
"Jadi gimana menurut Mbak Marsha tentang desain produk kita?" Tanya Ardi, seorang perwakilan dari perusahaan Hutama sambil memperlihatkan rancangan kemasan produk yang telah mereka buat di laptopnya. Mereka tengah meeting kerjasama kolaborasi produk di ruang VIP sebuah restaurant.
"Ini bagus banget, menarik sekali rancangannya." Kata Marsha.
"Kira-kira ada yang kurang gak mbak?" Tanyanya lagi.
"Hmm, maaf ya, ini bisa ga seperti ini, dan ini lebih kesini, dan untuk warna bisa lebih seperti ini biar kesannya lebih dapat." Kata Marsha sambil menunjuk beberapa kekurangan dan desain yang kurang pas.
"Bisa mbak, gak pa-pa, kita coba dulu ya!" Kata staf tersebut.
"Tapi beneran loh, ini konsepnya sudah keren banget, ini kamu yang desain?" Tanya Marsha
"Iya mba, saya yang desain, tapi idenya dari pak Bertrand."
Mereka tampak serius berdiskusi, merevisi ide-ide yang kemarin-kemarin sudah mereka tuangkan, dan sekarang persiapan menuju tahap akhir untuk produk yang akan mereka luncurkan.
"Maaf, saya terlambat, jadi bagaimana dengan rancangan yang sudah saya susun?" Tanya Bertrand yang tiba-tiba sudah berada diantara mereka. Dia duduk tak jauh dari Marsha, tepat di sebelah Ardi yang tadi menyodorkan rancangan kemasan kolaborasi produk mereka.
"Ini pak, ada sedikit revisi rancangan dari Mbak Marsha yang mewakili perusahaan partner pak!" Kata Ardi sambil menunjukkan laptopnya ke Bertrand.
"Owh, ini boleh, jadi lebih Oke tampilannya!" Kata Bertrand sambil memfokuskan pandangannya ke layar laptop.
"Oke, mbak Marsha saya gak..." Ucapan Bertrand terputus saat dilihatnya Marsha si cewek yang selalu ngotot dan cari masalah dengannya ada di hadapannya.
"Elo?!" Kata Bertrand sambil menunjuk Marsha. Semua yang hadir menatap Bertrand bingung.
Marsha segera berdiri dan mengulurkan tangan kanannya.
"Hai pak Bertrand, saya Marsha, perwakilan dari Adiwijaya Corp!" Kata Marsha sambil tersenyum mengejek.
Dengan malas dan demi menjaga wibawanya Bertrand menerima uluran tangan Marsha.
"Maaf, saya tadi kaget!" Kata Bertrand.
"Gak pa-pa, ternyata anda bisa juga minta maaf!" Kata Marsha sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Bertrand melotot, segera dia melepaskan tangannya dan berusaha bersikap santai walaupun sebenarnya keki banget dengan gadis yang ada di hadapannya.
"Oke, Jadi ini desain kemasan produk kolaborasi sudah oke ya, Lalu untuk price, promosi, dan pemasarannya sesuai catatan rapat sebelumnya, apanada yang perlu di revisi?" Tanya Bertrand.
Masing-masing memberikan masukan dan pemikirannya, yang langsung di tampung dan diberi tanggapan. Begitupun Marsha, berbekal teori dan pengalamannya saat magang dan belajar di kantor, dengan percaya diri dan penuh keyakinan dia melontarkan ide kreatifnya. dan jujur Bertrand sedikit kagum dengan gadis itu, hanya sedikit! Itu pun karena beberapa kali Bertrand mencoba mematahkan ide gadis tersebut, tapi ternyata gadis itu mampu meyakinkan semua yang disana untuk menyetujui idenya yang memang benar-benar kreatif inovatif.
Meeting hari itu berjalan lancar, planning mereka telah matang, dan segera untuk melancarkan aksi mempersiapkan produk kolaborasi mereka meluncur ke pasaran.
"Wah, mbak Marsha, gak salah kamu di tunjuk untuk mewakili perusahaan Adiwijaya. Ide-ide kamu memang cemerlang dan sangat Fresh." Puji Ardi perwakilan dari perusahaan Hutama.
"Gak, kebetulan aja kok idenya terlintas." Kata Marsha.
"Iya, padahal Marsha ini anggota baru di perusahaan kami, belum setahun bergabung." Puji rekan Marsha.
Marsha hanya tersenyum mendengarnya.
"Ya bagus donk, kalau memang benar ada prestasi, sekarang kan banyak juga karyawan yang modal... you knowlah!" Kata Bertrand sambil mengangkat sebelah alisnya meremehkan.
"Oya? kok tau? pengalaman pak Bertrand ya?" Kata Marsha meledek. Lalu dia berdiri hendak ke kamar kecil.
"Oya?" Kata Bertrand.
"Benar, belum setahun dia bekerja di Adiwijaya."
Bertrand mengangguk-anggukan kepalanya. Padahal selama ini gadis itu terlihat kekanak-kanakan, selalu mencari masalah, dan suka Nyolot. Tapi sepertinya dia juga gadis yang cerdas. Dan jujur, gadis itu juga cantik. Bertrand bisa melihat bagaimana tim mereka terlihat menyukai Marsha dan mudah sekali berbaur. Bertrand tersenyum samar. Dia bangkit hendak ke kamar kecil.
Marsha memperhatikan penampilannya di cermin. "Masih rapi dan gak kucel." Gumamnya. Dia segera keluar dari toilet dan hendak kembali ke tempatnya tadi.
Marsha mendorong gagang pintu masuk ke ruang VIP. Tanpa dia ketahui seseorang ada di balik pintu dan hendak menarik pintu tersebut. Tapi naas,pintu lebih dulu di dorong oleh Marsha dengan cukup keras sehingga tanpa sengaja pintu menghantam seseorang di belakangnya.
"Wadoow!!!" teriak Bertrand sambil memegang keningnya. Semua yang ada di dalam kaget. Termasuk Marsha yang tak menyangka ada orang di belakang pintu.
"Eh, maaf, maaf saya gak sengaja!" Kata Marsha panik.
"Eh, pak Bertrand? maaf, beneran gak sengaja!" Kata Marsha merasa tak enak.
__ADS_1
"Kamu? bisa gak kamu gak usah selalu nyari masalah sama saya?" Kata Bertrand kesal sambil memegang keningnya.
"Sumpah, beneran gak sengaja, bukan cari gara-gara!" Kata Marsha.
"Pak Bertrand, gak pa-pa? coba saya lihat." Kata salah seorang staf Bertrand. Bertrand melepaskan tangannya yang memegang jidatnya.
"Eh, itu lebam, kita bawa ke dokter ya pak?" Kata Staf itu lagi.
"Gak perlu."kata Bertrand gusar. Kepalanya terasa cenat cenut. Dia kembali duduk ketempatnya semula sambil memegangi keningnya. Marsha kembali keluar dari ruangan tersebut. Bertrand melirik kesal.
"dasar! sudah membuat orang
cedera malah pergi gitu aja!" Gerutu Bertrand.
Tak lama Marsha kembali, dia membawa baskom kecil berisi air hangat dan sebuah handuk kecil dan meletakkannya di hadapan Bertrand.
"Sini, saya kompres dulu jidatnya!" Kata Marsha. Bertrand melirik gadis tersebut dan melihat benda yang di bawanya. Bertrand menurunkan tangannya dari keningnya dan menggeser duduknya. Marsha segera duduk di hadapan Bertrand. Dia membasahkan handuk yang dibawanya dengan air hangat dan mengompres pelan ke kening Bertrand. Bertrand merasakan perih saat kepalanya yang benjol bersentuhan dengan handuk tersebut. Dia terdengar meringis.
"Maaf, saya beneran gak sengaja." Kata Marsha lagi.
Bertrand melihat wajah di hadapannya yang terlihat merasa sangat bersalah. Bertrand diam tak merespon.
"Lagi pula ngapain sih pake acara berdiri di balik pintu? Kan mana mungkin mata saya bisa melihat nembus ke dalam." Lanjut Marsha lagi. Bertrand geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Kamu itu, kalau minta maaf bisa gak yang tulus? Gak perlu pake nyolot menambahkan kalimat pelengkap yang menyalahkan orang lain mencari pembenaran." Kata Bertrand ketus.
"Loh? Siapa yang nyolot? Kan emang benar, mata saya gak bisa lihat tembus pandang?" Kata Marsha lagi sambil menekan kuat-kuat handuk yang dipegangnya ke jidat Bertrand.
"Aww!!! Bisa pelan-pelan gak sih?" Teriak Bertrand.
"Gak bisa kalau sama orang nyebelin kayak kamu!!!, nih handuknya kompres sendiri!" Kata Marsha sambil mengambil tangan Bertrand dan meletakan handuk yang dipegangnya tersebut di telapak tangan Bertrand.
Bertrand bergumam tak jelas. Tapi Marsha mendengar gumaman itu.
"Apa? kalau ngomong yang jelas!" Kata Marsha galak membuat Bertrand terdiam. Sementara beberapa pasang mata yang ada di ruangan tersebut menatap takjub kepada dua orang yang tangah adu mulut di hadapan mereka.
__ADS_1
...***...