
"Jadi, Bagaimana hubungan kamu dan Bertrand?" Tanya Adiwijaya kepada cucu perempuannya saat mereka baru selesai makan malam.
"Aku gak ada hubungan apa-apa kek!" Jawab Marsha. Dia merasa enggan membahas hal ini.
"Oya, terus dari mana kamu tadi sore bareng Bertrand, bukannya kamu tadi sore di antar Bertrand?" Tanya kakeknya sambil tersenyum. Semua kaget, bahkan Marsha sendiri.
"Kakek tau dari mana?" Batin Marsha. Semua anggota keluarga memandang Marsha, menunggu jawaban darinya. Marsha jengah melihat pandangan keluarganya.
"Kok pada liatin aku?" Tanya Marsha jutek.
"Karena kamu belum jawab pertanyaan dari kakek!" Jawab Andrew kalem. Marsha merasa kesal dengan Andrew. Di tendangnya kaki Andrew yang berada di bawah meja.
"Marsha!!" Kata Andrew dengan wajah galak.
"Gimana Marsha?" Tanya Adiwijaya lagi.
"Tadi Bertrand jemput aku di kantor, dan kami hanya pergi untuk ngobrol aja kek. Gak ada apa-apa." Jawab Marsha.
"Bagus, sebaiknya kamu harus lebih sering bertemu Bertrand untuk mengobrol, agar lebih cepat kalian saling mengenal." kata papa Marsha sambil tersenyum.
"Jadi, bagaimana? Kamu terima tawaran kakek?" Tanya Adiwijaya sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Aku gak punya pilihan untuk menolak permintaan kakek." jawab Marsha pelan.
Adiwijaya terkekeh.
"Percayalah, kakek hanya ingin yang terbaik buat kamu!" Jawab Adiwijaya lagi. Marsha hanya diam. Berharap semua akan baik-baik saja nantinya.
...***...
"Tadi, Adiwijaya bilang, kamu kerumah beliau untuk mengantar Marsha pulang. Benar gitu?" Tanya Hutama.
"Yang benar nak?" Tanya Mama Bertrand Antusias.
"Hadeuh,, ngapain juga kakek Marsha pake cerita ke kakek?" Gumam Bertrand dalam hati.
"Bertrand????!" Panggil kakek menunggu jawaban Bertrand.
"Oh, itu, iya. Tadi aku ketemu Marsha, dan kami ngobrol sebentar. Terus aku antar dia pulang." Jawab Bertrand.
"Bagus, kamu harus sering-sering nyamperin Marsha, buat dia nyaman bersama kamu." Kata Hutama lagi.
"Jadi, kamu ngobrol apa aja sama Marsha?" Tanya Mama Bertrand penasaran.
"Gak ada ma, cuma ngobrol biasa!" jawab Bertrand.
"Semoga kamu dan Marsha bisa dekat ya!" Harap mama Bertrand.
"Lalu, gimana keputusan kamu dengan perjodohan itu?" tanya Hutama lagi.
"Memang aku bisa apa selain menuruti keinginan kakek?" Sahut Bertrand gusar.
"Bagus!!" Jawab Hutama sambil tersenyum senang.
__ADS_1
...***...
"Hmm, poin penting pasca pernikahan!" gumam Marsha. Dia mencatat satu persatu poin perjanjian yang berisi aturan boleh atau tidak boleh mereka lakukan setelah mereka menikah nanti di dalam ponselnya.
Terkadang Marsha terhenti, dia berfikir, hal apa lagi yang boleh dan tak boleh ia atau Bertrand lakukan setelah mereka menjadi pasangan suami istri.
Marsha melihat lagi apa yang telah ia catat di ponselnya.
"Hmm, pernikahan macam apa ini?" Gumam Marsha.
Akan menjalani pernikahan hanya di atas kertas tak pernah terpikirkan oleh Marsya. Tapi Inilah yang akan dijalaninya nanti.
"Bahkan bermimpi seperti ini pun aku tak pernah!" keluh Marsha di dalam hati. Dia menarik nafas berat. kemudian kembali mencatat poin-poin perjanjian yang terlintas di benaknya.
...***...
Bertrand duduk di balkon kamarnya di lantai dua rumah mewah milik keluarganya. Tangannya memegang ponsel miliknya. Dia telah mencatat beberapa poin yang akan menjadi isi perjanjian mereka nanti.
"Hehe, Ada pernikahan seperti ini?" Gumam Bertrand. Ia tertawa miris.
"Pernikahan yang akan disaksikan banyak orang nantinya, tapi hanya kepura-puraan yang hanya aku, dia dan Tuhan yang tau!" Keluh Bertrand.
"Maaf kan aku kek, aku terpaksa melakukan ini. aku ingin menolak, tapi tak punya kekuatan, ingin menjalani, tapi aku tak bisa. Dia bukan perempuan yang aku pilih, jangankan mencintainya, mengenalnya pun tidak!" Keluh Bertrand lagi.
"Hanya satu tahun, setelah ini aku harap semua baik-baik saja!" Gumam Bertrand.
...***...
Setelah beberapa putaran, Marsha berhenti di sebuah kursi kosong yang terdapat di beberapa sisi taman. Marsha menghapus keringat yang membasahi pipi dan lehernya dengan anduk kecil yang dibawanya dan di sangkutan di leher. Beberapa saat Marsha hanya diam seorang diri. Perjodohan itu terus-menerus mengusik dirinya. Walaupun dia dan Bertrand sepakat hanya berpura-pura menjalani pernikahan itu, tapi tetap saja banyak ketakutan yang menghampiri Marsha. Tanpa sadar mata Marsha basah. Dia segera menghapus air mata tersebut sebelum jatuh dan di lihat orang lain.
"Ehhemm!!!" Terdengar seseorang berdehem di dekatnya sambil menyodorkan sebotol air mineral.
Marsha menoleh ke arah suara melihat wajah si pemilik tangan yang menyodorkan sebotol mineral ke padanya.
"Ardi??" kata Marsha saat melihat sosok itu adalah Ardi. Rekan sekantor Bertrand yang ia kenal saat perusahaan mereka mengadakan projects kerja sama waktu itu.
Ardi tersenyum sambil kembali mengulurkan botol air mineralnya lebih dekat. Marsha tersenyum, di sambutnya botol tersebut. Membuka tutupnya dan meneguk isinya.
"Thanks!" Katanya sambil menggeser duduknya mempersilahkan Ardi untuk duduk di bangku yang sama dengannya.
"Sendirian aja?" tanya Ardi basa-basi.
"Enggak, berdua sama bayangan!" jawab Marsha Asal. Ardi terkekeh.
"Kamu lagi ngapain? Kok bisa ada di sini?" tanya Marsha balik. Dari kostumnya, dia tau Ardi sepertinya tidak ada tujuan untuk sekedar santai atau olahraga seperti dirinya di taman ini.
"Kebetulan lewat, cuma gak sengaja lihat ada gadis cantik yang bengong sendiri, akhirnya karena gak tega, plus sayang juga kalau kesempatan seperti ini dilewatin ya udah aku samperin ke sini!" Kata Ardi. Marsha tertawa mendengarnya.
"Gombal ya?" kata Marsha.
"Sedikit!" Jawab Ardi. Lalu mereka tertawa bersamaan.
"Kok sendiri aja?" Tanya Ardi.
__ADS_1
"Memang harus sama siapa?" Tanya Marsha lagi.
"Sama keluarga, teman, atau someone spesial." jawab Ardi. Marsha mengibaskan tangannya.
"Hanya ingin sendiri!" Jawab Marsha.
"Aku lihat kamu sedang sedih, seperti ada yang kamu fikirkan!" Kata Ardi.
"Kamu kaya peramal ya? Bisa tau perasaan orang?" ujar Marsha.
"Aku tahu! Beneran!!" Jawab Ardi yakin.
"Oya?" Kata
"Apa ini berhubungan dengan perjodohan yang di atur keluarga kamu?" Tanya Ardi lagi.
"Kamu beneran tau?" tanya Marsha tak percaya.
"Kamu di jodohkan dengan Bertrand kan?" Ucap Ardi lagi. Marsha kaget, terlihat dari ekspresi di wajahnya.
"Kamu tau dari mana?" Tanya Marsha.
"Aku sepupu Bertrand. Dan Aku tahu semuanya sebelumnya. Jawab Ardi lagi.
"Kamu sepupu dia?" Tanya Marsha tak percaya.
"Yups, ibuku dan ibu Bertrand kakak adik!" jawab Ardi.
"Dan aku sama Bertrand sangat dekat, Dari kecil kami selalu bersama, karena itu aku juga dekat dengan kakeknya Bertrand, dan bisa bekerja di perusahaan kakeknya Bertrand." Terang Ardi.
"Owh, kamu buat aku benar-benar terkejut!" ucap Marsha dengan gaya seperti aktris di telenovela. Ardi tersenyum geli melihatnya. Kalau Ardi tidak benar-benar tahu permasalahan yang sedang membebani Marsha, dia tak akan tahu jika gadis ini adalah seseorang yang pandai menyembunyikan permasalahannya. Dia masih bisa bercanda saat dirinya sedang punya masalah yang tak bisa di bilang kecil, karena melibatkan masa depan dan kebahagiaannya.
"Aku tahu, ini tak mudah buat kamu, juga buat Bertrand. Karena kalian tidak saling mengenal, kamu hanya tahu nama Bertrand dan rupanya, begitu juga Bertrand." Kata Ardi serius.
"Terus mau seperti apa lagi?" Tanya Marsha pasrah.
Ardi tau, Marsha bukan tipe gadis matre, apa lagi dia memang hidup lebih dari cukup. Tak akan mudah baginya menerima Bertrand walaupun lelaki itu dari keluarga kaya. Ardi yakin bukan materi dan fisik yang memberatkan Marsha. Tapi hal lain yang lebih bersifat ke perasaan dan masalah hati.
"Aku tahu kamu pasti sama seperti Bertrand, tak bisa menolak keinginan dari kakek dan orang tua kalian! Iyakan?" Tanya Ardi. Marsha mengangguk pelan.
"Aku tahu, hubungan kamu dan Bertrand sejak awal memang tidak baik. Kamu gak suka Bertrand, Bertrand juga gak suka sama kamu. Tapi itu karena kalian gak saling kenal. Aku tau, kamu perempuan yang baik dan ramah, juga penyayang. Bertrand juga, walaupun sifatnya nyebelin, tapi hatinya sangat baik dan peka. Asal kamu dan Bertrand mau membuka hati, aku yakin kalian cocok satu sama lain!" Ucap Ardi yakin.
Marsha hanya diam. Tidak tau harus menanggapi bagaimana. Ardi tertawa menanggapi ekspresi wajah Marsha.
"Haha, aku tau kamu belum tau harus bersikap seperti apa tentang hubungan kalian nanti, tapi semoga semua baik-baik saja kamu dan Bertrand bisa bahagia dengan cara kalian nantinya." Kata Ardi lagi. Marsha memaksakan senyum di wajahnya.
"Semoga saja!" jawab Marsha.
"Hmm, Kayaknya bakso di depan anak, kita coba yuk!" ajak Ardi sambil menarik lengan Marsha.
Marsha tak sempat menolak, tapi mengikuti ajakan Ardi siapa tau bisa merubah suasana hatinya jauh lebih baik. Lagi pula, selera makannya akhir-akhir ini memang berantakan, siapa tau semangkok bakso bisa mengembalikan selera makan Marsha. Berdua mereka berlari kecil menyebrangi jalan tanpa menyadari ada sepasang mata yang dari tadi mengawasi mereka.
...***...
__ADS_1