When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Setengah Transparan


__ADS_3

"Aaaaaa!!!!" Teriak Marsha kaget karena tiba-tiba ada seseorang yang sudah berdiri di hadapan dirinya.


Bertrand yang terpaku dengan pandangan indah di depannya terkesiap mendengar jeritan Marsha. Dia segera membalikkan badannya, Wajahnya memerah menahan malu karena telah melihat Marsha dalam keadaan setengah transparan.


Marsha segera mengambil handuk yang tadi ia jatuhkan di lantai lalu melilitkan ke badannya.


"Ma.. maaf, g-gue gak sengaja, g-gue ga tau elo lagi gak pake baju, gue pikir elo di toilet!" kata Bertrand sedikit tergagap.


"Kenapa gak ketok pintu dulu???!" Pekik Marsha tertahan.


"Kan elo gak tutup pintunya jadi gue langsung masuk aja!" Jawab Bertrand sambil curi-curi melirik Marsha


"Ya udah terus ngapain berdiri disitu?!!! sana keluar!!! aku mau pake baju tauuu!!" Kesal Marsha melihat Bertrand tak juga beranjak dari tempatnya.


"Ya kan aku tadi cuma mau kasih tau tadi itu ada kurir yang ngantar pesanan kamu!" Jawab Bertrand lagi.


"Ya udah terus kenapa masih diam disitu!!!" Kata Marsha gemes melihat Bertrand tak juga beranjak.


"Eh, gue tadi mau mandi! Ya ya udah, gue mau masuk ke kamar mandi dulu!" Ucap Bertrand sambil masuk ke kamar mandi dengan menutup pandangannya dengan tangannya, melewati Marsha yang semakin merapatkan tangan ke tubuhnya yang hanya dililit handuk.


Marsha mendengus kesal. Dia melihat ke kamar mandi yang tertutup. Terdengar bunyi shower. Dia segera mengambil pakaian dan mengenakannya. Dengan wajah yang masih kesal, Marsha segera keluar dari kamar.


***


Bertrand mengusap wajahnya berkali-kali. Aah, bayangan Marsha yang setengah transparan menari-nari dalam bayangan Bertrand. Ternyata jika seperti itu, Marsha terlihat sexy, walaupun dada dan bokongnya kecil, tapi kencang padat berisi.


Bertrand mengencangkan aliran Shower yang mengguyur kepalanya. Lama-lama bisa gila dia dengan pikirannya. Mulai saat ini, Bertrand menjadi khawatir, pandangannya terhadap Marsha akan sulit ia kontrol.

__ADS_1


***


Marsha menyalin makanan yang tadi ia pesan ke dalam wadah makan. Menu ayam bakar lengkap dengan lalapan dan sambal terasi dari restoran favoritnya yang sengaja ia pesan dua porsi untuk dirinya dan Bertrand. Sengaja Marsha pesan, karena gak enak juga jika harus makan sendiri. Sementara apartemen itu ia tinggali berdua. Dan lagi, ia juga tak ingin terus-terusan adu emosi dengan Bertrand. Capek. Apa lagi kondisi ini akan ia jalani masih sekitar 360 hari lagi.


Tapi kejadian Bertrand melihatnya dalam kondisi setengah transparan membuat Marsha khawatir. Ia takut Bertrand menjadi punya pikiran mesum terhadapnya.


"Hiiiii" Gidik Marsha terhadap pikirannya sendiri.


Lagi pula bukan salah Bertrand sepenuhnya sih jika melihat Marsha dalam kondisi seperti itu. Marsha juga teledor saat mandi ia tidak mengunci pintu kamarnya dari dalam terlebih dahulu. malah dibiarkan terbuka begitu saja. Jadi wajar jika ia juga tidak sadar jika ada seseorang yang masuk ke dalam kamar.


"Semoga aja tu orang gak punya pikiran macam-macam!!" Batin Marsha.


***


Bertrand berkali-kali kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali perlahan, sebelum ia menarik handel pintu keluar dari kamar.


Ia harus menenangkan jantungnya terlebih dahulu sebelum melihat Marsha yang entah sedang melakukan apa di luar dari kamar ini dan berusaha bersikap sewajarnya seperti tidak terjadi apa-apa.


"Nih, makan bareng, gue tadi pesan lebih!" Marsha membuka pembicaraan.


Bertrand menarik kursi yang ada di dekatnya, duduk berhadapan dengan Marsha.


"Yang tadiii.. sorry ya, gue..!!"


"Udah gak usah di bahas!" putus Marsha. Membahas hal itu hanya akan membuat Marsha tambah maluuuu.


"Oke!" Jawab Bertrand. Dia mulai menyentuh makanannya.

__ADS_1


"Hmm Sha, untuk belanja kebutuhan rumah dan segala macamnya, nanti aku transfer ya!" Kata Bertrand memulai pembicaraan.


"Oke, 50:50 ya?"


"Gak perlu, karena itu kewajiban aku, tolong jangan ada tawar menawar lagi!" Titah Bertrand.


Marsha yang tak ingin ada perdebatan hanya mengiyakan saja keinginan Bertrand.


"Satu lagi, kita butuh ART harian untuk bantu beres-beres, cuci, setrika dan masak. cukup dari pagi sampai sore karena gak punya kamar untuk menginapkan."


"Oke! aku ikut aja!"


Bertrand mengangguk. Mereka pun melanjutkan makan malam tanpa bersuara lagi.


***


Ting tong!!


Bel berbunyi saat Marsha sedang membersihkan pantry dan Bertrand tengah sibuk dengan tabletnya.


Bertrand segera beranjak membuka pintu dan lagi, seorang kurir mengantarkan pesanan Marsha.


"Ini pesanan Mbak Marsha!" Kata kurir tersebut sambil menyerahkan sebuah paket yang cukup besar. Bertrand segera menerima bungkusan tersebut dan membawanya ke dalam.


"Itu paket elo!" Kata Bertrand sambil menunjuk sebuah paket dengan ekor matanya saat dilihatnya Marsha keluar dari Pantry.


"Thanks!" Ucap Marsha sambil mengambil paket tersebut dan membawanya ke kamar dan Bertrand melanjutkan pekerjaannya kembali.

__ADS_1


Marsha membuka paket yang tadi ia pesan secara online. Isinya beberapa biji bantal dan guling. Ia sengaja membeli beberapa banyak dan guling untuk dijadikan sebagai pagar batas untuk tempat tidurnya dan Bertrand. Marsha menyusun bantal-bantal tersebut ditengah-tengah kasur seperti sebuah benteng.


"Beres!" Ujarnya sambil merebahkan tubuhnya ke kasur. Marsha meraih ponselnya dan melihat-lihat layar ponselnya. Dan saat matanya terasa berat, Marsha pun tak kuasa menahan kantuknya. Ponselnya pun terlepas dari genggaman saat Marsha akhirnya benar-benar tertidur.


__ADS_2