
"Nih!" Kata Marsha sambil menaruh sebuah bungkusan di hadapan Andrew yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Apa?"
"Makanan kesukaan kakak!" Kata Marsha sambil duduk di samping kakaknya.
Andrew segera membuka bungkusan tersebut, mengambil satu kotak dan membukanya.
"Waw, pas banget!! Beli dimana?" Tanya Andrew.
"Cafe di swalayan depan sana!" Jawab Marsha.
"Kok lama baru balik? tadi katanya belanja sebentar." Tanya Andrew.
"Ketemu Mario tadi, terus dia ngajak nongkrong di cafe, ya udah sekalian makan juga tadi!"
"Jadi ini yang beliin siapa?"
"Aku yang beli kok, pake duit ku!" Kata Marsha jutek.
"Siapa tau ini sogokan Mario itu, ini Mario teman kantor kamu kan?" Tanya Andrew.
"Iyaaa, dia doang teman ku yang namanya Mario!"
"Kok bisa ketemu dia?"
"Gak sengaja ketemu di swalayan. Udah deh jangan banyak curiga, aku gak janjian sama dia, benar-benar gak sengaja ketemu!!" Kata Marsha sambil bangkit dari duduknya.
"Eh, mau kemana?" Tanya Andrew sambil menahan tangan adiknya.
"Ke kamar, malas di interogasi kakak yang gak-gak!" Kata Marsha sambil berusaha menarik tangannya, tapi Andrew malah menahannya lebih kencang.
"Hehe!! Iya maaf, udah duduk sini, temani kakak makan!" Kata Andrew sambil menarik tangan adiknya agar kembali duduk. Marsha menurut dengan wajah cemberut. Andrew melanjutkan makannya.
"Mau cicip gak?" Tanya Andrew sambil menyodorkan sendok ke mulut Marsha.
"Gak, aku masih kenyang, udah makan tadi." Jawab Marsha.
Andrew mengangguk, dia melanjutkan makannya sampai tak bersisa.
Setelah itu dia melihat ke adiknya yang masih pasang muka cemberut.
"Udah, jangan pasang muka kaya gitu, jelek!!! itu pipi jadi makin tembem!" Kata Andrew sambil membelai kepala adik perempuan satu-satunya itu dengan sayang.
Marsha hanya diam, dia menyandarkan punggung dan kepalanya di sofa.
"Yang lain mana kak?" Tanya Marsha saat dirasanya rumah begitu sepi.
"Sedang makan siang di rumah teman kakek!" Kata Andrew.
"Oowh!" Jawab Marsha pendek.
"Mario orangnya gimana?" Tanya Andrew.
__ADS_1
"Sejauh ini aku lihat dia baik kok. kenapa?"
"Dia sering tanya-tanya tentang kamu, nyari info tentang kamu?"
"Ya biasalah, nanya tinggal dimana, keluarga siapa, yang umum biasa orang tanya."
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku gak ada jawab apa-apa. seperti pesan semua orang di rumah selama ini!"
"Apa Mario suka sama kamu?"
Marsha mengernyit.
"Apa sih kak? Aku sama dia cuma rekan kerja, dan sekarang ya temenan kok. Ketemu juga jarang banget."
"Kakak cuma nanya, Sha. Kakak gak melarang kamu dekat sama siapapun. Tapi untuk saat ini, fokus dulu sama kerjaan ya, karena kamu masih harus banyak belajar!" Kata Andrew.
"Iya, tau! pokoknya aku bakal fokus sama kerjaan, gak bakal mikirin yang lain-lain dulu!"
"Good!" Kata Andrew. Sambil mengelus pelan puncak kepala adik kesayangannya.
"Aah, kakak khawatir kamu jatuh cinta sama Mario, Sha! Sementara kakek sudah menentukan jodoh untuk kamu. Kakak takut kamu kecewa dan patah hati!" Keluh Andrew dalam hati. Tanpa sadar dia merengkuh tubuh Marsha, diciumnya puncak kepala gadis itu. Marsha jadi merasa aneh dengan sikap Andrew.
"Kakak kenapa sih?" Tanya Marsha tanpa berniat menghindar dari pelukan Andrew. Dipeluk Andrew itu hangat, apalagi Andrew selalu wangi. Marsha selalu betah berada di dekat kakak kesayangannya itu. Dia selalu merasa nyaman dan aman jika di dekat Andrew. Dari dulu dia memang sangat dekat dengan Andrew, menghabiskan waktu bersama saudara satu-satunya yang dia miliki. Bahkan Marsha ingat, sangking akrab dan kompaknya mereka, banyak yang mengira Andrew dan Marsha pasangan kekasih. Padahal mereka saudara kandung.
"Gak kenapa-napa. Emang gak boleh meluk kamu?" Tanya Andrew.
"Bukan gitu, biasa kalau kakak kaya gini itu pasti ada sesuatu yang kakak simpan dari aku!" Kata Marsha.
"Yakin?"
"Iyaakkk."
"Ya udah deh, aku mau ke atas dulu, pengen tidur sebentar." Kata Marsha sambil melepaskan pelukan kakaknya. Dia segera bangkit dan melangkah naik ke tangga menuju kamarnya di lantai atas.
...***...
"Kek, apa kakek yakin dengan rencana kakek menjodohkan Marsha?" Tanya Andrew pelan saat ia, mama dan papanya tengah berada di halaman belakang. Marsha masih berada dikamarnya. Mungkin masih tidur.
"Memang kenapa?" Tanya Adiwijaya.
"Gimana kalau Marsha menolak?"
"Dia gak akan bisa membantah kakek."
"Tapi gimana dengan perasaan Marsha, Kek?"
"Dia pasti baik-baik saja, toh kakek menjodohkan dia dengan lelaki baik-baik dan dari keluarga baik-baik seperti kita." Kata Kakek.
"Kamu tenang saja, Ndrew, Bertrand lelaki baik dan bertanggung jawab. Kami sudah bertemu dengannya tadi." Kata Papa Bertrand menyela. Mama nya hanya diam, dia sebenarnya punya kecemasan yang sama dengan Andrew, tapi Dia tau, setiap ucapan Adiwijaya adalah perintah yang tak boleh di bantah.
"Aku hanya khawatir sama Marsha pa, aku gak bisa bayangin apa yang terjadi saat dia tahu hal ini." Keluh Andrew.
__ADS_1
"Kamu jangan cerita dulu. Kakek tau kamu sangat sayang sekali sama adikmu itu, tapi kamu juga harus tahu, kakek juga sangat menyayangi Marsha, dan ingin yang terbaik untuknya."
Andrew menarik nafas berat dan mnghembuskannya kasar.
Adiwijaya bangkit dari duduknya. Ditepuknya pundak Andrew pelan, lalu dia segera berlalu masuk ke dalam rumah. Reynald mengikuti Adiwijaya. Hanya tinggal Andrew dan mamanya yang berada di sana.
"Mama juga sama khawatir dengan kamu, tapi kamu tau kan gimana kakek?" Ucap Karisma pelan, mama Andrew dan Marsha.
Andrew mengangguk.
"Ndrew, apa Marsha pernah cerita sama kamu, apa dia saat ini punya pacar, atau teman dekat lawan jenis?" Tanya mamanya lagi.
"Marsha bilang gak ada ma, tapi aku lihat dia punya teman dekat cowok di kantor. " Kata Andrew pelan.
"Kamu ngomong apa sama Marsha?" Tanya mama Andrew.
"Aku cuma bilang Marsha harus fokus ke perusahaan dulu, dia harus banyak belajar. Sejauh ini dia nurut sih ma, tapi gak tau nanti. Masalahnya, ini menyangkut perasaan Marsha ma.." Kata Andrew.
"Mama minta tolong sama kamu, jaga adik kamu, pantau dia terus ya nak!" Kata mamanya lagi sambil meraih tangan anak lelakinya itu dan mengusapnya pelan.
"Iya ma, aku pasti akan jaga Marsha, ma." Janji Andrew sambil menyandarkan kepalanya ke bahu mamanya.
"Iih, tumben banget manja-manja, kenapa ma? ni anak ada maunya ya??" Kata Marsha yang tiba-tiba muncul di halaman belakang.
"Syirik banget, emangnya kamu yang baik pas ada maunya doang?" Kata Andrew tak mau kalah.
"Ih, kaya kakak enggak gitu aja!"
"Tanya mama, kakak itu dari dulu anak manis yang selalu nurut sama mama, selalu baik, bukan baik pas ada maunya, iya kan ma?" Kata Andrew sambil mencium pipi mama nya.
"Iya, anak mama semua anak manis! Janji sama mama kalian akan terus akur dan saling sayang ya nak!" Kata mama nya sambil merangkul Andrew dan Marsha yang mengapitnya di kiri dan kanan. Di ciumnya kening kedua anak kesayangannya.
Marsha dan Andrew memeluk dan mencium mama nya bersamaan. Membuat wanita itu tegelak bahagia berada di tengah anak-anaknya yang dia sayangi.
"Di dalam kok sepi ma? papa dan kakek mana?" Tanya Marsha.
"Lagi di ruang kerja, tadi juga barusan dari sini. Kamu kenapa nak baru bangun jam segini?" Tanya Mama Karisma.
"Ngantuk banget ma, capek banget akhir-akhir ini. Mana besok mau jalani proyek baru sama kliennya Andrew yang nyebelin." Omel Marsha.
Mama dan Andrew tertawa mendengarnya.
"Namanya tingkah orang beda-beda nak, kamu harus sabar dalam menghadapi beragam tingkah dan watak klien juga partner kerja kamu."
"Iya ma, aku tau kok!" Kata Marsha.
"Eh, tadi makasih ya makanan buat mama, sudah mama makan, tapi papa sama kakek protes, karena gak pernah dibawain apa-apa!" Kaya Mama nya sambil tertawa.
"Kakek sama papa beda selera, kalau mau beli sendiri aja!" Gelak Marsha.
"Kedengaran papa dan kakek kena cabut loh jatah bulanan kamu!" Kata Andrew. Dan mereka tertawa bersama.
...***...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca novel iniπππ
klik suka dan vote untuk dukung author yaππ