
Marsha membawa mobilnya menelusuri jalan. sudah 1 jam setelah jam pulang kantor ia membawa mobilnya tanpa tujuan. Sampai akhirnya ia menghentikan mobilnya di pinggir di dekat sebuah taman.
Sejak Bertrand menciumnya senja itu. Perasaan Marsha semakin kacau, Marsha masih tidak bisa memahami semua yang ia rasakan. Ia juga belum bisa menangkap semua hal yang ditunjukan Bertrand padanya. Kondisi mereka benar-benar canggung setelah itu. Bahkan saat Bertrand mengajaknya makan malam. Mereka hanya diam, walau Bertrand sempat meminta maaf karena telah lancang mencium Marsha. Tampak wajah Bertrand yang benar-benar menyesal, dan entah mengapa Marsha benar-benar gundah karenanya. Marsha bahkan berangkat kerja lebih cepat dari biasanya untuk menghindari Bertrand. Dia tidak ingin suasana hati dan fikirannya yang sedang tidak baik-baik saja semakin tidak bisa di kontrol. Karenanya Marsha berusaha untuk menghindar terlebih dahulu.
"Sudah hampir magrib, aku gak mau pulang ke apartemen, pulang ke rumah kakek juga gak mungkin, pasti akan membuat orang rumah curiga! " Marsha mendesah pelan. sepertinya malam ini ia akan menginap di hotel saja.
Marsha kembali menghidupkan mesin mobilnya. Mencari hotel terdekat dari tempatnya. Ya, ia akan menginap di hotel saja malam ini.
---___---
Ponsel Marsha kembali berbunyi, setelah ia menerima paket dari seorang kurir. Tadi, setelah sesampai di hotel, Marsha memesan beberapa pakaian secara online di butik langganannya. Marsha butuh pakaian ganti, untung saja baju untuk ia bekerja besok selalu ada yang standby di mobilnya.
Marsha meraih ponselnya yang ada di nakas. Bertrand. Marsha sempat ragu untuk menerima panggilan, tapi akhirnya ia menggeser logo hijau di ponselnya. Ia harus menginformasikan ada Bertrand bahwa ia tidak akan pulang ke apartemen malam ini, jangan sampai Bertrand khawatir dan menelpon siapapun yang berada di rumah kakek untuk menanyakan keberadaannya.
"Sha, kamu dimana?Masih di kantor atau masih ada kerjaan? kok belum pulang? mau aku jemput? " Tanya Bertrand langsung.
"Bertrand.. "
Bertrand mengernyitkan mendengar Marsha hanya menyebut namanya, sudah beberapa bulan ini, Marsha tidak pernah memanggilnya dengan panggilan nama.
"Sha?? "
"Maaf, aku gak pulang malam ini! "
"Gak pulang gimana? Kamu mau nginap di rumah kakek? kalo gitu aku nyusul yaa? "
"Bertrand, tolong, aku gak pulang ke rumah kakek. Jangan cari aku kesana, aku gak mau mereka khawatir! "
"Iya, terus kamu dimana? kamu baik-baik aja kan? kirim lokasi kamu ya, biar aku jemput! "
"Bertrand, gak perlu! aku baik-baik aja, aku cuma lagi ingin sendiri! tolong ngerti ya! "
Bertrand menghela nafasnya berat. Marsha bisa mendengar nya dengan jelas.
"Sha, kamu masih marah karena aku kemarin? "
"Aku lagi gak mau bahas! tolong kasih waktu aku sendiri. Jangan cari aku, jangan hawatir. Aku akan pulang kalo sudah tenang. Aku minta kamu bisa ngerti! "
Terdenga lagi hela nafas itu. Sebelum akhirnya Bertrand mengalah.
"Ya udah, jaga diri baik-baik, jangan telat makan, jangan telat tidur, jangan capek. Tolong cepat tenangin diri kamu dan segera pulang yaa.. " Pinta Bertrand lemah.
Marsha hanya mengangguk tanpa bisa dilihat oleh Bertrand. Sebelum panggilan itu ia putuskan.
---____---
"Marsha tadi malam gak pulang, kamu tau dia dimana?" Tanya Bertrand pada seseorang di seberang sana. Bertrand menghela nafas mendengar jawaban yang diberikan lawannya di telpon.
"Dia menghindari aku, mungkin dia marah karena aku menciumnya tanpa izin. aku sudah minta maaf. tapi sepertinya dia tidak bisa menerima. " Keluh Bertrand.
"Kamu gak salah Trand. Dia Istrimu, halal untuk mu. Tapi mungkin dia yang belum siap. Biarkan dia tenang dulu. Biarkan dia berperang dengan dirinya sendri. Kamu tinggi saja. Dia pasti pulang. Jangan mencarinya, karena dia sudah bilang kan dia baik-baik saja dan hanya ingin sendiri. Tahan diri kamu, jangan lakukan apapun yang sudah dia peringatkan. Dia pasti baik-baik saja."
---____---
Bertrand melihat mobil Marsha yang baru saja keluar dari gerbang kantor. Ditatapnya hingga kendaraan itu menghilang dari pandangannya sambil menahan egonya untuk mengikuti dan mencari tau kemana Marsha pergi dan membawanya pulang ke apartemen Mereka. Sudah 2 hari Bertrand melakukan hal ini. tepatnya saat Marsha tidak pulang ke apartemen. Bertrand akan menunggu pagi-pagi sekali untuk melihat mobil Marsha tiba di kantor, kemudian saat sore dia akan cabut lebih dulu bahkan sampai mengulang jadwal pertemuan sore dengan client demi bisa melihat mobil Marsha yang keluar dari kantor.
__ADS_1
Setelah mobil Marsha menghilang dari pandangannya, barulah Bertrand kembali menjalankan mobilnya dengan lesu pulang ke apartemen.
Sejak Marsha tidak pulang, Bertrand tidak bisa tidur nyenyak. Dia kepikiran gadis itu. Beberapa pesan yang dikirimnya sama sekali tidak berbalas. Bahkan dibaca setelah lama terkirim. Beberapa kali Bertrand mencoba menelpon, tapi tak pernah di angkat.
Bertrand merebahkan tubuhnya di sofa depan TiVi, Kepalanya terasa berat. Dia merasa lemah dan tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Bahkan makan dan tidurnya pun berantakan. Hanya satu yang saat ini Bertrand lakukan. Menatap foto Marsha yang berkali-kali ia curi dengan camera ponselnya.
---___---
Marsha menghela nafasnya. Sudah empat hari ia tidak pulang ke apartemennya. Kemarin ia melihat mobil Bertrand seperti menunggunya di seberang jalan kantor kakek nya. Tapi sudah dua hari ini, dia sama sekali tidak melihatnya. Kecewa? mungkin saja. Kemari, Marsha masih melihat ada sedikit harapan saat melihat mobil Bertrand yang telah berada di sana setiap sebelum ia datang dan pulang kerja.
Sebenarnya Marsha rindu sama suasana apartemen nya. Tapi mengingat kejadian waktu itu. Marsha kembali terluka. Marsha mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tapi dia tidak berani untuk berterus terang. Masih ada hal yang mengganjal di hati dan fikirannya.
---___---
Marsha baru saja turun dari mobilnya, saat ponselnya berdering. Mama Arini. Marsha menarik nafas dalam sebelum. Mengangkat panggilan tersebut.
"Halo ma." Sapa Marsha.
"Halo Sha, kamu apa kabar nak? "
"Marsha baik, mama apa kabar? "
"Mama juga baik, gimana kabar Bertrand nak? "
"Bertrand baik ma" Jawab Marsha
"Syukurlah kalo begitu, soalnya papa bilang Bertrand sakit, udah dua hari ini tidak bisa ke kantor. Jarang-jarang anak itu sakit. Mungkin kecapekan, karena akhir-akhir ini dia semangat bekerja, bahkan kata papa rela lembur. Tolong kamu ingatkan Bertrand jangan terlalu di forsir tenaganya ya nak, mama bisa bicara sama Bertrand, sha? Tadi mama telpon Hapenya gak aktif. "
"Bertrand sakit? " Gumam Marsha. Dia menjadi cemas. Omongan dari mama Arini tak lagi di dengarnya, Marsha kembali masuk ke mobilnya. saat akan meletakkan ponselnya barunya tersadar, mama Arini masih menelpon nya.
"Ha-halo ma, maaf tadi Marsha gak fokus. "
"Maaf ma, Marsha lagi di luar, ada perlu sebentar, nanti sampai rumah Marsha telepon mama lagi ya! " Pamit Marsha setelah mendengar jawaban di seberang Marsha segera mematikan panggilan dan segera melakukan kendaraanya menuju apartemen nya.
---___---
Marsha masuk perlahan ke dalam kamarnya dan Bertrand. Tampak Bertrand yang tertidur dengan wajah pucat dikasur yang berantakan. Marsha memandang sendu wajah itu. Diletakkannya punggung tangannya di kening Bertrand. Terasa panas. Marsha menghela nafas pelan. Dia pergi kedapur. Mengambil air dingin dan kain kompres untuk mengompres Bertrand. Di hidupkannya AC kamar, lalu diselimuti nya tubuh Bertrand hingga sebatas leher. Lalu ia kembali keluar dari kamar.
Marsha mengetik sesuatu di ponselnya. Dia mengambil sedikit beras dan memasukannya ke dalam panci, mencuci dan membuang airnya, lalu menambahkan kembali air dan meletakkan nya di atas kompor yang menyala. Marsha akan membuat bubur untuk Bertrand. Marsha mengambil beberapa sayur dan potongan daging ayam untuk campuran buburnya. setelah membersihkan daging ayam dan memotong sayuran, marsha meniriskan terlebih dahulu. Setelah itu, ia biarkan dulu hingga buburnya jadi, baru Marsha masukan potongan daging ayam dan sayurannya. Marsha mengecilkan kompor. Kemudian kembali ke kamar. Dia akan mandi terlebih dahulu sembari menunggu buburnya jadi.
---___---
Bertrand membuka matanya. Dia membuka selimut ya menutup tubuhnya. Hawa dingin langsung menyentuh tubuhnya. Dilihatnya AC kamar yang hidup. Di lihatnya sebuah baskom kecil yang entah sejak kapan ada di nakas tempat tidurnya. Bertrand meraba keningnya, di angkatnya kain kecil yang tadi digunakan untuk mengompres.
"Siapa yang datang? Marsha udah pulang? " gumam Marsha. Dia mencium aroma parfum yang tertinggal di kamar. Dia tau ini aroma Marsha. Marshanya pasti sudah kembali. Bertrand seketika berbinar. Walaupun tubuhnya lemah, dipaksanya untuk bangun. Sejenak dia merasa oleng. Tapi di tahannya. Bertrand keluar dari kamar, matanya menatap sekeliling. Dia mendengar suara peralatan masak yang beradu dari dapur, Bertrand melangkahkan kakinya kesana, pelan tanpa suara. Hatinya menghangat, yaa Marsha ada disana tengah membelakangi nya. Bertrand terus berjalan mendekat.
---___---
Marsha kembali ke dapur setelah selesai mandi. Dia menyiapkan makan malam. untuk dirinya, Marsha memesan makanan cepat saji lewat aplikasi online, yang baru saja di antar oleh kurir. Bubur untuk Bertrand sudah hampir matang, Marsha memasukan potongan sayur dan daging ayam yang sudah dipotong kecil-kecil ke dalam panci bubur. Mengaduknya hingga rata dan mencampur sedikit garam dan bubuk kaldu kedalamnya. Dengan fokus Marsha memasaknya, hingga ia tidak menyadari kehadiran Bertrand di belakangnya. Marsha terkejut saat ada sepasang tangan yang melingkar di perutnya. terasa hawa panas dari belakang tubuhnya. Marsha tau itu adalah Bertrand.
"Kapan pulang? kenapa gak bangunin! " Bisiknya lemah. Marsha berusaha melepaskan tangan Bertrand, tapi Bertrand semakin erat memeluknya. Marsha mematikan kompornya. Dia berusaha berbalik menghadap Bertrand.
"Kenapa bangun? istirahat dulu, nanti aku siapin bubur! " Kata Marsha saat berhasil menghadap Bertrand yang tidak juga melepaskan pelukannya.
Bertrand hanya menggeleng. Dia terus memeluk Marsha, meletakkan kepalanya yang masih pusing di bahu Marsha.
__ADS_1
"Aku kangen, kapan pulang? kenapa gak bangunin? " Tanyanya lagi dengan suara serak.
"Tadi kamu tidur, aku gak tega bangunin, jadi aku biarkan kamun istirahat dulu, badan kamu juga masih panas. Sekarang kamu duduk dulu. Di sofa aja biar nyaman, kita makan di sana ya. " Pujuk Marsha.
"Gak mau, aku mau peluk kamu, aku masih kangen. "
Marsha menghela nafas pelan. Berlahan dibalasnya pelukan Bertrand.
"Kamu kan lagi sakit, harus makan yang banyak, aku udah buatin bubur buat kamu, kamu makan ya, aku suapin. Aku juga udah laper, kita makan dulu, terus minum obat, biar kamu cepat sehat. Aku anter kamu ke sofa dulu. pasti kamu pusing, kepala kamu aja panas gini. Nanti makin pusing kelamaan berdiri. " Pujuk Marsha lagi. Bertrand mengangguk. Marsha melepaskan pelukannya. Bertrand pun melakukan hal yang sama. Marsha menuntun Bertrand berlahan menuju sofa.
"Bentar, aku ambil makanannya dulu. "
 Bertrand hanya menjawab dengan anggukan. Ditatapnya Marsha yang berjalan kembali menuju dapur, diperhatikannya segala aktivitas Marsha. Dari mengisi mangkok bubur, menyiapkan air minum, dan menyusunnya di nampak. Diperhatikankannya hingga Marsha kembali mendekat ke sofa. meletakkan nampan di atas meja, kemudian duduk di samping Bertrand.
"Kamu makan dulu ya, aku suapin, kalo bisa dihabisin makannya. Biar kamu cepat sehat. Lihat muka kamu pucat gini, pasti kecapean kerja kan? " kata Marsha sambil mengaduk-aduk bubur di mangkok agar cepat hangat. Diambilnya sesendok, lalu di arahkannya ke mulut Bertrand. Bertrand nerima suapan itu dengan pandangan tak lepas kepada Marsha.
Suapan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Hingga isi mangkok tersebut tandas. Marsha meletakkan mangkok itu kemeja, mengambil segelas air putih, dan meminumkannya kepada Bertrand.
"Mau tambah lagi buburnya? " Tanya Marsha. Bertrand menggeleng.
"Ya udah kalo gitu aku beresin kamar dulu, biar nanti kamu bisa istirahat lagi. Kamu tunggu sebentar lagi baru kamu minum obatnya ya." Lanjut Marsha sambil hendak berdiri. Bertrand menahan tangan Marsha. Meminta Marsha duduk kembali.
"Sebentar! " Kata Bertrand pelan. Marsha mengangguk, ia kembali duduk di samping Bertrand. Bertrand hanya diam. Kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Marsha.
"Aku mau disini, sebentar aja. " Bisik Bertrand pelan. Marsha mengangguk. Diusapnya wajah Bertrand pelan dengan tangan kirinya. Bertrand memejamkan matanya. Merasakan usapan tangan Marsha di wajah nya. Setelah beberapa menit, baru Bertrand mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ya udah kamu makan dulu, tadi katanya lapar. "
"Iya, sebentar. Aku rapiin kamar dulu, kamu gak papa kan duduk di sini sebentar? " Tanya Marsha.
Bertrand mengangguk, di rebahkannya kepalanya di sandaran sofa. Mencoba melawan rasa pusing di kepalanya. Marsha menatap Bertrand sebentar. Lalu segera membersihkan kamar.
---____---
Marsha menepuk pelan punggung tangan Bertrand. Bertrand membuka matanya. "Minum obat dulu, udah itu pindah ke kamar, tadi sprei dan selimut udah aku ganti. " Kata Marsha sambil membuka kemasan obat penurun panas. Dia mengambil gelas, menyodorkan obat tersebut ke mulut Bertrand dan memberikan minum. Bertrand menegakkan tubuhnya, dan meminum obatnya.
"Yuk, aku antar ke kamar! " Ajak Marsha.
"Kamu udah makan??"
"Belum, sebentar lagi!"
"Ya udah, kamu makan dulu, baru kita ke kamar! "
Marsha mengangguk, dia mengambil kotak makannya, dan memakan makanannya.
---___---
Bertrand baru mau pindah ke kamar, setelah memastikan Marsha sudah membereskan semuanya. Bukan tanpa alasan, Bertrand tidak mau Marsha meninggalkannya setelah ia berada di kamar dengan alasan apapun.
Sungguh, Bertrand benar-benar rindu, harinya berantakan saat di tinggal Marsha. Padahal, baru beberapa hari saja Marsha pergi, Bertrand sampai jatuh sakit. Bertrand sadar, amat sangat sadar. Dia mencintai Marsha. Marsha adalah dunianya. Bertrand selalu berusaha menunjukan rasa cintanya, yang sepertinya belum terbaca oleh Marsha.
"Kamu mau kemana?" Tanya Bertrand yang melihat Marsha hendak pergi setelah membantunya ke kamar mandi membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Aku mau bersih-bersih dulu sama ganti baju. " Jawab Marsha.
__ADS_1
Bertrand mengangguk, menunggu Marsha di tepi tempat tidur. Dia baru merebahkan diri setelah Marsha naik ketempat tidur mereka.
---____---