
"Kek, Bertrand minta maaf. Kontrak perjanjian itu emang Bertrand yang memberi ide. Saat itu Bertrand tau kalau Marsha sama seperti Bertrand, kami awalnya sama-sama tidak bisa menerima perjodohan ini. Tapi seiring berjalan waktu, Bertrand sadar, Marsha pelan-pelan masuk ke dalam hati Bertrand. Sementara Marsha masih belum bisa untuk menerima. Karena itu, untuk kenyamanan Marsha, Bertrand cetuskan perjanjian itu. Semua poin-poinnya Bertrand bebaskan untuk Marsha mengisi nya. Bahkan Bertrand sama sekali tidak mengajukan syarat apapun. Bulan madu kami waktu itu juga, kami jalan masing-masing. Bertrand tahu ini salah. Tapi saat itu Bertrand hanya berpikir bagaimana agar Marsha tidak terbebani dengan pernikahan yang tidak dia inginkan, sambil Bertrand berlahan-lahan mencoba membuka hati Marsha. Dan 2 bulan belakangan ini hubungan kami jauh lebih baik. Tapi ternyata ada kesalahan yang Bertrand tidak sengaja lakukan hingga Marsha membuat keputusan itu dan kembali ke perjanjian awal. Tapi ini tidak sepenuhnya salah Marsha. Bertrand dan Marsha sudah berbicara banyak. Kami sepakat akan melanjutkan pernikahan ini kek. Jadi Bertrand mohon, jangan marah lagi pada Marsha, karena disini Bertrand juga salah. " Ucap Bertrand saat hanya dia dan kakek saja yang tinggal di ruangan itu. Sementara Marsha menunggu di luar ruangan.
"Bagaimana kakek mau percaya setelah melihat semuanya di depan mata kakek? kakek kecewa! " Ucap kakek perlahan.
"Bertrand punya ini kek, semoga bisa menghapus kekecewaan kakek! " Ucap Bertrand sambil menyerahkan sebuah buku.
"Apa ini? Tanya Adiwijaya sambil menerima dan membaca cover buku tersebut. Berlahan dibukanya lembaran buku tersebut, sampai di temukannya sebuah foto. Foto hasil pemeriksaan kehamilan. Adiwijaya terpaku melihatnya.
" I-ini? " Ucapnya terputus.
"Iya kek, Marsha sedang hamil. Hamil buah cinta kami! " Ucap Bertrand sambil menggenggam erat tangan Adiwijaya.
"Marsha hamil? " ulangnya. Bertrand mengangguk.
"J-jadi kalian tidak akan pisah, kan? " Tanya Adiwijaya lagi.
Bertrand mengangguk.
"Kakek, mohon doanya agar hubungan kami baik-baik saja, Bertrand janji akan menjaga Marsha dengan baik, kejadian kemarin tidak akan terulang lagi. Bertrand beneran sayang sama Marsha kak! " Ucap Bertrand sungguh-sungguh.
"Mana Marsha? Kakek mau peluk dia! " Pinta Adiwijaya. Bertrand mengangguk. Dia menampilkan senyum lebar. Dia segera keluar, menuntun Marsha yang tengah menunggu di depan pintu masuk ke dalam bertemu Adiwijaya.
"Marsha, sini peluk kakek! " Pinta Adiwijaya. Marsha langsung menghambur kepelukan kakeknya.
"Maafin Marsha, Kek! " pinta Marsha sambil terisak.
"Stt, cucu kakek tidak salah, kakek yang salah, kakek yang harus minta maaf! " Ucap Adiwijaya sambil mengusap pelan punggung Marsha.
"Jadi kakek bakal punya cicit? " Tanya Adiwijaya terkekeh.
"Marsha tertawa, dia bangun melepaskan pelukan Adiwijaya, diraihnya tangan lelaki tua itu, dan diarahkannya ke perutnya.
"Iya, ada cicit kakek di sini! " Ujar Marsha bahagia.
---____---
Marsha dan Bertrand telah kembali ke apartemen nya. Sebenarnya Adiwijaya sudah meminta cucu dan menantunya itu untuk tinggal di rumahnya saja mengingat kondisi Marsha yang hamil dan sesekali masih mengalami mual dan muntah. Namun Marsha dan Bertrand kompak untuk kembali ke apartemen. Mereka butuh ruang dan waktu untuk tinggal berdua saja agar hubungan mereka semakin erat.
"Ayo sini!" Panggil Bertrand, di kakinya tampak tong sampah stainless yang tutupnya terbuka karena perannya diinjak Bertrand.
"Kenapa mas? " Tanya Marsha sambil duduk di samping Bertrand. Bertrand meraih pinggang istrinya agar semakin mendekat.
"Kita udah ga butuh perjanjian ini, kita bakar sama-sama! " Ucap Bertrand sambil menghidupkan korek yang ada di tangannya. Bertrand mendekatkan kertas itu pada api yang telah menyala, dengan cepat api menyambar kertas di tangan Bertrand, lu segera Bertrand masukan ke tempat sampah. Dan satu lagi, gara-gara nyimpan foto ini, istri aku jadi salah paham, jadi aku bakal bakar juga. " ucap Bertrand lagi seraya merobek foto itu.
"Eh, jangan, itu kan kenangan kamu sama teman kamu! " Ucap Marsha.
"Yang penting itu kamu, lagi pula fotonya udah sobek! " Ucap Bertrand sambil melemparkan foto itu ke tempat sampah, asap keluar dari tempat sampah dan segera di tutup oleh Bertrand agar asapnya tidak semakin banyak.
Dipeluk nya Marsha erat.
"Semoga pernikahan kita bahagia sayang! " Bisiknya di telinga Marsha.
Marsha melepaskan pelukannya. Memberi jarak antara dirinya dan Bertrand.
__ADS_1
"Jadi, sekarang kita Suami istri beneran? " Tanyanya. Bertrand tertawa.
"Dari kemarin juga kita suami istri beneran, apa lagi ada dedek di perut kamu. Cuma sekarang makin jelas beneran nya. Karena gak pake batas waktu. Selamanya kita akan terus jadi pasangan suami istri! " ucap Bertrand. Di ciumnya bibir Marsha perlahan dan penuh perasaan. Marsha membalas setiap ******* yang diberikan oleh Bertrand.
Bertrand melepaskan pagutannya.
"Udah ya, jangan diteruskan, aku takut kebablasan. " Ucap Bertrand.
"Emang kenapa? Kan udah suami istri beneran? " Tanya Marsha bingung.
Bertrand tertawa, dicapitnya hidung Marsha gemes.
"Kan kehamilan kamu masih muda, aku ada baca artikel, katanya kehamilan trimester pertama tidak dianjurkan berhubungan intim karena salah satunya bisa menyebabkan kontraksi dini. Eh, tapi kalo kemaren bukan suami istri beneran kok kamu bisa hamil? " Goda Bertrand.
Marsha mengerucutkan bibirnya.
"Kan kamu yang mulai!"
Bertrand tergelak. Dikecupnya kembali bibir Marsha gemas.
"Tapi kok mau? " Goda Bertrand lagi.
"Ih, nyebelin deh! " Ujar Marsha sambil melipat tangan nya di dada, wajahnya memerah, maluuuu. Bertrand kembali tertawa.
Dipeluknya kembali tubuh Marsha.
"Sayang, mulai saat ini, aku harap kita lebih terbuka ya, gak perlu ada yang di tutupi lagi baik itu tentang kamu ataupun tentang aku dalam hubungan kita. Kalo ada sesuatu yang membuat kamu sesak, kamu ingin tahu, kamu boleh tanya, jangan disimpan sendiri sampai akhirnya membuat praduga-praduga yang menyesatkan fikiran kita. Aku paham kan maksud aku? " Tanya Bertrand.
"Mas.. s-sebenarnya.. " Marsha menggigit bibirnya. Ucapannya menggantung. Bertrand menaikan alisnya menunggu lanjutan ucapan Marsha.
"Kenapa? ada sesuatu yang mau kamu bilang? jangan dipendam. " Tanya Bertrand.
"T-tapi, kamu jangan marah! "
"Iya, janji gak marah! " ucap Bertrand yakin.
"Beneran? " Tanya Marsha
"Iyaa, Marsha!!! emang ada apa sih? "
"Sebenarnya, dari kemarin-kemarin, aku tuh gak tau kenapa,, bawaannya gemessss bangettt sama kamu,, " Ucap Marsha sambil melirik-lirik. Ia tak berani menatap Bertrand.
"Loh emang kamu gemes kenapa? "
"Yaa gemes aja mas,,"
Kening Bertrand mengernyit tak mengerti.
"Jadi?? "
"A-aku pengen gampar mas boleh? kayaknya a-aku ngidam! " Tanya Marsha takut-takut. Pupil Bertrand seketika membola. Tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Ng-ngidam? pengen gampar aku? K-kok bisa sayang? bukannya orang ngidam pengen mangga muda? " Tanya Bertrand bingung sambil memegang kedua pipinya. Di usapnya tengkuknya yang tiba-tiba merinding.
__ADS_1
"Yaa namanya juga ngidam, mungkin calon anak kamu kesal kali sama bapaknya. Makanya aku ngidamnya pengen gampar kamu, mas.." Jawab Marsha dengan wajah tanpa dosa.
"Ya t-tapikan bentuknya masih kaya cebong, sebesar upil g-gitu, kok udah bisa ngidam? " Jawab Bertrand asal ceplos.
"Massss!!! enak aja kamu sembarang ngomong!!! masa calon anak aku di samain cebong sama upill! " Bentak Marsha dengan mata yang melotot.
"ehhh,, g-gak gitu sayang, maaf maaf salah ngomong! " Ucap Bertrand agak ngeri melihat ekspresi marah Marsha.
"Ya udah, kalo gak mau nurutin ngidamnya aku gak pa-pa, tapi jangan bilang anak aku kaca cebong upil! " Ucap Marsha dengan mata berkaca-kaca. Dia segera bangkit meninggalkan Bertrand.
"Eh, sayang! sayang! tunggu, jangan ngambek dong!! " Bertrand segera mengejar Marsha yang masuk ke kamar. Tapi langkah Bertrand terhenti saat dilihatnya Marsha yang sudah menangis dengan wajah yang tertelungkup di bantal. Bertrand mengacak rambutnya gemes. Tingkah Marsha sungguh di luar dari prediksinya saat ini.
"Hei, Sayang, jangan nangis dong, aku minta maaf yaa!" Pujuk Bertrand. Berlahan dia duduk di pinggir ranjangnya. Di usapnya punggung Marsha pelan.
"Sayang, ayo dong, nanti anak kita sedih loh kalo ibunya nangis gini!" pujuk Bertrand lagi.
"Gak, ini bukan anak kita, ini anak aku, cuma anak aku! " teriak Marsha kesal masih dengan terisak.
"Loh, kok gitu, kan kemarin buatnya sama-sama sayang, jadi anak kita dong! " Rayu Bertrand.
"Buktinya, kamu gak mau nurutin ngidamnya aku, kamu juga malah jelek-jelekin anak aku! "
"Ya, ampun sayang, aku tadi salah ngomong. Ya udah ayo bangun, sini, kamu boleh gampar aku! " Ucap Bertrand pasrah.
"Beneran?? " Tanya Marsha. Dia segera bangun dan tangisnya hilang seketika.
"Y-ya beneran. Tapi, jangan kuat-kuatnya sayang?? " Ucap Bertrand ragu, dia mengusap pipinya.
"Iih, aku kan cewek, emang tenaga aku sekuat apa juga? " Ucap Marsha. Dia mengatur duduknya lebih tegak di hadapan Bertrand.
"Y-ya udah. Nih, gampar, tapi jangan kuat-kuatnya yaa?? " Ucap Bertrand pasrah sambil menyodorkan pipi kirinya.
"Iyaaa!!! gak percaya banget sih, aku itung sampai 10 ya! " Ucap Marsha.
"1.. 2.. 3.. 4.. 5..6.. PLAKKKK!!!!!! " Gamparan berhasil Marsha layangkan sebelum hitungannya selesai.
"Wadoooowww!!! Kok di gampar beneran sih??? belom sampai 10 juga udah di gampar!!! " Ringis Bertrand sambil mengusap pipinya.
"Ya ampun, perih banget!! Mana panas lagi! " Keluh Bertrand.
"Kan aku bilang pengen gampar, bukan pura-pura! " Jawab Marsha dengan raut tak berdosa.
"Yaa tapi gak sampai sakit gini, Yang! " Protes Bertrand.
"Jadi sekarang kamu gak iklas? Gak Terima? " Tanya Marsha dengan mata kembali berkaca-kaca.
"Eeh, gak kok, gak! A-aku senang kok, beneran!! Kan ngidam anak aku. I-ini sebelah sini kalau mau gampar lagi boleh kok!! " Ucap Bertrand cepat sambil menyodorkan pipi kanannya ke Marsha.
"Gak, pengen gamparnya cuma sekali kok! Sekarang pengen di peluk! " Ucap Marsha manja sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Bertrand. Bertrand segera melingkarkan tangannya di badan Marsha. Dikecupnya puncak kepala Marsha dengan hati yang menggerutu.
"Gilakkk!!! Belom apa-apa ngidamnya pengen gampar gue!!! Hadeuhhh ini baru ngidam pertama, pipi gue udah kebas. Gimana nasib gue besok-besok!!! " Keluh Bertrand.
---___---
__ADS_1