When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Amarah Kakek


__ADS_3

Marsha membuka pintu apartemennya. Menatap nanar sekeliling. Dia menjatuhkan diri di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Marsha merasakan sesak di dadanya. Ternyata dia terlalu percaya diri. Dia menyesal kenapa terlalu mengikuti perasaannya. Akhirnya, apa yang ia takutkan terjadi. Dia terlalu berharap dan bersemangat. Tapi apa yang telah ia lihat tadi menghancurkan segalanya.


Marsha teringat sesuatu. Dia segera masuk ke kamar menuju walk in closet. Membuka salah satu laci yang ada disana. Dia membukanya tergesa. Lalu saat terlihat sebuah foto polaroid, Marsha segera mengambilnya.


Ternyata benar, yang ia lihat di cafe tadi adalah perempuan yang sama. Perempuan yang pernah Marsha lihat bersama Bertrand sama mereka berada di Paris. Marsha memejamkan matanya. Terbayang kembali apa yang ia lihat di cafe tadi.


Bertrand yang duduk sambil merangkul gadis itu dan mengusap tangannya, seolah memberi kenyamanan.


Marsha menggenggam erat kedua tangannya, menahan segala emosi. Tidak! Ia tidak boleh menangis. Itu akan membuatnya lemah. Dan mungkin saja Bertrand akan tertawa yang melihatnya begitu bodoh terjatuh dengan mudah dalam pelukan Bertrand.


Berlahan Marsha membuka matanya. Dia menarik nafasnya kuat, dan menghembuskan nya, diulangnya beberapa kali, sampai ia berhasil mengontrol dirinya sendiri.


Marsha mengusap pelan perutnya. Ada calon anaknya di dalam sana. Ia tidak boleh lemah. Ia harus kuat. Ia harus menjaga kehamilannya walaupun seorang diri. Marsha memejamkan matanya. Dia berpikir cepat. Sampai akhirnya dia memutuskan segala sesuatu nya seorang diri.


---____---


Marsha meminum vitamin yang diberikan dokter SPOG yang tadi memeriksa dirinya. Bertrand belum pulang meski hari beranjak gelap. Marsha tidak peduli kemana dan apa yang Bertrand kerjakan. Dia hanya ingin fokus pada diri dan anak yang ada dalam kandungannya. Meski anak itu juga anak Bertrand. Marsha tidak keberatan untuk menjalani kehamilan dan mengurus sendiri segala sesuatunya.


Anak ini tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi pada orang tuanya. Dia tidak bersalah. Dan Marsha tidak akan pernah membencinya. Dia akan menyayangi anak itu nanti sepenuh hatinya.


---____---


Hampir jam 10 malam saat Bertrand tiba di apartemen. Suasana gelap dan lengang menyapa saat ia baru saja membuka pintu. Bertrand berjalan ke arah dapur. Mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum ia menghilang segelas air putih dari dispenser. Ia meneguknya tanpa sisa. Bertrand melonggarkan dasinya. Hari ini benar-benar melelahkan. Tapi ia juga merasa puas, bahwa rencana rahasia yang ia persiapkan sudah hampir rampung.


Bertrand masuk ke kamar. Dan yang ia lihat Marsha tertidur pulas di ranjangnya. Bertrand mendekat ke sisi Marsha. Dia tersenyum menatap perempuan yang ia cintai. Dibelainya puncak kepala perempuan itu dengan sayang, memberikan kecupan di keningnya, sebelum akhirnya ia bergeser ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menyusul Marsha ke alam mimpi.


---____---

__ADS_1


"Sayang..hei..kamu gak kerja? " Bisik Bertrand pelan sambil menepuk pipi Marsha berlahan.


Marsha membuka mata. Dia melirik jam di dinding. Dilihat nya Bertrand yang tampak segar dengan ujung rambut terlihat basah masih mengenakan bath robe. Sepertinya lelaki itu baru selesai mandi. Marsha menggerakkan sedikit tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Aku berangkat siangan ke kantor! " Ucap Marsha serak.


"Kamu sakit? tapi badan kamu gak panas kok! " Ucap Bertrand sambil meletakkan punggung tanggalnya ke dahi Marsha.


Tiba-tiba Marsha merasakan mual. Dia segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Bertrand segera menyusul Marsha. Di usapnya pelan punggung Marsha yang mencoba mengeluarkan isi perutnya. Tapi hanya cairan saja yang keluar.


"Kamu kenapa? apa yang gak enak? " Tanya Bertrand khawatir. Dilihatnya wajah Marsha yang menjadi sedikit pucat. Marsha membasuh mukanya dan kembali ke kasur.


"Aku gak pa-pa, cuma sedikit capek, mungkin masuk angin dan juga maag! " Ucap Marsha.


"Loh, kamu ada sakit maag? kok gak bilang? sebelumnya gak pernah kambuh kan? " Tanya Bertrand khawatir.


"Dulu pernah, tapi udah lama enggak, cuma mungkin akhir-akhir ini sibuk, jadinya balik lagi. " Alasan Marsha.


"Aku berangkat dulu ya. Kalo masih sakit jangan di paksain kerja. Nanti jangan lupa ngabarin kalo mau ngapain aja! " Pesan Bertrand yang hanya di balas Marsha dengan anggukan.


Bertrand menyodorkan tangannya yang di sambut Marsha dengan mencium punggung tangan itu. Di peluknya Marsha sebelum dia pergi, dan juga kecupan di kening Marsha. Bertrand pamit, diacaknya puncak kepala Marsha sebelum akhirnya dia meninggalkan apartemen.


---___---


30 Menit setelah kepergian Bertrand. Bel di unit apartemen Marsha berbunyi. Marsha bangkit dengan malas-malasan. Dia melihat layar di pintunya sebelum membuka pintu. Seorang kurir tengah menunggu sambil membawa sebuah bungkusan.


"Pesanan Bapak Bertrand." Ucap kurir tersebut saat Marsha membuka pintu.


Marsha menerima bungkusan yang diterima nya dari kurir tersebut. Sekotak bubur ayam dan satu cup sup. Marsha membuka dan memakan sarapannya tanpa selera. Namun ia tetap memaksakan agar makanan tersebut masuk ke lambungnya. Marsha mungkin tidak lapar, tapi janin yang ada di kandungannya butuh asupan makanan ini. Tak lupa Marsha meminum vitamin yang kemarin diberikan oleh dokter kandungan itu.

__ADS_1


Selesai membereskan dapur, Marsha kembali ke kamar. Saat hendak ke kamar mandi melewati walk in closet, Marsha teringat sesuatu. Ia menarik sebuah laci yang ada disana dan mengambil sesuatu di dalam nya. Marsha membawa dan menyimpan benda tersebut ke dalam tas kerjanya. Marsha sudah yakin dengan keputusannya.


---_____---


Hampir jam 10 saat Marsha baru tiba di kantornya. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Marsha melihat meja kerjanya masih bersih, belum ada berkas yang masuk. Marsha memeriksa email kantor, belum ada pekerjaan yang urgent.


Marsha mengetik beberapa kata pencarian di laman pencarian. Membuka salah satu web. Marsha menghela nafas. Dibacanya satu per satu tulisan yang ada di web. Marsha meraih tas nya, mengeluarkan buku nikah dan surat perjanjiannya bersama Bertrand.Lama dia menatap dua benda itu. Marsha memejamkan matanya sesaat. Ditariknya nafas dalam. Lalu ia kembali mengetik sesuatu di laptopnya. Baru beberapa saat menghadap layar laptopnya. Marsha tiba-tiba kembali merasa mual dan sedikit pusing. Bergegas ia meninggalkan ruangannya pergi ke toilet karyawan.


---____---


Adiwijaya mengetuk ruang kerja Marsha. seorang staf yang sempat melihat atasannya itu keluar dari ruangan mengatakan ke pada pimpinan tertinggi perusahaan tersebut bahwa Marsha sedang tidak di ruangan.


Adiwijaya mengangguk. Dia membuka pintu ruangan Marsha, kemudian mengernyit melihat sesuatu di meja Marsha. Ia mendekati meja kerja cucunya itu, melihat layar laptop yang masih menyala. Seketika matanya melebar. Di raihnya buku nikah dan selembar kertas yang berada di bawahnya. Dibacanya isi dari kertas tersebut. Matanya semakin melebar. Dada nya seketika terasa sesak. Adiwijaya segera bangkit, dia baru akan membawa kertas dan buku nikah tersebut pergi saat Marsha tiba-tiba masuk kembali ke ruangan nya.


"Loh, kakek di sini? ada apa kek? " Tanya Marsha sambil menyodorkan tangannya bermaksud menyalim si kakek.


"Apa ini Marsha?" Tanya kakek dengan suara tertahan dan mata yang memerah menahan amarah sambil melemparkan benda yang ada di tangannya ke arah Marsha.


Marsha terkesiap melihat sesuatu yang baru saja kakek lempar ke arahnya.


"K-kek, M- Marsha bisa jelaskan kek.. "


"Apa yang mau di jelaskan Marsha? Bahkan saat ini kamu mengajukan gugatan, apa itu yang ada di layar laptop kamu??!!! " Hardik Adiwijaya.


Air mata Marsha mulai meleleh.


"Kakek tunggu di ruangan kakek! " Cetus Adiwijaya sambil keluar dari ruangan Marsha. Namun baru saja beberapa langkah keluar dari ruangan, Adiwijaya tiba-tiba saja ambruk. Marsha yang masih berdiri di tempat segera keluar sembari menghapus air matanya karena mendengar keributan di luar ruangannya.


"Kakek!!!" teriak Marsha.

__ADS_1


"Cepat siapkan mobil, tolong diangkat bawa ke rumah sakit sekarang! " Teriak Marsha pada karyawan kakek nya. Lalu beberapa orang segera mengangkat Adiwijaya turun menggunakan lift dan segera membawa masuk ke mobil kantor yang telah sedia. Andrew dan Reynald yang kebetulan baru saja tiba di lobi setelah bertemu rekanan sontak kaget melihat Adiwijaya yang tengah di bopong sontak berlari, ikut masuk ke dalam mobil yang akan membawa Adiwijaya ke rumah sakit. Sementara Marsha mengikuti dengan mobil lain.


---____---


__ADS_2