When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Mencoba berteman


__ADS_3

Suasana diantara mereka terasa hening karena tidak ada yang berbicara. Bertrand menunggu jawaban dari Marsha.


"Apa kita harus jujur?" Tanya Marsha ragu.


"Kamu yakin kamu siap dengan semua kemungkinannya?" Tanya Bertrand


"Kemungkinan?"


"Ya! semua yang mungkin terjadi kalau kamu jujur!"


Marsha diam sejenak sebelum kembali menjawab.


"Kakek pasti akan marah. Tapi kakek gak akan marah lama!"


Bertrand tersenyum miris. Dia menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Marsha.

__ADS_1


"Sha, Aku rasa kakek gak akan marah. Tapi beliau akan sangat kecewa, Sha. Aku khawatir, saat kakek kecewa, beliau menahan marahnya, tapi memendam sesuatu yang menyakitkan di hatinya. Itu akan berbahaya Sha. Aku justru takut akan berdampak buruk bagi kesehatan Kakek kita."


"Terus kita harus gimana?" Tanya Marsha lirih.


"Tidak ada cara lain, Sha! Satu-satunya cara kita adalah tetap melanjutkan pernikahan ini, suka atau tidak, kita ikuti saja alurnya dahulu." Jawab Bertrand lagi.


"Dan mulai sekarang, tak ada salahnya kita mencoba untuk berteman dulu sembari memikirkan langkah kita nantinya. Karena bagaimanapun, kita harus bisa bekerjasama dengan baik untuk melewati ini." Lanjut Bertrand lagi.


Marsha menghela nafasnya. Ya, tak ada cara lain selain melanjutkan pernikahan ini. Mencoba berdamai dengan Bertrand juga me jadi salah satu cara agar segalanya bisa lebih mudah untuk dilalui. Mungkin tidak akan terasa seberat ini, jika pernikahan tersebut dijalani oleh dua orang yang saling sayang. Tidak seperti dirinya dan Bertrand yang merasa terjerat disini. Karena ini bukanlah pernikahan yang diinginkan keduanya. Tapi bisa saja akan berbeda ceritanya jika satu saja diantara mereka ada yang mengalah untuk membuka hati terlebih dahulu.


***


"Gue berfikir untuk kita bisa berteman, bagaimanapun gak akan mudah melewati ini jika kita masih seperti musuh bebuyutan." Kata Marsha memulai pembicaraannya lagi Itu dengan Bertrand.


"Oke, gue setuju. Karena ribut pun gak akan merubah keadaan. Semoga saja kita bisa menjadi partner yang baik dalam melewati ini." Jawab Bertrand lagi sambil mengulurkan tangannya. Marsha menerima uluran tangan Bertrand.

__ADS_1


"Dan gue juga udah mikirin, bagaimana jika secepatnya kita mengurus cuti seperti yang kakek inginkan, tapi bukan berbulan madu. Kita gunakan untuk berlibur sebagai awal dari usaha perdamaian kita. Gimana?"


"Yup!! Boleh juga ide elo. Dengan begitu, kakek gak akan terlalu mendesak kita lagi.Kebetulan, gue juga sebenarnya butuh refreshing!" Kekeh Bertrand.


"Haha, gue pikir juga begitu! Oke, kalo gitu kita deal yaa!" Ucap Marsha dengan tertawa untuk pertama kalinya bersama Bertrand.


***


Marsha baru akan pergi ke cafetaria untuk makan siang saat ia mengingat sesuatu. Ia menulis sesuatu di ponselnya lalu mengirimkan pada seseorang.


Yaa, pesan itu Marsha kirim untuk Bertrand. Tadi Marsha sudah mengatur jadwal cuti, tinggal mencocokkannya pada Bertrand. Kemudian mereka akan berlibur dengan tiket bulan madu yang kakek berikan.


Setelah beberapa bulan semenjak kakek merencanakan perjodohan itu, baru kali ini Marsha merasa harinya terasa lebih ringan. Terlihat dari raut wajahnya yang terlihat lebih santai dan tenang.


Tak lama, ponsel Marsha berbunyi, ia melihat balasan pesan dari Bertrand. Marsha tersenyum. Bertrand setuju dengan tanggal cuti untuk liburan mereka nanti. akhirnya, satu masalah sudah ditemukan jalan keluarnya. Keinginan kakek untuk mereka segera bulan madu akan Marsha dan Bertrand penuhi. Walaupun bukan bulan madu sungguhan tentunya.

__ADS_1


***


__ADS_2