When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Curhat with Rista


__ADS_3

Bertrand menatap Marsha yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Bertrand yakin sekali ada sesuatu yang sedang Marsha alami, tapi dia tidak tahu karena Marsha sama sekali tidak ingin membaginya. Dirapikannya anak rambut yang menutupi kening Marsha.


"Gimana caranya aku bisa mengenal kamu lebih jauh, kalo kamu gak memberi kesempatan aku untuk menyelami diri kamu lebih jauh Sha? Bahkan pelukan dan ciuman yang selalu aku kasih untuk kamu seperti gak berarti apa-apa. Aku sayang kamu, tapi aku gak tau cara bilangnya. Aku cuma bisa nunjukin perasaan aku. Tapi sepertinya akan sulit untuk bisa tersampaikan ke kamu. Aku gak mau kehilangan kamu, Sha, waktu kita udah gak banyak." Gumam Bertrand.


Bertrand menatap wajah yang tenang itu lama, tiba-tiba kening Bertrand mengernyit. Bertrand sedikit membangunkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas, tampak Wajah tenang yang tertidur itu tiba-tiba seperti gelisah. Bahkan terdengar gumaman tak jelas dari bibir Marsha. Cepat di usapnya pelan kening Marsha.


"Stttt, kamu mimpi apa, Sha? Mimpi buruk ya? jangan takut, aku disini." Bisik Bertrand. Di ciumnya kening Marsha. Di perhatikannya lagi wajah Marsha, perlahan kembali tenang. Bertrand tersenyum, kembali merebahkan tubuhnya disamping Marsha. Memeluk Marsha, sebelum memejamkan mata mengistirahatkan tubuh dan pikiran nya.


---____---


Bertrand mengetuk-ngetukan pulpennya di meja. Dari tadi pikirannya benar-benar tidak fokus. Bahkan Bertrand harus menyerahkan beberapa tugasnya kepada Adrian.


"Gimana caranya!" Gumam Bertrand sambil mengacak rambutnya. Di pejamkan matanya mencoba menenangkan diri. Tiba-tiba Bertrand teringat sesuatu.


"Kenapa gak di coba saja? " Fikir Bertrand. Diraihnya ponsel di meja kerja. Mencari sebuah kontak. Lalu menuliskan sesuatu disana.


-Gue butuh bantuan elo. Ini tentang Marsha. Bertrand.-


Send


Bertrand mengirim sebuah pesan. Tak lama ponselnya berbunyi. pesannya berbalas. Senyum Bertrand pun terukir.


---____---


Marsha baru tiba di apartemen nya. Bertrand? Lelaki itu selalu sibuk akhir-akhir ini, selalu pulang di malam hari. Kalaupun pulang sore, tetap ada kerjaan yang di bawanya pulang.


Sepi. Perasaan aneh yang akhir-akhir ini Marsha rasakan. Dia butuh seseorang untuk mendengarkan apa yang mengganjal di hatinya. Ada Bertrand, tapi dia tidak mungkin bisa membagi isi hatinya pada lelaki itu. Dia Juga tidak mungkin curhat dengan Andrew kakaknya. Atau dengan keluarganya. Marsha pasti akan di salahkan. Padahal saat ini, Marsha hanya ingin di dengar saja. Mengingat mereka, Marsha kangen suasana saat bersama mereka di rumah. Walaupun dia selalu bertemu kakek, papa dan Andrew, serta mama yang sesekali ke kantor membawa makan siang untuk mereka semua. Tapi, kantor kan bukan rumah, suasananya pasti berbeda saat mereka bertemu dan bercengkrama di rumah. Mungkin lain kali Marsha bisa meminta izin untuk menginap seorang diri di rumah kakek, tanpa Bertrand tentunya. Ia ingin sekali saja kembali merasakan saat-saat dimana ia masih sebagai anak papa mama, seorang adik dari Andrew, dan cucu kesayangan kakek tanpa embel-embel status istri orang.


Aah Rista, Apa kabar anak itu? sudah lama sekali rasanya Marsha tidak berkirim pesan dengan gadis itu. Sahabat Marsha dari dulu, yang sering menjadi tempat dia berbagi cerita, selain Andrew kakaknya, juga orang tua dan kakeknya.


Marsha meraih ponsel yang ada di saku blezernya. Dilihatnya jam di ponsel, jam 5 lewat, Berati di tempat Rista saat ini sekitar jam 12 siang. Marsha mencari nama Rista disana, Setelah itu ia mencoba melakukan panggilan. Dering pertama, dering kedua, sering ketiga, Sering keempat, Terdengar sapaan dari Rista, Marsha senang mendengarnya, segera di balas sapaan sahabatnya itu.


"Ya ampun Marshaaaaa,, gue kira elo gak ingat gue lagi sejak ada Bertrand!" teriak Rista saat panggilan itu terhubung.


"Hehe, ini buktinya, gue gak lupa kan sama elo? " Kekeh Marsha.


"Apa kabar elo, Sha? "


"Ya gitu deh kabarnya, elo gimana? makin betah dong di Paris? "


"Alhamdulillah, beneran makin betah gue. Btw dalam rangka apa ni nelpon gue? pasti ada sesuatu kan? apa lagi kalo kabar elo sedang dalam mode 'Ya Gitu Deh!' mesti ada sesuatu, kalo gak, ya gak mungkin tiba-tiba telpon, biasa juga paling cuma kirim pesan sekedar ngabarin kalo elo masih idup, hehe! " Kekeh Rista.

__ADS_1


"Ya ampun, segitunya sama temen! Jadi selama ini elo mikirnya gue nyari elo pas butuhnya aja gitu? " Marsha mulai ngambek.


"Haha, ya gak sih, cuma feeling gue bilang, elo dalam mode sedang tidak baik-baik aja? benar gak tebakan gue? "


"Hmm, iya sih.. "


"Ada apa Sha? Bertrand? "


"Kok Bertrand?"


"Ya siapa lagi kalo gak Bertrand? Bukannya sekarang cuma 1 orang itu yang bareng elo? elo kan udah gak sama keluarga elo lagi. Ya gak mungkin kan soal kakek yang niatnya mau jodohin elo lagi secara elo udah di jodohin! haha!"


"Hmm, gue sebenarnya lagi bingung taa.. " Keluh Marsha.


"Kenapa? Sini cerita sama gue! "


"Eh tapi ini gue ganggu gak sih? "


"Enggak Marshaaa, gue lagi free ini, kalo. gue sibuk gak bakal gue angkat telpon elo, atau udah gue matiin dari tadi nih telpon. Yaudah, cerita deh sama gue, elo kenapa? "


"Bingung, mulai dari mana gue.. "


Marsha mengangguk, tapi dia gak sadar kalo dia lagi mode telpon biasa, Rista gak mungkin bisa lihat.


"Gue bingung ta, akhir-akhir ini gue suka ngerasa aneh sama diri gue. Gue ngerasa, ahh gue juga gak ngerti. Gue sering ngerasa kesepian, kadang sampai nyesak, gundah, takut, tapi nggak tau apa yang gue takutkan."


"Kesepian gimana? emang sih elo lagi gak di rumah kakek. tapi, bukannya seharian elo di kantor? terus pulang ke apartemen kan ada Bertrand juga sha."


"Akhir-akhir ini gue sering sendiri, Bertrand sibuk sama kerjaannya, pulang malem, kalopun pulang cepat, dia juga tetap sibuk karena kerjaannya di bawa pulang."


"Jadi elo merasa kurang perhatian gitu? kangen sama Bertrand biasa merhatiin elo, gangguin elo, yang berisikin elo, suka ngomel-ngomel gitu?"


"Gak tau.. "


"Loh kok gak tau? "


"Ya aku beneran gak tau, emang kapan Bertrand perhatian sama aku? "


"Lah, kok malah nanya gue?emang elo gak ngerasa?Bertrand pernah gak nanya elo udah makan apa belom? Nyuruh elo istirahat pas elo lagi sibuk, Kadang hal kecil kaya gitu perlu elo perhatiin juga Marsha, karena kita sering abai, dan baru nyadar saat hal kecil itu hilang, justru kita merasa yang hilang itu hal yang teramat penting yang kita miliki."


Marsha terdiam mendengar nasihat sahabatnya itu. Dia mencoba memikirkan kata-kata Rista.

__ADS_1


"Sha.., Gue sayang sama elo, gue gak mau elo menyesal. Gue tau sejak kejadian itu, elo gak pernah mau berhubungan dengan siapa-siapa. Tapi kali ini kondisinya beda, Sha. Entah bagaimana kalian mengawali, tapi sekarang, posisi elo dan Bertrand itu suami istri. Sah di mata hukum dan negara. Gak ada yang perlu elo hawatirkan. Sedikit banyak, kalian yang selalu bersama, tinggal di satu atap, pasti bakal ada yang terbawa perasaan. Coba Sha, pelan-pelan, buka hati elo, sedikiiittt aja, elo rasakan perasaan yang hadir seperti apa, sekali-sekali elo lihat Bertrand dengan baik. Elo dengarkan kata hati dengan sebenar-benarnya, tanpa ada denial sedikit pun. Paling gak biar elo ngerti, sebenarnya apa yang elo jalani, apa yang elo rasakan saat ini benar berhubungan dengan Bertrand atau gak. "


"Waktu gue sama Bertrand tinggal empat bulan lagi... "


"Sha, Waktu perjanjian itu di buat, kalian masih orang asing, gak saling kenal, tapi sekarang kondisinya udah beda, sedikit banyak pasti ada perbedaan dulu sama sekarang, 8 bulan loh Sha, tentu ada yang berubah selama 8 bulan itu. Sha, gak ada salahnya elo coba untuk mengenal Bertrand lebih dekat lagi. Dari situ mungkin elo bisa tahu apa yang sebenarnya elo inginkan dari Bertrand dan apa yang Bertrand harapkan dari elo."


"jadi, menurut elo gue harus coba dekat dengan Bertrand lagi gitu? "


"Gak ada salahnya di coba kan, Sha? "


"Terus, gue harus mulai dari mana? "


"Ya elo bisa dari coba curhat hal kecil sama dia, jalan berdua, coba dekat sama temen-temen, keluarga nya juga, tapi benar-benar yang apa adanya, bukan sekedar formalitas, kali ini benar-benar apa adanya Sha. Bisa kan Sha? Anggap saja ini salah satu jalan untuk menentukan keputusan elo sebelum kontrak perjanjian nikah kalian berakhir. "


Marsha menghela nafas dalam. Rista bisa mendengar suara nafas itu.


"Sha, paling gak, apapun yang terjadi nanti, gak ada penyesalan dalam diri elo, mau lanjut atau berakhirnya pernikahan kalian, elo akan lebih bisa menerima karena elo udah cari tau sebelumnya, elo udah meyakinkan diri, kalo itu adalah keputusan terbaik."


"Gue coba fikirkan lagi nasehat elo, makasih yaa, elo masih mau denger dan ngerti gue. "


"Sha, kita udah temenan lama, jangan ragu kalo ada apa-apa kasih tau gue, gue sayang sama elo, gue senang kalo elo senang, gue juga sedih kalo elo kenapa-kenapa. Jadi, elo coba ya saran gue tadi. Ya udah, jangan galau-galau lagi, Elo lagi dimana? Gak sama Bertrand pasti? "


"Di apartemen, udah pulang kerja. Bertrand belom pulang, katanya telat pulang! "


"Nah pas tuh, coba telpon Bertrand pastiin dia pulang jam berapa, coba ajak makan malem bareng, elo masakin apa kek kesukaan dia. "


"Gue gak tau dia suka apa, kayaknya gak pernah nolak makan, cuma gue tau dia alergi seafood karena dulu dia pernah masuk rumah sakit gara-gara makan nasi goreng yang ada seafoodnya. "


"Ya kan bisa tanya, dia pengen makan sesuatu gak? ya elo coba buat, kalo gak bisa tinggal pesan juga gak pa2 sih. "


"Ya udah deh, gue coba! "


"Good! semoga lancar yaa, gue tutup dulu telfonnya, elo cepatan gih telpon Bertrand, biar bisa siapin semua! "


"Iyaa, makasih Rista sayang, bestie aku yang paling baik sedunia, hehe! "


"Ada mau nya aja, gue deh yang paling baik! Haha! Ya udah, Bye Sha!"


"Bye! "


---_____---

__ADS_1


__ADS_2