
"Ngapin kamu pake teriak-teriak di telinga aku?! Berisik tau!!!" Bentak Marsha.
"Emang elo gak kaget kita mau dijodohkan?" Tanya Bertrand kesal.
"Kan sudah tadi kagetnya, elo yang aneh ngapain juga sudah tau duluan malah sekarang pake kaget kaya di sambar gledek!!!" Omel Marsha.
"Tadi gue cuma bercandain elo!" Teriak Bertrand.
"Apa???" Teriak Marsha.
"Berani banget elo ngerjain gue!!" Kata Marsha kesal di pukulnya Bertrand berkali-kali. Bertrand mencoba menghindar, tapi Marsha terlalu emosional. Akhirnya Bertrand mengkekep gadis itu dengan sekuat tenaga.
"Ngapain elo peluk-peluk gue? lepaskan gakkkkk??!! Teriak Marsha.
"Kagakkkkk!!! elo gak bisa diam!!" Teriak Bertrand, Dibekapnya mulut Marsha.
"Hhmfffp!!! Hmmmpfhhh!" Kata Marsha karena mulutnya malah di bekap Bertrand. Kakek dan orang tua mereka malah senyum-senyum melihat pemandangan di depan mereka. Apa lagi Andrew. Dia bahkan harus menahan tawa melihat tingkah konyol kedua orang di hadapannya.
"Kek, tolong jangan bercanda. Tadi gak beneran kan?" Tanya Bertrand serius. Marsha diam, dag dig dug menunggu jawaban kakeknya.
"Kakek tau mana yang harus dijadikan candaan, mana yang bukan!" Jawab Hutama serius.
"Kek Wijaya, ini gak beneran kan kek?" Tanya Bertrand lagi pada Adiwijaya.
Adiwijaya tersenyum.
"Kami tak pernah main-main untuk hal serius. Kami sudah rencanakan dari lama."
Bertrand merasa lemah, di lepaskannya Marsha yang ada di pelukannya. Dia berjalan lunglai mendekati kakek dan orang tuanya.
"Kenapa kek, pa, ma?Aku sudah punya pacar, aku bisa mencari pendamping aku sendiri." Tanya Bertrand.
Sementara Marsha, dia masih berdiri di tempatnya, dia menatap kakek dan orang tuanya. Papa dan mama nya mengangguk. Marsha tau, ini bukan bercanda. Dia berbalik badan dan lari ke dalam. Andrew mengejar adiknya. Ini yang sebenarnya dia takutkan. Marsha tidak begitu saja bisa menerima hal ini.
"Sha! Marsha!!" Panggil Andrew. Dia segera mengejar adiknya masuk ke rumah. Terdengar pintu di banting dari atas. Andrew segera menyusul ke atas. Marsha pasti ada di kamarnya.
Andrew mengetuk pintu kamar, di bukanya pelan. Marsha berdiri membelakangi pintu menghadap balkon kamarnya.
"Hei, Kenapa?" Tanya Andrew sambil mengusap pelan punggung adiknya.
"Aku gak suka kakek bercanda kelewatan!" Jawab Marsha menahan isak. Suaranya terdengar serak.
__ADS_1
Andrew memeluk adiknya erat. Dia tak tau harus berkata apa. Kakek mereka sedang tidak bercanda. Dan Andrew juga tau, Marsha pasti paham jika Kakek memang sedang tidak bercanda.
Marsha menangis di sana. Andrew kali ini tak tau harus berbuat apa. Jadi dia biarkan Marsha menangis sambil terus memeluknya.
...***...
"Kek! aku gak suka terlalu di atur hingga sejauh ini." Protes Bertrand.
"Kakek cuma ingin kamu mendapatkan yang terbaik!" Kata Hutama.
"Kek, aku tau yang terbaik buat aku kek!" Kata Bertrand lagi.
"Tapi kenyataannya selalu kakek yang tau apa yang terbaik buat kamu! Ingat, jika bukan kakek yang selalu campur tangan dengan hidup kamu. Mau jadi apa kamu?" Kata Hutama tegas.
"Tapi kali ini berbeda kek! ini masalah hati yang akan aku jalani seumur hidup aku!!!" Ucap Bertrand memohon pengertian dari kakeknya.
"Terus kenapa dengan hati kamu?"
"Aku gak cinta sama Marsha, aku gak punya perasaan apa-apa sama dia." Kata Bertrand tertahan.
"Terus kamu cinta sama siapa? Cewek-cewek ganjen yang mau melakukan apa aja demi uang kamu itu?" Ucap Hutama telak.
"Marsha mungkin gak matre, karena dia punya semua, tapi dia juga bukan cewek baik-baik kek! Dia kasar dan bar-bar!!!" Kata Bertrand.
"Kakek lebih tau Marsha dari kamu, kakek mengenal gadis itu, dia gadis baik, gak pernah neko-neko. Dan dia selalu di jaga dan di awasi oleh kakak nya." Kata Hutama tegas.
"Tapi kek.." Kata Bertrand terputus.
"Gak ada tapi-tapi! Kamu memilih mengikuti kakek, atau semua fasilitas kamu benar-benar kakek tarik, dan silahkan ke luar dari rumah ini dan juga perusahaan kakek!" Ancam Hutama. Bertrand terdiam.
Dia mengepalkan kedua tangannya. Dan segera keluar dari ruang kerja kakeknya.
...***...
"Apa kakak tau ini sebelumnya?" Tanya Marsha saat dia berhasil menenangk dirinya sendiri. Andrew mengangguk.
"Kenapa kakak gak pernah cerita?" Tanya Marsha.
"Kakak gak tau gimana cara ngasih taunya." Jawab Andrew pelan.
"Apa ini salah satu alasan kakak kenapa aku gak boleh dekat sama cowok dan hanya fokus kerja?" Tanya Marsha lagi.
__ADS_1
Andrew mengagguk lagi.
"Kenapa kakek harus sejauh ini mengatur hidup aku kak?" Tanya Marsha.
"Kakak yakin kakek cuma ingin yang terbaik buat kamu, walaupun sebenarnya kakak gak setuju sama ide kakek." Jawab Marsha.
"Aku harus gimana kak? aku gak ada perasaan apapun sama Bertrand. Dan kakak lihat sendiri aku dan Bertrand seperti apa?" ucap Marsha lirih.
Andrew mengusap pelan kepala Marsha. Tidak tahu harus menjawab seperti apa.
...***...
"Bertrand!" Panggil mamanya sambil membuka pintu kamar Bertrand.
"Masuk ma!" Jawab Bertrand.
"Kamu gak pa-pa kan?" Tanya Mama Bertrand sambil membelai kepala anak lelaki semata wayangnya itu.
"Aku bener-bener gak tau ma!" Jawab Bertrand.
"Nak, cobalah untuk mengenal Marsha terlebih dahulu. Dia gadis yang baik, mama sangat menyukai nya. Mungkin awalnya berat untuk kamu dan Marsha. Tapi mama yakin, seiring berjalannya waktu, akan banyak hal yang membuat kamu menyukainya. Marsha tak hanya cantik, dia juga baik, berpendidikan, dari keluarga terpandang. Dia akan menjadi menantu sempurna di rumah ini. Juga pendamping yang baik untuk kamu."
Bertrand hanya diam.
"Iya, mama tau, kamu terlalu jauh mengatur kamu, tapi kami hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik. Jujur, awalnya mama juga gak setuju dengan rencana kakek. Tapi setelah mama bertemu Marsha, dan mengenal gadis itu. Mama benar-benar sangat menyukainya. Coba kamu ingat nak, kapan kami melakukan hal yang salah yang membuat kamu kecewa?" Tanya mama Bertrand lembut.
Bertrand diam. Segala hal terbaik dia dapatkan. dari keluarganya. Semua permintaannya selalu di penuhi, bahkan. sebelum sempat dia mengatakannya. Bertrand menarik nafas pelan.
"Kamu fikir kan lagi keinginan kakek ya, sekali ini aja, mama minta sama kamu." Kata Mama Bertrand. Dia beranjak dari duduknya. Dan meninggalkan Bertrand sendiri di kamarnya.
...***...
"Marsha, kamu adalah satu-satunya cucu perempuan dan anak perempuan di keluarga ini. Kamu tau, kami semua sangat menyayangi kamu. Kami selalu berusaha dan menjaga kamu dengan baik. Bahkan untuk jodoh kamu, kakek pun sudah menyiapkan yang terbaik. Kakek tau, kamu marah dan kecewa dengan kakek, mungkin kamu juga menganggap kakek lancang karena terlalu jauh mengurus kehidupan kamu. Tapi percayalah, kakek hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Tapi, kalau kamu keberatan, Kakek mohon, anggap ini permintaan terakhir dari kakek. Apa kamu mau menolak permintaan dari orang tua ini nak?" Tanya Kakek Adiwijaya dengan lembut. Adiwijaya tau, Marsha anak yang sangat patuh. Dia tak akan sanggup menolaknya.
Marsha tau, kasih sayang keluarga nya begitu besar untuknya. Apa lagi kakek, yang selama ini selalu memenuhi keinginannya. Dan saat ini kakeknya yang meminta darinya, untuk pertama kali seumur hidupnya. Marsha bimbang. Dia tak menyukai Bertrand, dan dia tak ingin ada pernikahan untuk saat ini. Tapi melihat wajah tua kakeknya, Marsha juga tak berdaya. Dia menghela nafas berat.
"Kek, kasih Marsha waktu." Pinta Marsha.
Adiwijaya mengangguk. Dia tersenyum menatap cucu kesayangannya. Dia ancamnya pelan puncak kepala Marsha, baru dia beranjak, keluar dari kamar cucu kesayangannya.
...***...
__ADS_1