When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Panik


__ADS_3

Bertrand menarik Marsha dan meraihnya ke dalam pelukannya, karena dari belakang Marsha ada motor yang melaju cukup kencang dengan keranjang dagangan yang di sangkutkan di boncengan belakang motor dan hampir menabrak Marsha.


"Aaaaa!!!" Teriak Marsha kaget karena tiba-tiba Bertrand memeluknya.


"Untung mas nya cepat, kalau gak mbak kesenggol keranjang di motor depan!" kata ibu-ibu yang melintas di samping mereka.


"Ooh! Makasih!" Kata Marsha sambil melepaskan diri dari Bertrand.


"Kalau jalan yang fokus, perhatikan sekeliling!" Kata Bertrand. Dia berjalan mendahului Ardi dan Marsha.


"Kamu gak pa-pa, Sha?" Tanya Ardi.


"Hmm, gak, gak pa-pa! cuma kaget!" Jawab Marsha sedikit tergagap.


"Ya udah, yuk jalan!" ajak Ardian lagi. Mereka berjalan menuju pintu masuk.


"Tiketnya mas!" Kata penjaga pintu saat Marsha dan Ardi lewat.


"Pake tiket? Berapa?" tanya Ardi.


"Maaf mas, beli tiketnya di depan!" Kata penjaga tersebut.


"Gak bisa bayar di sini?" Tanya Ardi lagi.


"Gak bisa mas, beli di depan ya?" Kata orang tersebut sambil menunjuk loket penjual tiket.


"Nih,untuk bertiga!" Kata Bertrand yang datang dan menyodorkan tiket kepada penjaga.


"Oya, udah ada tiketnya, silahkan masuk mas, mbak!" Kata penjaga tersebut.


"Thanks Bro!" Kata Ardi, sementara Marsha hanya mengangguk sambil melemparkan senyum untuk Bertrand.


Bertrand hanya diam, lalu berjalan di belakang Marsha dan Ardi. Beberapa segerombolan anak ABG memandang Bertrand yang terlihat cool, sementara Marsha dan Ardi lebih terlihat seperti sepasang kekasih. Mereka Asyik bercerita sambil melewati stan-stan pasar malam.


"Kita main itu yuk!" Tunjuk Marsha saat mereka melewati stand permainan lempar gelang.


"Boleh!" Kata Ardian.


Mereka membayar gelang untuk bertiga.


"Kamu mau hadiah yang mana, Sha?" Tanya Ardi.


"Boneka beruang!"Jawab Marsha. Dia mencoba melempar gelang yang ada di tangannya ke arah Botol yang memiliki kode-kode sesuai hadiah yang disediakan.


"Yahhhhh!! Gatottttt!!!!" Keluh Marsha.


Ardi mencoba melempar gelangnya begitu pun Bertrand.


"Yahhhhh!!! Gagal juga!" Kata Ardi. Dia melihat Ke Bertrand. Penjaga stand memberikan boneka beruang yang diinginkan Marsha ke Bertrand.


"Nihhh!" Ucap Bertrand sambil memberikan Boneka tersebut ke Marsha.


"Buat Gue?" Tanya Marsha.


"Apa lagi??" Jawab Bertrand jutek.

__ADS_1


"Iya, makasih!!!" Kata Marsha tak kalah jutek.


"Sepupu kamu itu kok gak ada manis-manis nya?" Bisik Marsha pada Ardi. Ardi terkekeh


mendengarnya.


"Aah, nanti paling juga kamu sayang!!" ledek Ardi dengan berbisik.


"iiihhh, impossible!!" jawab Marsha. Ardi terkekeh mendengarnya.


Mereka terus berjalan berkeliling dengan Bertrand berjalan sendiri di depan mereka.


"Brukkkk!!!"


Tiba-tiba Bertrand berhenti tanpa memberikan kode sebelumnya membuat Marsha dan Ardi menabrak tubuhnya.


"Kalau Berhenti tu bilang-bilang, paling gak kasih kode!!!" Kata Marsha jutek.


Bertrand hanya diam, dia mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Tran, elu kenapa?" Tanya Ardi sambil menyentuh bahu sepupunya. Dia mencoba melihat Bertrand.


"Tiba-tiba gue merasa pusing!" Ucap Bertrand sambil memegang kepalanya.


"Ya ampun, muka elo merah-merah, alergi elo pasti kambuh!!!" Kata Ardi panik.


"Ya ampun, Di, kita bawa Bertrand ke dokter, itu merah banget!!" Kata Marsha khawatir.


"Trand, elu pusing kuat gak? kita balik ke mobil ya!" kata Ardi. Bertrand mengangguk.


Ardi membantu memapah Bertrand berjalan menuju mobilnya.


"Ya ampun trand, ini pasti karena elo makan nasi goreng seafood, gue udah ingetin tadi!!" Kata Ardi kesal.


Bertrand hanya diam, dia merasa pusingnya bertambah dan napasnya sedikit sesak.


"Kunci mobil mana?" Tanya Ardi. Bertrand merogoh kantong celananya dan memberikan kunci mobil Ardi.


"Sha, tolong bukain pintu mobil, elo jaga Bertrand di belakang!" Kata Ardi. Marsha mengangguk.


Dia segera membukakan pintu mobil bagian belakang, Ardi membantu Bertrand masuk ke dalam mobil, dan Marsha menyusul.


Ardi buru-buru masuk dan duduk di belakang setir.


"Di, ada air mineral gak?" tanya Marsha. Ardi memberikan air mineral yang ada di dasbor ke Marsha.


"Elo minum dulu ya!" Kata Marsha sambil menyodorkan botol mineral ke Bertrand.


Bertrand meneguknya sedikit.


"Kepala gue pusing, nafas gue sesak!!" Kata Bertrand sambil sedikit terengah-engah.


"Duh, Di, gimana nih, Nafas Bertrand sesak!" kata Marsha panik.


"Sha, elo bantu buka jaket Bertrand, biar gak terlalu sesak!" kata Ardi, sambil fokus melajukan mobilnya ke jalan raya.

__ADS_1


"Sha, elo tau rumah sakit terdekat di sekitar sini?" Tanya Ardi.


"Gue gak tau, tapi kayaknya tadi kita ada lewatin klinik sebelum ke pasar malam." Kata Marsha.


"Trand, kita cari klinik yang dekat aja, yang penting elo cepat di tangani!" kata Ardi.


Bertrand tak menjawab, Dia merasa lemas.


"Duh, Di, ini Bertrand biasa kaya gini?" Tanya Marsha. Dia membantu memijat kening Bertrand. Bertrand tersandar pasrah. Badannya benar-benar terasa lemas.


"Dia alergi seafood, kalau Nemu udang, ya kaya gitu! makanya tadi aku ingetin! eh dia malah bandel!" kata Ardi kesal.


"Ya udah, jangan marah, ini Bertrand kasian, mukanya malah bentol, bukan merah lagi!" kata Marsha iba. Tanpa sadar di genggamannya tangan Bertrand, sementara tangan satu lagi masih memijat pelan kening Bertrand.


"Nah, itu kliniknya, tapi kita mesti muter dulu!" Gumam Ardi. Marsha terus memandangi wajah Bertrand yang lebam karena reaksi alerginya.


"Ya ampun, alergi elo parah banget, Trand!" Kata Marsha lirih.


Bertrand hanya diam, dia benar-benar merasa sangat lemah. Matanya terpejam. Marsha memperkuat genggaman tangannya di tangan Bertrand. Dia benar-benar khawatir. Sikap juteknya seketika hilang. Berganti perasaan iba.


"Tunggu sebentar, Sha, gue minta perawat bawain brankar, Bertrand kayanya lemah banget!" Kata Ardi sambil keluar dari mobil tanpa mematikan mesin mobil. Dia berlari ke dalam klinik, dan tak lama dia keluar bersama seorang perawat laki-laki yang membawa brankar.


"Kita bawa pasien ke UGD dulu ya, mas nya bisa urus admnya." Kata Perawat tersebut.


"Sha, tolong temani Bertrand, aku ke resepsionis dulu!" Kata Ardi. Marsha mengangguk, dia membantu mendorong brankar yang digunakan Bertrand ke UGD.


"Ini pasien kenapa?" Tanya dokter jaga.


"Alergi makanan dok, tiba-tiba kepalanya pusing, nafasnya sesak, dan dia menjadi lemas." Kata Marsha.


"Maaf, mbak ini siapa nya?" Tanya dokter jaga.


"Saya temannya dok!" jawab Marsha cepat.


"Kalau gitu, mbak bisa tunggu di luar, kami akan memeriksa pasien dulu." kata dokter tersebut. Marsha mengangguk. Dia keluar dari ruang UGD dan menunggu di depan pintu.


Tak lama Ardi datang.


"Kok di sini?" Tanya Ardi.


"Bertrand lagi di periksa dokter. Oya, kamu gak menghubungi keluarga Bertrand?" Tanya Marsha.


"Nanti saja, dengar penjelasan dokter, kalau Bertrand bisa pulang, ya gak perlu lah, dari pada bikin orang rumah panik!" Jawab Ardi.


"Ya udah deh, kalau gitu!" Ucap Marsha.


"Kamu mau pulang, Sha?" Tanya Ardi.


"Nanti, lihat kondisi Bertrand dulu, gak tega aku lihat dia lemas kaya gitu, biasa kan dia gak gitu! kasar dan nyebelin, sok arogan!" Jawab Marsha.


"Elo khawatir sama Bertrand?" Tanya Ardi. Marsha mengerutkan keningnya heran dengan pertanyaan Ardi.


"Gimana gak khawatir, tadi dia awalnya baik-baik aja, terus tiba-tiba jadi kaya gitu, kan gue kaget!" Jawab Marsha.


Ardi tersenyum simpul mendengar ucapan Marsha. Dia bisa melihat bagaimana cemasnya Marsha, dan dia tau Marsha tidak sepenuhnya tidak suka kepada Bertrand.

__ADS_1


...***...


__ADS_2