkah cucu-cucunya, sementara yang lain hanya geleng-geleng kepala.


Di dalam kamar mandi, Marsha membersihkan wajahnya dan menghembuskan nafas dari hidungnya berkali-kali untuk mengurangi rasa sakit karena tersedak saat minum tadi. Dia juga merasa kesal kepada kakek dan sohib kakeknya itu.


"Apaan sih ngomongin jodoh-jodohan! Mana sama si sengak, belagu, sok bossy dan arrogant itu! Ih Amit-amit deh!" gumam Marsha.


Sementara di kamar mandi yang lain...


"Apa-apaan sih kakek pake ngomongin perjodohan, mana muji-muji si Nyolot itu lagi, bisa besar kepala dia!!!! Huh!!! mana gue gak nyangka lagi dia cucu Adiwijaya, lantas gayanya sok banget, hobi Nyolot pula!" Gerutu Bertrand. Dia mengelap wajahnya dengan tisu yang ada di kamar mandi. Setelah mematut penampilannya di cermin, Bertrand segera keluar dari kamar mandi. Dan di saat Bersamaan Marsha juga keluar dari kamar mandi. Bertrand melengos saat melihat Marsha yang memasang tampang jutek saat melihatnya.


Marsha berjalan lebih dulu, Bertrand mengikuti di belakangnya. Mereka kembali ke meja makan.


Marsha dan Bertrand sama-sama sudah tidak berselera untuk menghabiskan makanan mereka. Mereka hanya diam duduk di meja makan tanpa menyentuh makanannya lagi.


"Bertrand, Marsha kok nggak dihabiskan makanannya?" tanya kakek Marsha.


"Sudah kenyang, kek!" jawab Marsha dan Bertrand kompak.


"kompak nih ye!" celetuk Andrew.


Marsha langsung mempelototi Andrew yang duduk di samping ya. Sementara Bertrand pura-pura tidak mendengar dan pura-pura sibuk dengan Ponselnya.


...***...


"Andrew, Marsha, temani Bertrand ngobrol ya, kakek sama yang lain mau ngobrol-ngobrol dulu!" Perintah Adiwijaya.


"Kak Andrew aja ya, aku mau bantu mbak beres-beresin ini dulu!" Tolak Marsha halus.


"Gak perlu, kamu udah bantu-bantu dari pagi,sekarang biar mbak yang beresin!" Kata Adiwijaya tak ingin di bantah.


"Yuk, Bert, kita ke belakang, disana ada kolam dan tempat olahraga, bisa ngobrol santai di sana!" Ajak Andrew. Bertrand mengangguk. Marsha dengan malas mengikuti dari belakang. Wajahnya di tekuk.


...***...


"Bagaimana Marsha dan Bertrand?" Tanya Adiwijaya saat Ia dan Hutama beserta anak dan menantu mereka berada di gazebo di halaman samping.


"Mereka sangat lucu, dan terlihat kompak!" Kekeh Hutama.


"Marsha harus menjadi menantu dalam keluarga kami, dia sangat cantik, cerdas, dan baik. Saya memperhatikan setiap kali dia berkunjung ke kantor kami untuk bekerja." Kata Marcel, Papa Bertrand.


"Dan Bertrand juga harus menjadi menantu di keluarga kami!" Timpal Adiwijaya yang diaminkan oleh Reynald.

__ADS_1


"Ini para ibu bagaimana?" Tanya Hutama.


"Apapun itu yang terbaik buat mereka pa!" Timpal mama Bertrand. Begitupan mama Marsha, hanya berharap yang terbaik untuk putri satu-satunya itu.


"Kita semua harus kompak, untuk mendukung perjodohan ini, dan mempengaruhi mereka agar setuju." Kata Adiwijaya yang di iyakan oleh Hutama.


"Oke, saatnya kita biarkan Bertrand dan Marsha untuk saling mengenal!" Kekeh Adiwijaya. Dia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


...***...


"Gue sama Marsha biasa nongkrong di sini!" Kata Andrew sambil memperlihatkan halaman belakang yang di tata sedemikian rupa dengan beberapa peralatan olahraga. Ada samsak, tenis meja, bahkan beberapa peralatan dan perlengkapan fitnes yang biasa terdapat di tempat gym juga ada di teras belakang.


"Elo bisa main tenis meja?" Tanya Andrew.


"Bisa! udah lama juga gue gak main!' Kata Bertrand.


Andrew menyerahkan sebuah bet ke Bertrand. Mereka mulai bermain. Sementara Marsha yang malas bergabung lebih memilih bermain bersama samsaknya. Dia melatih pukulan dan tendangan yang pernah dia pelajari.


Marsha menguasai beberapa bela diri, tapi sangat jarang dia tunjukan. Buat Marsha, ilmu beladiri bukan untuk di pamerkan atau menakuti orang lain. Tapi lebih sebagai latihan untuk mengontrol diri dan juga sebagai olahraga untuk menjaga kesehatan tubuhnya.


Andrew dan Bertrand tampak asyik bermain sambil bercerita seru, sementara Marsha tampak fokus dengan samsaknya. Ponsel Andrew berdering, dia mengernyit melihat siapa yang menelponnya. Andrew sedikit menjauh sebelum menerima panggilan di ponselnya.


"Trand, elo tunggu sebentar nya, gue ada yang dikerjakan dikit. Gak pa-pa ya gue tinggal? Itu ada Marsha, kalau elo mau coba peralatan olahraga lain silahkan saja!" Kata Andrew.


"Dari gerakannya ni cewek pasti jago beladiri!" Fikir Bertrand.


Dia melihat bagaimana lincahnya gerakan tangan dan kaki Marsha saat meninju dan menendang samsaknya. Wajahnya tampak banjir keringat.


"Pantas aja ni cewek belagu, ternyata dia cucu Adiwijaya. Makanya berani banget nantang gue, belum lagi jago beladiri. Pantas aja kaki gue sakit banget setiap kali kena tendang sama ni orang!" Gumam Bertrand.


Bertrand terus memperhatikan Marsha. Awalnya Marsha tidak menyadari, namun lama-lama dia merasa ada seseorang yang begitu memperhatikannya. Marsha menghentikan permainannya.


"Ngapain elo liat gue?!" Ucap Marsha ketus.


"Siapa bilang gue liat elo? Gue lagi liatin tu samsak yang setiap hari terluka dan babak belur elo aniyaya." Jawab Bertrand asal


"Kalau elo mau, gantiin aja tu posisi samsak!" Jawab Marsha jutek.


"Huh!!! mimpi apa gue semalam mesti ketemu elo lagi! elo lagi!" Ucap Bertrand ketus.


"Heh, elu fikir gue senang apa ketemu elo? cowok sok ganteng, sengak, sok arrogant! mulut kaya bebek, nyari ribut sama perempuan!!" ucap Marsha.

__ADS_1


"Apa elo bilang?sok? asal elo tau ya, gue ini emang ganteng. Dan banyak cewek rela antri biar bisa jalan sama gue!!!" Kata Bertrand sombong. Marsha tergelak mendengarnya.


"Elu butuh cermin ya kayaknya??? Tuh!!!" tunjuk Marsha pada salah satu cermin yang ada disalah satu tembok.


"Gue gak butuh cermin, cuma orang rabun aja yang gak bisa lihat kegantengan gue!"


"Begini ganteng? Gimana jeleknya!" Ledek Marsha.


"Bilang aja elo ngiri! Cewek model elo gini pasti jomblo!" Ledek Bertrand.


"Elo???!!" Tunjuk Marsha. Bertrand meraih tangan Marsha.


"Gue kenapa?" Jawab Bertrand sambil tersenyum. Dia menundukan tubuhnya agar sedikit sejajar dengan Marsha.


"Ngapain pegang-pegang gue!" Kata Marsha sambil menarik tangannya.


"Nanti juga bakal tiap hari gue pegang tangan elo!" Kata Bertrand iseng. Dia berniat mengerjai Marsha.


"Apa elo bilang?!!!" Teriak Marsha.


"Elo gak dengar kakek bilang kalau elo sama gue bakal dijodohkan?"


"Apa?"


"Elo sama gue bentar lagi bakal kawin, jadi elo mesti banyak belajar untuk menerima gue! Oke?!" Ucap Bertrand.


"Siapa juga yang mau kawin sama elo!" Ucap Marsha sengit.


"Ah Sayang, tapi kakek kamu bakal segera mengiwinkan kita!" Jawab Bertrand dengan wajah nyebelin.


"Kakek cuma bercanda bego!!!! Jadi jangan mimpi gue mau kawin sama elo! Amit-amit jabang bayi, hiiih" Ucap Marsha bergidik.


"Siapa bilang bercanda, semua sudah tau kok, atau jangan-jangan kamu ya yang belum dikasih tau??!!" Lanjut Bertrand semakin semangat mengerjai Marsha. Apa lagi saat ini dilihatnya wajah Marsha yang berubah pias.


"Ah sayang, kalau gak percaya kamu tanya Kakek!" Ucap Bertrand yakin. Padahal Bertrand hanya berniat mengerjai Marsha. Tapi sebenarnya tanpa Bertrand sadari, candaannya telah dirancang untuk menjadi kenyataan.


"Awas elu ya!!!" Ujar Marsha sambil berlalu dari hadapan Bertrand. Dia segera menyusul kakeknya ke gazebo. Bertrand terkekeh. Dia mengikuti Marsha dari belakang. Marsha yang kesal segera mencari kakeknya. Tanpa aling-maling Marsha segera bertanya membuat sekelompok orang tua yang bersantai gazebo menjadi kaget.


"Kakek, jawab yang jujur, apa aku beneran di jodohkan sama lelaki sok ganteng, sengak dan arrogant gini?" Tanya Marsha tanpa basa basi lagi


"Iya, jadi kamu sudah tau?" Tanya Kakeknya senang. Bertrand yang berdiri di belakang Marsha sontak terkejut.

__ADS_1


"Apa???!"


...***...


__ADS_2