When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Positif


__ADS_3

Dua bulan berlalu sejak Kejadian itu. Kejadian yang terjadi di pagi buta antara Bertrand dan Marsha. Kejadian yang akhirnya mendekatkan dua insan yang awalnya saling bertolakan.


"Sayang, mas mungkin pulang telat, hari ini banyak kerjaan diluar kantor, ada meeting juga dengan tekanan di luar. Nanti gak papa kan kalo gak sempat jemput kamu?" Tanya Bertrand sambil sibuk memasang dasi.


Marsha segera menghampiri Bertrand. Membantu lelaki itu memakai dasi dan merapikan kerah kemejanya.


"Gak papa sih mas, aku nanti pake mobil aja kalo gitu. Lagi pula nanti mau ketemu rekanan, susah kalo gak pake kendaraan sendiri. gak pa-pakan? " Tanya Marsha.


"Boleh, tapi hati-hati bawa mobilnya, yang fokus. Kepala kamu udah gak pusing? udah enakan?"


"Udah kok, jauh lebih segar, mungkin kecapekan semalam sibuk banget, mana panas-panasan lagi." Kata Marsha yang mana semalam dia turut kelapangan melihat jalannya promo dan lounching produk baru dari perusahaannya yang diadakan di ruang terbuka.


"Ya udah, nanti kalo capek, istirahat, jangan di paksain. Sarapan udah siap? "


"Udah mas, yuk sarapan dulu! " Ajak Marsha sebelum mereka berangkat kerja ke kantor masing-masing.


---___---


Marsha baru saja menjalankan mobilnya keluar dari apapartemen. Kini ia menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Marsha merasa mual sejak pertama kali masuk ke dalam mobilnya, dan kini rasa mual itu semakin menjadi. Dia mengeluarkan isi perutnya di pinggir jalan. Diambilnya sebotol air yang selalu tersedia di dalam mobil.


"Kenapa ya jadi mual gini? " Keluh Marsha. Dia berdiam sejenak sebelum kembali ke dalam mobil. Setelah merasa lebih baik dan segar, Marsha kembali masuk, tapi baru saja membuka pintu, aroma mobilnya menguar dan membuat perasaan tidak nyaman di penciuman nya.


"Kok aroma nya jadi aneh gini? Apa parfum nya udah gak bagus? " Gumamnya. Marsha berusaha melepaskan parfum mobilnya dan melemparkan ke tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Marsha membuka semua jendela mobilnya dari luar. Menunggu beberapa saat sampai aroma tidak sedap itu hilang dari penciumannya.


"Nah, jauh lebih enak! " Gumam Marsha saat ia kembali masuk ke mobilnya, ditutupnya jendela mobil bagian belakang, sementara bagian depan dibiarkannya setengah terbuka. Lalu Marsha kembali melanjutkan perjalanannya ke kantor.


---_____---


Marsha berada di dalam lift bersama karyawan yang lainnya. Dia mendengar pembicaraan dua wanita di belakangnya.

__ADS_1


"Itu masker belum bisa di lepas juga? "


"Belum, maboknya masih bisa kambuh kalo mencium bau-bauan! "


"Padahal hamilnya udah segede ini yaa? "


"Hooh, laki gue aja kadang masih bisa gue usir kalo tiba-tiba hidung gue sensi lagi, asli mual banget! "


Marsha mengernyitkan keningnya saat mendengar pembicaraan singkat tersebut. Dia teringat saat tadi dia tiba-tiba tidak bisa mencium aroma mobilnya, padahal parfum mobilnya adalah aroma favorit nya.


"Ah, tapi kan bulan lalu aku masih halangan! " Batin Marsha.


"Ting!! "


Pintu lift terbuka, Marsha menghapus semua fikiran yang tadi ada di otaknya.


Marsha memanggil office boy yang kebetulan lewat di hadapannya, meminta office boy tersebut membuang semua pewangi yang ada di ruangannya dan membuka jendela yang ada di dalamnya. Setelah office boy selesai mengerjakan perintah Marsha, baru Marsha masuk ke ruangannya.


Marsha mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Masa sih aku hamil? " gumam Marsha.


"Tapi kan bulan lalu masih halangan, emang lebih cepat dari biasa sih. Tapi kan setelah waktu itu, aku sama Bertrand memang mengulanhnya kembali. "


Marsha menghela nafas, dia merogoh isi tas nya, mengambil ponselnya. Dan membuka aplikasi pencarian, dia mengetik beberapa kata di kolom pencarian.


"Tanda-tanda wanita hamil"


Marsha membaca beberapa artikel. Dan sepertinya Marsha harus memeriksakan diri setelah ini.

__ADS_1


---___---


Marsha baru saja keluar dari lobi sebuah klinik ibu dan anak. Harusnya, tadi Marsha akan melakukan meeting kerjasama dengan seorang rekanan, tapi belum sampai di tempat yang ditentukan, rekanan tersebut membatalkan pertemuan karena beliau ada urusan mendadak yang tak bisa ditinggal. Jadilah Marsha berhenti di sebuah klinik yang tak jauh dari tempat meeting tersebut. Akhirnya dia tidak membutuhkan waktu lama untuk memeriksakan dirinya. Dan sekarang terjawab sudah kenapa pagi tadi ia mendadak mual.


Marsha masuk ke mobil dengan wajah yang sulit di gambarkan, tapi terlihat raut bahagianya di sana. Kembali di raihnya buku pemeriksaannya barusan, Dia melihat foto hasil USH nya, tampak embrio sebesar biji kacang disana, dari perhitungan HPHT, Marsha sudah memasuki kehamilan minggu ke 6, dan dokter spog menyarankannya kembali datang 2 minggu lagi untuk mengecek kembali kehamilannya. Marsha meraih ponselnya. Ia ingin segera membagi berita ini kepada Bertrand. Tapi panggilannya hanya terhubung dengan suara operator. Terlihat raut kecewa Marsha. Dia memotret foto USG dari aplikasi pesan, saat akan mengetik disana, Marsha menghapus foto tersebut dan mematikan layar ponselnya.


"Aah, gak seru, nanti akan deh di rumah! " Gumam Marsha. Dia kembali menyimpan buku USG dan ponselnya ke dalam tas. Lalu segera meninggalkan halaman klinik.


---____---


Marsha buru-buru menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Dia ingin segera pulang, mempersiapkan diri memberikan kejutan untuk Bertrand. Marsha sangat yakin, Bertrand pasti tidak akan mudah percaya dengan kejutannya, dan Marsha juga sangat yakin, Bertrand sama bahagianya dengan dirinya saat tau berita kehamilan ini. Apa lagi, beberapa kali berkumpul dengan keluarga besar mereka, yang di tanyakan adalah kehamilannya. Dan Bertrand selalu menjanjikan akan segera memberikan kabar baik itu. Ditambah lagi saat ini hubungan mereka sudah sangat jauh lebih baik, mereka sudah layaknya suami istri beneran, sebagaimana seharusnya.


Marsha kembali mengecek satu persatu pekerjaannya. Lalu mengirimkan beberapa data melalui email kantor kebeberapa bagian divisi perusahaan yang membutuhkan laporannya. Juga mencetak laporan-laporan tersebut dalam selembar kertas.


---____---


Tadinya, Marsha ingin langsung pulang ke apartemen. Tapi di tengah perjalanan, dia malah kepikiran cheese cake dengan taburan red velvet di atasnya. Dia memutar haluan ke arah berlawanan, menuju cafe langganannya tempat dulu dia biasa nongkrong dengan rista. Cafe yang terkenal dengan dessert nya yang memanjakan lidah. Dimana dulu dia dan rista menghabiskan waktu berjam-jam bercerita kesana kemari sambil menikmati cheese cake red velvetnya itu dan di tambah satu cup eskrim dan juga minuman kekinian yang selalu up to date hadir di menu terbaru mereka.


Hmm, mengingat itu semua, Marsha jadi kangen Rista, gimana reaksi sahabatnya itu ya kalo dia sampai tau saat ini Marsha tengah hamil dan mengandung calon anak dari Bertrand.


Marsha jadi senyam senyum sendiri membayangkan berbagai reaksi dari Rista.


Marsha segera mengarahkan setir ke halaman cafe. Setelah mobilnya terparkir dengan benar. Marsha segera keluar dari mobilnya. Matanya sedikit menyipit, saat dilihatnya sebuah mobil yang sangat familiar di matanya. Marsha mempercepat langkah masuk ke dalam cafe, matanya memindai sudut indoor lantai satu cafe, saat sosok yang dicarinya tidak ada, Marsha melangkahkan kakinya menuju outdoor lantai 1, tapi yang di cari belum terpindai oleh tangkapan indera penglihatannya. Marsha kembali masuk ke dalam, dia melangkahkan kakinya menuju tangga menuju lantai dua. Menatap bagian dalam lantai dua yang sepi, lalu melangkah ke bagian luar balkon cafe yang biasa jadi tempat favoritnya dan Rista. Marsha mengintip dari sela kaca yang sebagian bermotif kabut dan sebagian kaca bening.


Deggg!!!


Jantung Marsha seakan berhenti berdetak. Dia tidak tahan melihat apa yang tertangkap oleh pandangannya. Marsha segera berbalik badan. Buru-buru dia keluar dari cafe. Berlari menuju mobilnya. Dan segera pergi dari tempat itu.


---_____---

__ADS_1


__ADS_2