
Waktu terus berlalu, setelah kerja keras semua tim, akhirnya produk kolaborasi milik Adiwijaya dan Wisnu Hutama Akhirnya resmi dipasarkan. Antusias Konsumen di luar dugaan. Produk yang mereka keluarkan di buru dan sangat diminati oleh Masyarakat. Semua Tim bersuka cita atas kerja keras mereka. Minggu pertama saja mereka sudah meraup keuntungan yang fantastis dan keuntungan mereka semakin meningkat dari hari ke hari. Hal ini tentu saja membuat Adiwijaya dan Hutama bangga dengan cucu mereka yang bekerja begitu keras menunjukan prestasi mereka. Dan itu juga yang membuat mereka semakin yakin untuk menyatukan cucu mereka dalam pernikahan, hal ini tidak hanya menguntungkan perusahaan, tapi membuat hubungan keluarga mereka menjadi lebih erat.
"Aku jadi tidak sabar untuk segera memberitahukan ke cucu kita tentang rencana ini." Kata Adiwijaya. Saat dia berkunjung ke perusahaan Hutama.
"Jangan terburu-buru Wijaya, kita jalankan saja sesuai rencana awal. Kita lihat sejauh mana hubungan mereka." Kata Hutama.
"Kamu lihat sendiri, mereka seperti tikus dan kucing, tiap kali ketemu ada saja yang menjadi permasalahan. Kita tidak bisa menunggu mereka, tapi kita yang harus bertindak cepat."
"Ya sudah, bagaimana baiknya saja, tapi kau harus pastikan jika Marsha akan menjadi menantu dalam keluarga kami." Kata Hutama tegas.
"Tenang saja, Aku tau pasti cucuku seperti apa, dia pasti akan me menuruti keinginan ku. Tapi aku mau kau juga pastikan Bertrand akan setuju dengan rencana ini." Kata Adiwijaya tak kalah tegas.
"Aku yakin, Bertrand tak akan pernah menolak semua perintah ku!" Jawab Hutama. Dan mereka tertawa bersamaan.
...***...
"Alhamdulillah, Produk kita di terima pasar dengan baik, dan ini benar-benar di luar target kita sendiri!" Kata Bertrand, saat dia dan tim yang terlibat dalam kerjasama melahirkan produk kolaborasi dua perusahaan besar di pasaran mengevaluasi perkembangan penjualan selama satu bulan terakhir di kantor Bertrand.
"Benar. Ini berkat kejelian pak Bertrand dalam membuka peluang kerjasama ini, dan di tambah ide-ide kreatif dari anggota lain terutama mbak Marsha dalam mempromosikan dan memasarkan produk kita." Kata Ardi yang diamini oleh anggota yang lain.
Yah, terlepas dari kekesalan Bertrand terhadap gadis ini, dia mengakui, Marsha memang cerdas dan selalu memiliki ide yang unik dan kreatif di kepalanya. Dan berkat campur tangan gadis itu juga, ide kerja sama mereka terealisasi dengan sangat baik.
Marsha tersenyum mendengar semua omongan rekan-rekannya.
"Dan ide-ide itu juga tidak akan dapat terlaksana tanpa di dukung tim hebat yang selalu semangat dan bekerja keras mewujudkan semua rancangan yang telah kita atur." Kata Marsha membuat semangat mereka semakin besar.
"Saat ini kita berada di atas titik tertinggi euforia konsumen terhadap produk yang kita jual.Dan ini di luar dari ekspektasi kita. Tugas kita adalah menjaga bagaimana produk ini dapat bertahan lama di pasaran, sesuai angka target penjualan kita secara berkelanjutan." Kata Marsha lagi.
"Untuk itu, kita masih harus terus menggali ide bagaimana langkah kita selanjutnya agar produk ini tetap eksis dan selalu dicari konsumen." Lanjutnya.
Semua bersemangat dalam meneruskan kerja sama mereka. Bekerjasama menunjukan dedikasi dan loyalitas mereka terhadap kerjasama tim demi kemajuan perusahaan tempat dimana mereka mencari rezeki.
...***...
Masih di kantor Bertrand, Marsha tengah menerima panggilan di ponselnya. Dia terlihat berbicara serius tanpa memperhatikan keadaan di sekitarnya. Marsha bersandar di sebuah tembok di lorong gedung yang ada di depan ruangan Bertrand dengan menghadap ke jendela luar gedung.
Dia bahkan tidak menyadari saat Bertrand ada di belakangnya, lelaki itu berdiri dengan satu tangannya menahan tembok, dan satu tangannya yang lain di masukan ke saku celananya. Selesai menerima panggilan, Marsha berbalik badan hendak kembali ke ruangan dimana ia dan partner kerjanya berkumpul. Marsha kaget, tubuhnya tersentak saat tiba-tiba Bertrand sudah berdiri di hadapannya.
"Ngapain kamu di belakang aku? nguling ya?" Tuduh Marsha.
"Terus kalau gak nguping ngapain kamu tiba-tiba sudah ada di belakang aku?"
"Ini kantor aku, suka-suka aku dong berada di mana!" Kata Bertrand sambil menantang Marsha. Dia merubah posisi berdirinya dengan berdiri tegak di tengah lorong dan tangan terlipat di depan dadanya.
"Dasar, cowok sombong! sok bossy! sok arrogant! males gue berdebat sama elo!" Kata Marsha sambil berjalan maju berusaha melewati Bertrand, Dia sengaja menabrakan bahunya ke tubuh Bertrand, tapi Marsha saleh, tubuh Bertrand terlalu kuat dan kokoh, bukan ya berhasil melewati Bertrand, Marsha malah terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh. Dengan sigap Bertrand segera menangkap tubuh gadis itu sebelum terjatuh, di raihnya tangan dan pinggang Marsha, di tahannya dengan tubuhnya agar gadis itu tetap berdiri. Dan itu membuat posisi tubuh mereka semakin dekat. Bertrand menahan nafas menatap wajah gadis yang ada di hadapannya, wajahnya cantik, tapi tak menghilangkan karakternya yang keras kepala dan manja. Sementara Marsha terdiam beberapa saat lamanya. Matanya membulat, tak menyangka Bertrand akan menolongnya. Bertrand tersenyum melihat ekspresi Marsha.
"Ada satu hal lagi yang kurang, Aku ini sangat romantis." Bisik Bertrand di telinga Marsha.
Marsha tersadar. Dia segera melepaskan diri dari Bertrand dan menendang betis lelaki itu sekuat tenaga dengan sepatu kets yang ia kenakan.
__ADS_1
"Dasar cowok aneh!!" Katanya segera berlalu dari hadapan Bertrand saat dilihatnya lelaki itu kesakitan.
"Aww! sakit tau! Bar-bar banget elu jadi cewek!" Teriak Bertrand sambil memegang kakinya dan merasakan senut-senut di tulang betisnya.
...***...
"Kaki elo kenapa, Bro?" Bisik Ardi saat dilihatnya Bertrand berjalan sedikit pincang.
"Habis dicium orang gila!" Jawab Bertrand asal.
Marsha melotot mendengar ucapan Bertrand. Ardi terkekeh mendengarnya.
"Ada-ada aja elo!" Katanya sambil geleng-geleng kepala.
"Gimana? udah beres?" Tanya Bertrand. Ardi mengangguk, dia memperlihatkan layar laptopnya kepada Bertrand. Bertrand melihat layar tersebut dengan teliti.
"Fix Ya? Coba elo bacakan ulang!" Perintah Bertrand. Ardi membacakan poin evaluasi yang sudah mereka bahas.
"Jadi, Fix ya? ada tambahan?" Tanya Bertrand.
Semua tim mengangguk setuju.
"Fix, cocok dengan apa yang sudah kita bahas". Kata salah satu karyawan dari perusahaan Adiwijaya.
"Oke, kalau begitu evaluasi kita hari ini selesai. Semoga selanjutnya semua tetap bisa berjalan dengan baik." Ucap Bertrand dan menutup meeting mereka.
Semua bangkit dari duduknya. Kembali melanjutkan pekerjaan mereka selanjutnya yang sudah menunggu.
"Di, elo mau kemana?" Tanya Bertrand.
Ardi memberi kode dengan tangannya. Bertrand mendengus kesal.
"Sha, habis ini mau kemana?" Tanya Ardi.
"Mau balik ke kantor, Kenapa?"
"Ngopi dulu yuk, sambil makan siang, nanti aku antar deh kamu balik ke kantor."
Marsha melihat jam di tangannya. Sudah dekat jam makan siang.
"Boleh. Dimana?" Tanya Marsha.
"Cafe yang dekat sama kantor kamu aja, jadi nanti kamu gak buru-buru."
"Boleh, yuk!" Kata Marsha.
Mereka segera masuk ke dalam lift, dan turun ke lantai dasar. Saat pintu lift terbuka berbarengan dengan lift yang ada di sebelahnya.
"Di, elo mau kemana? Temani gue makan siang!" Kata Bertrand yang keluar dari lift di sebelah.
__ADS_1
"Gue ada urusan sama Marsha. Elo makan siang sama yang lain!" Kata Ardi.
"Gue Boss elo, kok elo yang ngatur?" Kata Bertrand judes.
"Udah ah, gue pergi dulu!" Kata Ardi sambil mengejar Marsha yang berjalan di depannya.
"Sialan Ardi, dia malah dekatin si bar-bar itu!" Gerutu Bertrand.
...***...
"Aku boleh tanya sesuatu enggak?" Tanya Ardi.
"Tanya aja!" Jawab Marsha saat mereka tengah makan di sebuah cafe.
"Kamu sama Bertrand saling kenal?" Tanya Ardi. Marsha menggeleng.
"Tapi waktu itu kok Bertrand kaget saat lihat kamu, dan beberapa kali kalian terlihat seperti orang musuhan."
"Hmm, sebenarnya beberapa kali gak sengaja ketemu dia, dan ada sedikit accident yang membuat kita tuh ribut. Sebenarnya cuma masalah sepele, tapi bos kamu itu selalu gede-gedein masalah dan kaya sengaja. Gayanya selalu sok bossy dan arrogant gitu. Bahkan nih, sama cewek pun dia gak mau ngalah!" Kata Marsha sambil menyuap makanannya.
"Oya? Kok dia gak pernah cerita ya? Dan lucunya bukan sekali, tapi berkali-kali. Tapi Bertrand mah emang gitu, sok berkuasa dan sedikit arrogant." Kata Ardi membenarkan.
"Bukan sedikit, tapi emang Arrogant!" Ralat Marsha. Ardi tertawa.
"Tapi dia sebenarnya baik kok, dan sensitif. Mungkin ketemu kamu dia jadi begitu."
"Kok aku?" Tanya Marsha. Ardi mengangkat bahunya. Sesekali Ardi mencuri pandang ke arah Marsha.
"Ni cewek, walau penampilannya sederhana kelihatan banget kok dia bukan orang sembarangan. Dia cantik, pintar, dan penampilannya juga rapi. Pakaiannya walaupun sederhana tapi terlihat berkelas. Kok Bertrand bisa gak ngeh ya?" Batin Ardi.
"Hei, kenapa lihatin aku kaya gitu?" Tanya Marsha.
"Gak, aku cuma sedikit familiar dengan wajah kamu sebelumnya, kayak pernah lihat, tapi lupa kapan dan dimana!" Jawab Ardi.
"Ooh!" Jawab Marsha tanpa berniat membahasnya.
"Kamu sudah selesai? Aku antar ke kantor sekarang?" Tanya Ardi.
"Boleh!" Jawab Marsha.
"Oke, Aku bayar dulu!" Kata Ardi sambil bangkit menuju kasir. Marsha mengikutinya. Setelah itu Ardi langsung mengantar Marsha ke gedung tempat dia bekerja.
"Oya, kapan-kapan kita hangout yuk, kira-kira ada yang marah gak?" Tanya Ardi.
"Boleh juga! Aku masuk sekarang ya, Thanks makan siang plus di anter pula." Kata Marsha.
"No worry! Aku balik dulu ya. Bye!" Kata Ardi sambil melambaikan tangannya.
Marsha tersenyum. Dia segera masuk ke kantornya. Setelah Mobil Ardi berlalu, tak lama sebuah mobil lain pun segera mengikuti.
__ADS_1
...***...