
"Supir kakek sudah menunggu dibawah, tolong jangan bertingkah disana, gue harap kita bisa gencatan senjata sementara waktu!" Ucap Marsha tanpa menoleh terhadap Bertrand dan hanya di respon dengan "hmm" oleh Bertrand yang sedang fokus dengan ponselnya di sofa depan tv luar.
Marsha masuk ke kamar, mengambil tas dan ponselnya. Mengecek penampilan di cermin, lalu kembali keluar. Dilihatnya Bertrand masih berada di sofa belum bergerak dari tempatnya.
"Gue tunggu di bawah!" Ucap Marsha saat akan melalui Bertrand.
"Tunggu, kita turun sama-sama. Gue ganti baju sebentar. Elo gak mau kan kalo supir kakek elo membuat laporan yang gak enak? begitu keluar dari apartemen kita harus berakting, agar tidak mencurigakan." ujar Bertrand sambil bangkit dari sofa, lalu masuk ke kamar.sementara Marsha menunggu di depan pintu.
***
Supir segera membuka pintu saat dilihatnya tuan dan nona mudanya keluar dari lobi apartemen. Bertrand dan Marsha sama-sama melempar senyum. Sepanjang perjalanan Bertrand merangkul Marsha santai, sementara Marsha sebenarnya merasa risih, namun dia harus menahan diri untuk tidak menepis lengan Bertrand yang seenaknya menempel di bahunya.
Bahkan sampai tiba di rumah kakekpun, Bertrand tak henti merangkulnya. Andrew sampai bersiul usil meledek Marsha yang tiba-tiba begitu lengket pada Bertrand.Marsha menyikut pelan Bertrand, tapi lelaki itu seolah-olah tidak peduli.
"Drama sih drama, tapi gak gini terus-terusan!" gerutu Marsha di dalam hati.
"Bertrand, Marsha, Kakek punya sesuatu buat kalian!" Kata Adiwijaya seraya menyodorkan sebuah amplop kepada Marsha dan Bertrand saat mereka telah selesai makan siang.
"Apa ini kek?" Tanya Marsha seraya mengambil amplop yang disodorkan oleh kakeknya.
"Silahkan kalian buka dan lihat isinya!" Kata kakek.
__ADS_1
Perlahan Marsha membuka amplop tersebut diikuti dengan lirikan penasaran dari Bertrand yang ingin mengetahui apa isi amplop yg diberikan oleh kakek. Brosur dan voucher perjalanan keliling Eropa.
"Ini maksudnya apa kek?" Tanya Marsha bingung.
"Itu tiket bulan madu kalian, Kakek ingin segera menimang cicit, jadi kalian harus segera dan berusaha untuk itu!" Jawab Adiwijaya singkat.
"Apa???? cicit???" Teriak Marsha tertahan. Sementara Bertrand juga kaget, tapi tidak sampai berteriak.
"Iya, cicit, kenapa kaget? Kalian kan sudah menikah, wajar kakek ingin menggendong cicit, Kakek rindu suara anak kecil lagi di rumah ini. Kalau bukan kamu sama siapa kakek minta cicit? Andrew kan belum menikah." Ujar Adiwijaya.
"Tapi kan kek, kita berdua belum mikir kearah sana, kita masih punya tanggung jawab dengan pekerjaan masing-masing." Ucap Marsha berusaha mencari alasan. Dia melirik Bertrand. Berharap Bertrand mau membantunya mencari alasan.
"Iya kek, kakek tenang aja kita akan usaha kasih kakek cicit kok!" Ucap Bertrand. Membuat Marsha terkejut mendengar ucapan Bertrand.
"Nah, tuh Bertrand aja setuju!!!" Ucap Kakek senang. Sementara Marsha justru gemes mendengar ucapan Bertrand yang malah berjanji memberikan kakek cicit di pernikahan kertas mereka. Pengen banget tuh rasanya Marsha menyumpal mulut Bertrand dengan semua makanan yang ada di meja. Bisa-bisanya dia mengiyakan keinginan kakek di dalam pernikahan kertas mereka. Gimana caranya coba mau ngasih kakek cicit? dumel Marsha di dalam hati.
"Iya kek, aku setuju, hanya saja waktunya mungkin gak sekarang, aku kan Sama Marsha baru menikah kemarin, semua juga dadakan. Aku dan Marsha sama-sama masih punya tanggung jawab yang harus diselesaikan di kantor. Apa lagi ini sudah memasuki triwulan terakhir menuju penghujung tahun. Banyak yang harus di gesa kek. Nanti setelah semua beres.Baru kami pikirkan dan rencanakan semuanya. Iya kan sayang??!" Ucap Bertrand sambil menatap Marsha lembut sambil mengacak pelan rambut gadis itu. Membuat Marsha canggung di hadapan kakeknya.
Kakek manggut-manggut mendengar penjelasan Bertrand, dan tersenyum melihat sikap Bertrand terhadap Marsha.
"Baiklah, kakek percayakan sama kalian, tapi tolong jangan lama-lama, kakek sudah tidak sabar!" Ucap Adiwijaya sambil terkekeh senang.
__ADS_1
Sementara Bertrand merespon dengan senyum, dan Marsha menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah kakek mau mendengar penjelasan Bertrand, Jadi kakek gak bersikeras memaksa pasangan pengantin kertas ini buat bulan madu segala!! Paling tidak sampai sampai akhir tahun ini berakhir." lirih Marsha di dalam hati.
***
"Makasih, sudah membuat kakek mengerti, paling tidak, kakek tidak akan memaksakan hal yang tidak-tidak sampai akhir tahun ini!" Ucap Marsha kepada Bertrand saat mereka sudah tiba di apartemen.
Sementara Bertrand hanya diam tak menanggapi. Dengan cueknya dia berlalu begitu saja dari hadapan Marsha masuk ke kamar. Marsha yang dari tadi sudah menahan gemes dengan sikap Bertrand akhirnya tidak dapat menahan lagi.
"Awwww!!!! Apa-apaan sih Sha?!ngapain elo tarik kuping gue!! sakit tau!!" Jerit Bertrand sambil mengusap-usap kupingnya yang tiba-tiba di tarik Marsha.
"Salah sendiri!!!siapa suruh elo budeg!! gue ngomong malah ditinggal gitu aja!!!" Kesal Marsha dengan wajah cemberut.
"Ooh, jadi elo ngomong sama gue?"Tanya Bertrand sambil melipat tangan ke dada menghadap Marsha.
"Ya iyalah, kalo bukan sama elo sama siapa lagi? sama hantu? emang ada orang lain selain kita disini???"
"Ya udah elo mau ngomong apa? Gue dengerin!!" Kata Bertrand sambil mengacak rambut Marsha.
"Iih, ngapain tangan lo pake megang-megang kepala gue!! Gue udah males ngomong sama elo!" Ucap Marsha sebel sambil menepis tangan Bertrand yang berada di kepalanya dan berlalu dari hadapan Bertrand. Membuat Bertrand menyeringai dengan tingkah istri di atas kertasnya itu.
__ADS_1