
"Ni cewek bener-bener ya nguji kesabaran gue! bisa-bisanya bentak gue di hadapan orang rame gini! Bisa jatuh wibawa gue kalau ngeladenin ni cewek!!! Lihat aja lu nanti gue balas!!!" Batin Bertrand.
"Pak Bertrand, biar saya saja yang bantu mengobati keningnya." Kata seorang karyawan dari perusahaan Bertrand mencoba menengahi. Bertrand hanya diam. Marsha segera menyingkir dari hadapan Bertrand. kembali ke posisi duduknya semula.
Marsha nampak fokus dengan tablet yang ada di tangannya. Sesekali dia terlihat berbicara serius dengan Ardi, karyawan di perusahaan Bertrand. Sesekali Bertrand melirik gadis itu mencoba mendengar obrolan mereka. Terkadang Marsha seperti membahas sesuatu dengan tim dari perusahaannya.
Terdengar seseorang mengetuk pintu, Ardi segera berdiri dan membuka pintu tersebut, seorang pelayan restoran menginformasikan makan siang telah siap dan akan dihidangkan. Ardi mempersilahkan pelayan tersebut masuk dan menata hidangan makan siang yang telah di pesan di bagian meja yang tidak mereka gunakan.
"Ngobrolnya kita lanjutkan sambil makan siang, silahkan!" kata Bertrand sambil mempersilahkan mereka yang ada di sana untuk makan siang.
Mereka menggeser duduknya dan meninggalkan tablet, laptop di sisi meja yang tadi mereka tempati.
masing-masing mulai mengisi piringnya. Marsha melihat hidangan yang tersaji. Dia mengangkat tangannya untuk mengambil piring yang berisi honey chicken wings tapi di saat bersamaan Bertrand juga ingin mengambil hidangan yang sama. Mereka memandang keki dan sama-sama membatalkan niat untuk mengambil menu tersebut. Marsha melihat hidangan lain, dia memilih daging asam manis, tapi lagi-lagi saat akan mengambil hidangan tersebut, Bertrand juga mengambil hidangan yang sama. Mereka kembali berpandangan kesal dan segera mengurungkannya kembali. Marsha mengambil udang goreng tepung, tapi lagi-lagi Bertrand juga memilih menu yang sama. Hal ini membuat keduanya menjadi kesal.
"Bisa gak elu gak usah ikut-ikutan gue!" Hardik mereka berbarengan. Membuat semua yang ada di meja kaget dan terpana. Ardi yang duduk di sebelah Marsha bahkan sampai tersentak dari duduknya. Dan mereka yang melihat dari awal hanya tersenyum geleng-geleng kepala melihat kekompakan ke dua orang itu.
"Maaf!" Kata Marsha dan Bertrand kembali bersamaan. Membuat yang melihat semakin tersenyum lebar.
"Pak Bertrand dan Mbak Marsha ini kompak banget ya!" Celetuk seseorang yang membuat Marsha dan Bertrand kembali kompak memelototi orang tersebut. Bukannya takut, rekan Marsha tersebut semakin tertawa lebar.
Ponsel Marsha berdering. Marsha melihat ponselnya. Andrew. Dia pamit segera keluar dari ruang VIP restaurant tersebut.
"Iya kak!" Jawab Marsha.
"Kamu di mana?"
"Aku di Restaurant Nusantara kak, Baru selesai Lunch meeting sama perusahaan Wisnu Hutama! Ada apa?" Tanya Marsha.
"Kakak baru aja mau ngajak kamu makan siang. Ya sudah kalau gitu!" Jawab Andrew.
"Kakak lagi dimana? aku ikut kakak aja deh, aku juga belum makan! males banget makan sama orang aneh itu!" Kata Marsha.
"Orang aneh?" Tanya Andrew Bingung.
"Itu cowok nyebelin dari perusahaan Wisnu Hutama!" Kata Marsha tak ingin menyebut nama Bertrand.
"Bertrand?" Tanya Andrew sambil tergelak.
"Aku gak mau nyebut dan dengar namanya!" Kata Marsha malas.
"Kakak share lokasi ya, nanti aku nyusul, pesan sekalian makanan dan minuman buat aku!" Kata Marsha lagi. Lalu memutuskan panggilannya tanpa menunggu Andrew bertanya lebih lanjut pesanan makan siangnya. Andrew hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan adiknya itu.
Marsha segera kembali ke dalam ruangan VIP tersebut. Dia mengemasi barang-barangnya. Lalu pamit dengan alasan ada keperluan mendadak kepada semua yang ada di sana dan meminta maaf karena tidak sempat makan siang, dan mengganggu kenyamanan mereka.
Mereka tersenyum simpul melihat tatapan keki Marsha dan Bertrand seperti anak kecil yang bermusuhan.
...***...
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Marsha tiba di restoran yang di tunjukan oleh Andrew. Marsha segera masuk ke Restoran tersebut dan mencari sosok kakaknya. Dia bisa melihat Andrew yang duduk di ruangan terpisah yang dibatasi oleh partisi.
"Kak!" Sapa Marsha sambil menarik kursi yang ada di hadapan kakaknya itu.
"Cepat banget! pesanannya aja belum datang. Pake apa?" Tanya Andrew.
"Ojek!" Jawab Marsha singkat. Dia menghirup jus segar yang sudah tersedia di atas meja.
"Gimana lunch meeting nya?" Tanya Andrew.
"Meeting nya sih lancar, yang gak lancar itu lunchnya!" Sungut Marsha. Andrew tertawa mendengar dumelan adiknya.
"Memang kenapa?" Tanya Andrew. Marsha menceritakan runtutan kejadian demi kejadian saat dia membuat jidat Bertrand celaka, sampai peristiwa drama di meja makan saat akan lunch tadi.
Andrew tertawa mendengarnya, Dia tak bisa membayangkan kehebohan yang diciptakan oleh adik dan calon jodoh adiknya itu.
"Haha, Kok bisa kompakan gitu sih? Jangan -jangam kalian jodoh lagi?" Goda Andrew.
"Ih, apaan!!! amit-amit dah!" ucap Marsha sambil bergidik.
Pramusaji datang mengantarkan pesanan Andrew dan menatanya di meja.
"Makan dulu gih! kamu pasti lapar!" Kata Andrew. Marsha mengangguk. Andrew selalu tau seleranya Marsha. Marsha segera melahap makanan yang ada di depannya.
"Jadi, gimana meeting nya?" Tanya Andrew.
"Udah beres kak untuk perencanaan, tinggal actionnya aja." Kata Marsha.
"Kapan?" Tanya Marsha.
"Nanti aja sudah di rumah. Kakak selesai ini ada kerjaan juga!" Jawab Andrew.
Marsha mengangguk. Dia menikmati makan siangnya.
...***...
"Jadi ini Desain produk kolaborasi nya, ini harga produk, rencana promosi dan pemasaran, target penjualan, dan keuntungan yang akan di capai, lain-lainnya udah ada di sini kak!" Kata Marsha sambil menunjukan sesuatu di tabletnya. Dia tengah bertandang ke kamar Andrew.
Andrew memperhatikan dengan seksama. Perencanaannya terlihat matang, semua tersusun rapi.
"Oke! Bagus! Semua harus berjalan baik dan kamu harus bisa mengontrol segalanya dan kemungkinan yang akan terjadi. Karena tidak mudah untuk membaca keinginan para komsumen agar mau menerima produk kita." Ucap Andrew sambil menyerahkan kembali tablet milik Marsha.
"Iya kak! Aku paham!" Kata Marsha sambil merebahkan diri di kasur Andrew.
"Hei! Kenapa tiduran di sini? Balik sana ke kamar kamu!" Kata Andrew sambil memukul lengan adiknya pelan.
"Udah nyaman kak! Males banget pindah ke kamar!" Kata Marsha cuek sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
."Sha, kamu lama-lama bisa benci jadi cinta loh sama Bertrand!" Goda Andrew.
"Ih, amit-amit, siapa juga yang mau sama cowok model gituan. Ganteng kagak, Sok bossy, dan arogan pula!" Ketus Marsha.
Andrew tertawa mendengarnya.
"Jangan terlalu cepat menilai orang!" Kata Andrew sambil merebahkan tubuhnya di samping Marsha.
"Hmm, Btw, Bertrand sama Mario ngira aku ada apa-apa sama kakak loh!" Kata Marsha sambil mengangkat kedua tangannya membentuk tanda kutip.
"Oya?"
"Iya, jadi waktu kita pulang dari cafe sore itu, gak tau dimana, mereka berdua melihat kita pas jalan menuju mobil. Aku di curigai ada affair sama kakak!" Kata Marsha tergelak.
"Biarin aja, sampai waktunya semua tau siapa kita!" Kata Andrew.
"Kak, kakak tau sesuatu gak sih?" Tanya Marsha ragu.
"Apa?"
"Aku merasa seperti ada yang disembunyikan keluarga ini dari aku!" Kata Marsha.
"Oiya?" Tanya Andrew pura-pura tidak tahu.
"Iya, aku lihat terkadang kakek, papa atau mama sedang berbicara serius, tapi setiap aku ingin tahu mereka seperti sengaja menghindar. Apa hanya perasaan aku ya?" Tanya Marsha.
"Hmm, mungkin perasaan kamu!" Kata Andrew
"Aku jadi punya fikiran macam-macam!" Keluh Marsha.
"Maksudnya."
"Aku sampai kepikiran, jangan-jangan aku buka. anak kandung keluarga ini, terus sekarang mereka sedang berusaha untuk memberi tahu, tapi masih ragu. Tragis banget gak sih kalau seperti itu nasib aku?" Kata Marsha sendu.
"Iya, kamu emang anak pungut, dapat di pos depan malem-malem ujan-ujan di buang gitu, terus papa mama angkat deh jadi anak!" Kata Andrew sambil tertawa.
"Ih, Kak Andrew , nyebelin banget sih!!!" Kata Marsha sambil bangun dan mencubit badan kakak lelakinya itu.
"Aww, Marsha sakit tau!! Udah! udah!!" Kata Andrew sambil mencoba menghindar dan mengelak. Tapi Marsha terus mencoba mencubitnya gemas. Andrew menangkap tangan adiknya, menarik dan memeluknya erat.
"Masih mau nyubit gak?" Katanya sambil menjepit hidung Marsha dengan jarinya.
"Gak!!! ampun!!! Lepasin idung aku!" Kata Marsha sambil menahan lemas karena dia kesulitan bernafas.
Andrew tertawa.
"Makanya, mikirnya jangan aneh-aneh non!! Udah ah, kamu istirahat gih! pindah ke kamar kamu sana!" Kata Andrew sambil melepaskan adiknya. Di agaknya puncak kepala Marsha gemas.
__ADS_1
Marsha menurut, dia mengambil ponsel dan tabletnya, lalu beranjak keluar dari kamar Andrew.
...***...