When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Curhat


__ADS_3

Bertrand mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Pikirannya semrawut. Ardi mengernyitkan keningnya melihat tingkah Bertrand.


"Elo kenapa, bro?"Tanya Ardi.


"Pusing gue!" Jawab Bertrand.


"Kenapa lagi elo? urusan cewek?" Tanya Ardi. Bertrand menggeleng.


"Ya udah kalau elo gak mau cerita!" kata Ardi sambil bangkit hendak meninggalkan Bertrand.


"Eh, tunggu!!!" Kata Bertrand. Ardi kembali duduk di kursinya. Bertrand kembali mengetuk-ngetuk meja terlihat gelisah. Ardi menunggu sambil memainkan ponselnya.


"Elo tau gue dijodohkan?" Tanya Bertrand. Ardi mengangguk.


"Elo tau siapa cewek itu?" Tanya Bertrand.


"Marsha!" Jawab Ardi singkat.


"Gue gak habis pikir kenapa harus dia coba!" Keluh Bertrand.


"Emang kenapa dia?" Tanya Ardi bingung.


"Gue ngerasa dia bukan cewek yang baik!" Jawab Bertrand.


"Dan elo fikir elo cowok baik gitu?" Tanya Ardi.


Bertrand terdiam.


"Ayolah, buka mata elo! Marsha itu cantik, pintar, dan sederhana, walaupun berasal dari keluarga kaya, dia juga gak sombong. Kakek Hutama gak bakal sembarangan milih seseorang untuk dijodohin sama elo!"


"Tapi gue gak cinta sama dia!"


"Sekarang elo gak cinta sama dia, tapi seiring waktu elo bakal cinta sama dia, gue yakin banget!!"


"Apa yang buat elo yakin?"


"Naluri! Kalau udah nikah, elo serumah sama dia, elo bakal lihat dia tiap waktu, elo bakal lihat sesuatu di dirinya yang orang lain gak pernah lihat. Elo bakal terbiasa dengan kehadiran dia. sedikit demi sedikit, itu akan mempengaruhi perasaan elo. Lagi pula, setelah nikah, dia jadi istri elo, tanggung jawab elo, mau gak mau elo harus membuka hati untuk sayang sama dia. Karena itu kewajiban elo!" Kata Ardi.

__ADS_1


"Masalahnya, gue sama Marsha nikah karena terpaksa. Gue menolak perjodohan ini, dan Marsha juga sangat menolak. Dan elo tau hubungan gue sama Marsha dari awal kami jumpa itu sudah gak baik!" Kata Bertrand lagi.


"Elo sudah ketemu Marsha setelah percakapan perjodohan itu?" Tanya Ardi lagi.


"Belum!" Jawab Bertrand.


"Sebaiknya elo temuin Marsha, omongin masalah ini baik-baik, kalian harus mencari solusi dan poin-poinnya untuk menyelesaikan masalah ini. Apa kalian mau menjalani atau tidak, pikirkan konsekuensi kedepannya seperti apa!" Kata Ardi. Bertrand memikirkan setiap perkataan Ardi


"Yahhh, elo benar, gue harus ketemu Marsha dan membicarakan hal ini!" Kata Bertrand.


"Semoga elo bisa mengambil keputusan Nyang benar." Kata Ardi sambil menepuk bahu sepupunya itu. Dia lalu berlalu dan keluar dari ruangan Bertrand.


...***...


Marsha mencoret-coret kertas yang ada di hadapannya. Tampak gambar abstrak yang hanya bisa di baca di empunya gambar. Gambar dengan garis - garis semrawut yang menggambarkan betapa semrawutnya hati dan pikirannya saat ini.


"Gue mesti gimana?" Gumam Marsha. Dia belum menemukan solusi dan langkah yang harus ia ambil atas permintaan kakeknya itu.Dia mengambil selembar kertas lagi. Lalu mencoret-coret nya kembali. Gambar coretan yang lebih rumit dari gambar coretan sebelumnya. Marsha tidak sadar ada seseorang yang dari tadi memperhatikan tingkahnya.


"Sha, pikiran elo rumit banget kayaknya?" Kata orang tersebut. Marsha kaget, dia segera menoleh ke arah datangnya suara. Sudah ada Mario di dekatnya.


"Eh, Yo!" Kata Marsha.


Marsha menarik nafas, di tatapnya Mario cukup lama.


"Gue emang lagi ada masalah, tapi gue bingung harus seperti apa!" Kata Marsha pelan. Mario mengangguk.


"Sini, ikut Gue!" Ajak Mario.


"Kemana?" Tanya Marsha.


Mario tak menjawab. Dia menarik lengan Marsha menuju lift, membawa Marsha ke lantai tertinggi yang di capai lift di gedung itu. Lalu menaiki anak tangga yang mengantarkan mereka ke atap gedung.


Langit sedikit mendung, angin berhembus sedikit lebih kuat. Marsha baru kali ini sampai ke atap gedung. Dia melihat bagian atap yang dijadikan area olahraga. Tapi saat siang begini, atap gedung kosong.


Mario mengajak Marsha duduk di tempat yang teduh, beberapa pohon yang diletakkan di pot besar tampak menghiasi beberapa sudut.


"Elo mau cerita?" Tanya Mario. Marsha mengangguk pelan.

__ADS_1


"Keluarga gue mengatur perjodohan buat gue!" Kata Marsha pelan. Mario kaget.


"Elo di jodohkan?" Tanya Mario tak percaya. Marsha mengagguk lemah. Perasaan Mario campur aduk mendengar kabar ini. Bagaimanapun dia juga menyimpan rasa untuk Marsha. Dia menahan perasaannya. Mencoba mendengarkan cerita Marsha selanjutnya.


"Gue bingung, gue ingin menolak, tapi gue juga takut melukai perasaan keluarga gue! gue gak mau jadi anak durhaka karena untuk pertama kalinya keluarga gue meminta sesuatu dari gue tapi gue gak mau, padahal selama ini semua keinginan gue selalu mereka wujudkan." Kata Marsha pelan, dia menarik nafas berat.


"Elo tau siapa lelaki yang dijodohkan sama elo?" Tanya Mario pelan. Marsha mengangguk.


"Dan hubungan gue sama orang itu juga gak baik!" lirih Marsha.


"Apa yang membuat elo ingin menolak?" Tanya Mario.


"Gue cuma mau menikah nanti, saat gue sudah menemukan orang yang gue sayang dan juga sayang sama gue, gue ingin menemukan sendiri teman hidup gue. Tapi kata kakek, ini yang terbaik buat gue, dan semua keluarga mendukung rencana kakek!" Keluh Marsha.


"Apa elo udah bilang semua unek-unek elo itu?" Tanya Mario pelan.


"Gue udah bilang, bahkan gue juga bilang hubungan gue sama orang pilihan kakek gak baik. Tapi kakek bilang hubungan baik bisa di bina. Kakek bilang, kakak gak mungkin menjebak aku dalam kesulitan. Yah, kakek benar, selama ini semua yang mereka berikan selalu yang terbaik buat aku. Gak pernah membuat aku kecewa. Dan kali ini, Kakek mohon untuk sekali ini saja memenuhi keinginannya menjodohkan aku sama cucu sahabatnya!" Kata Marsha lagi.


"Lelaki itu setuju dengan perjodohan ini?" Tanya Mario.


"Dia sama dengan gue gak setujunya, tapi gue yakin, dia pasti juga sama seperti gue, gak bisa menolak hal ini. Gue gak tau pernikahan seperti apa yang nantinya akan kami jalani!" Kata Marsha.


Mario menarik nafas berat. Perasaannya juga sakit melihat Marsha seperti ini.


"Elo udah temuin cowok itu membicarakan hal ini? Kamu dan dia harus mencari jalan keluarnya Sha, kalaupun terpaksa harus menikah, kamu harus membuat perjanjian dengan orang itu, agar tak ada yang dirugikan nantinya jika pernikahan yang tak kalian inginkan tetap harus terjadi!" Kata Mario pelan sambil menatap Marsha. Tanpa sadar tangannya mengusap pelan punggung Marsha memberikan kekuatan kepada gadis itu.


Marsha tercenung mendengar ucapan Mario. Ucapan Mario ada benarnya. Jika Marsha dan Bertrand nantinya terpaksa harus menjalani pernikahan itu, mereka harus membuat perjanjian yang harus mereka sepakati bersama agar tak ada pihak yang terluka atau di rugikan nantinya.


"Ya, elo benar! Sepertinya gue harus menemui orang itu untuk membahas ini. Kamu harus mencari jalan keluarnya bersama! Aah, makasih ya, Yo! Gue sedikit lebih lega sekarang." Kata Marsha.


"Itu gunanya teman kan? berbagi dalam kondisi apapun!" Kata Mario.


"Eh, gue lupa, gue sengaja bawain ini buat elo, malah gak ingat!" Kata Mario sambil menyodorkan coklat dingin yang mulai mencair, juga roti isi untuk Marsha.


"Aah, belum tua juga kamu udah pikun! Padahal perut aku sedang lapar!" Kata Marsha sambil cemberut. Mario tertawa.


"Makanya, kalau ada masalah jangan dipendam sendiri. Elo punya gue yang siap menampung semua cerita senang maupun sedih elo!" Kata Mario sambil mengacak pelan puncak kepala Marsha.

__ADS_1


...***...


__ADS_2