
Ardi melirik ke tempat tidur Bertrand. Sepertinya Bertrand sudah tertidur.
"Hmm, Sha, saat pernikahan itu terjadi, gimana caranya kamu jalani itu?" tanya Ardi pelan.
"Aku dan Bertrand sudah membahas ini sebelumnya. Kami sepakat pernikahan ini hanya di atas kertas. Dan berjalan hanya satu tahun. Setelah itu aku sama Bertrand akan ambil jalan masing-masing."
"Kenapa harus di atas kertas? Kalian bisa mencoba saling mengenal dulu. Pernikahan bukan mainan, Sha."
"Mau gimana lagi, waktunya secepat ini, aku sama Bertrand sama sekali gak ada rasa, bahkan hubungan kami juga gak bagus. Tapi kami sama-sama gak bisa mengecewakan kakek." Kata Marsha lagi. Terdengar nada getir dari bicaranya. Ardi menatap gadis itu, Marsha membuang pandangannya ke arah lain. Dia tidak menangis. Bahkan dalam ekspresinya pun tak ada terlihat ia sedang dalam masalah. Ardi menarik nafas dalam.
"Sha, pasti berat banget ya, tapi kamu terpaksa menerima semua keputusan yang bukan kamu sendiri yang membuat. Bukan terpaksa, tapi harus menerima, suka atau tidak suka karena kamu tidak mau mengecewakan orang-orang yang selalu mendukung kamu selama ini." Kata Ardi. Marsha tersenyum tipis mendengar ucapan Ardi. Dia kembali menghirup kopi Nya yang mulai dingin.
"Tapi kamu tenang saja, Sha, aku sangat mengenal Bertrand dengan baik, dia pasti gak akan menyakiti kamu. Aku tau seperti apa dia. Mungkin yah, terlihat nyebelin di luar. Tapi tenang saja, dia juga sebenarnya sosok yang sangat peka." Ucap Ardi yakin. Tak ada nada menyanjung dalam ucapannya, ia hanya berkata apa adanya.
"Semoga saja, kamu tau, aku gak berharap apapun dari pernikahan ini, tapi aku ingin, setidaknya kami bisa bekerja sama dengan baik agar tidak terlalu berat untuk menjalani ini nantinya." Harap Marsha.
"Aku yakin, semua akan baik-baik saja, Sha. Aku sangat yakin itu." Jawab Ardi.
"Semoga saja." Jawab Marsha pelan. Mereka lalu sama-sama diam selama beberapa saat.
"Eh, Sha, elo beneran gak pulang? mau nginap sini?" Tanya Ardi lagi.
"Iya, gak pa-pa. Udah tengah malam gini juga mau pulang." Kata Marsha.
"Ya udah, kalau elo ngantuk tidur aja di sofa sini, nanti gue pindah di kursi sana." Kata Ardi.
"Gampang lah, tidur ya tinggal tidur." Jawab Marsha sambil meraih sebungkus roti yang ada di meja, membuka bungkusnya dan memakannya santai.
__ADS_1
"Biasa cewek jarang loh Sha makan jam segini, katanya rentan gemuk!" Kata Ardi.
"Hmm, masalahnya aku gak mudah gemuk, makanya santai aja mau makan apa!" kata Marsha.
"Oya? Atau elo rajin olah raga?" tanya Ardi lagi.
"Kalau sempat dan pas pengen, tapi paling olah raga di rumah atau sekedar lari doang!" Jawab Marsha.
"Gak masalah, asal jangan lari dari kenyataan!" Kekeh Ardi.
"Oh, sorry, justru gue selalu menghadapi kenyataan, contohnya kaya sekarang, menemani calon suami yang tak diinginkan!!" gelak Marsha. Mereka lalu tertawa bersamaan. Lalu mereka melanjutkan obrolan ringan sampai tak terasa malam semakin larut dan suara mereka semakin kecil dan akhirnya tertidur di sofa itu.
Tanpa dua orang itu sadari, Bertrand sebenarnya masih terjaga dan mendengar semua percakapan mereka.
...***...
Dia melihat Bertrand yang terbangun. Marsha mendekat.
"Kenapa?" Tanya Marsha.
"Gue mau minum, tangan gue lemas banget mau buka botol. Elo bisa bangunin Ardi?" Tanya Bertrand sungkan meminta tolong Marsha langsung.
Mereka melihat botol mineral yang ada di meja, Dia meraih benda itu, membuka segel botol tersebut dan memutar tutupnya. Dia meraih pipet yang ada di meja nakas, merobek pembungkusnya dan memasukan ke botol. Dia menyodorkan botol tersebut ke Bertrand, Bertrand menegakan tubuhnya dan menerima botol tersebut. Marsha menunggu Bertrand minum, dan mengambil kembali botol tersebut setelah Bertrand mengembalikan botol tersebut ke padanya. Dia menutup kembali botol tersebut dan meletakkan nya lagi di atas nakas.
"Ada lagi?" Tanya Marsha.
"Udah, thanks!" Jawab Bertrand.
__ADS_1
"Ya udah, elo tidur lagi gih!" Kata Marsha. Dia lalu berbalik kembali ke sofa. Melihat jam di ponselnya. Sudah jam 6 pagi. Rasanya dia baru saja tertidur. Marsha kembali berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi yang ada di ruangan tersebut. Terdengar bunyi air mengalir dari westafel yang ada di kamar mandi klinik tersebut. Klinik ini memang terlihat kecil. Tapi fasilitas di dalamnya lumayan berkelas. Tempatnya bersih dan nyaman.
Marsha keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar. Tanpa bedak dan makeup pun dia masih terlihat sangat cantik. Ardi sudah terbangun dan memainkan ponselnya. Begitupun dengan Bertrand.
Marsha membuka jendela ruangan yang ada di samping sofa. Udara segar dan matahari langsung menyapa. Dia menghirup udara pelan, dan sesaat bertahan di sana. Bertrand melirik apa yang di lakukan Marsha. Begitu pun Ardi. Tiba-tiba Marsha berbalik badan dan memergoki tatapan kedua orang tersebut.
"Ngapain liat-liat?" Kata Marsha. Bertrand segera mengalihkan pandangan ke ponsel miliknya, sementara Ardi hanya tersenyum kecil. Marsha kembali duduk di sofa. Meraih ponselnya. Dan membuka sosial medianya. Sosial media dengan akun samaran. Marsha tak pernah memposting foto dan informasi secara langsung yang menunjukkan siapa pemilik akun tersebut. Dia hanya memposting kegiatan dan hobinya saja.
"Kamu mau sarapan, Sha?" Tanya Ardi.
"Belum lapar kok, lagi pula roti ini cukup buat sarapan, sayang gak di makan." Kata Marsha sambil menunjuk roti yang masih ada di meja.
"Di, tanya kapan gue bisa pulang!" Kata Bertrand. Ardi mengangguk. Dia segera bangkit dan keluar dari ruangan tersebut. Hanya Marsha dan Bertrand yang tertinggal. Mereka saling diam tak berbicara. Suasananya terasa kaku. Tak lama Ardi kembali.
"Jam 8 dokter visit, jadi kalau nanti dokter bilang elo pulang, baru bisa pulang." Kata Ardi.
"Sha, ngeteh dulu yuk di bawah sebentar. Di sebelah ada ruko yang jual sarapan. Masih satu jam-an lebih nungguin dokter si Bertrand visit." Kata Ardi.
"Boleh!" Kata Marsha. Dia bangkit dari duduknya.
"Men, gue ngeteh sebentar ya, elo tunggu aja perawat ngantar sarapan buat elo." Kata Ardian nyengir. Bertrand melempar pandangan keki melihat tingkah Ardi.
"Jangan lama, elo! bosen gue di sini sendiri!" Ketus Bertrand. Ardi hanya terkekeh. Dia lalu berlalu bersama Marsha meninggalkan ruangan tersebut.
Sepeninggalan Marsha dan Ardi dia meraih kembali ponselnya. Mengaktifkan layar ponselnya dan melihat sesuatu di sana. Tampak senyum samar menghiasi wajahnya. Lalu dia tenggelam dengan ponsel yang ada di tangannya.
...***...
__ADS_1