When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Galau


__ADS_3

Setelah dari restoran, Bertrand dan Marsha melanjutkan perjalan menuju ke lokasi yang diberikan oleh mama Marsha yang sebenarnya tak begitu jauh dari kantor milik keluarga Marsha.


Mereka memasuki sebuah halaman gedung semi perkantoran. Tempat dimana keluarga mereka menunjuk sebuah EO untuk mempersiapkan acara perhelatan pernikahan anak mereka.


Marsha dan Bertrand berjalan beriringan masuk ke kantor tersebut. Kedua ibu mereka berada di dalam segera menyambut anak-anak mereka dengan sumringah. Dan memperkenalkan mereka kepada pihak EO yang bertanggung jawab untuk acara mereka nanti.


Terlihat Marsha dan Bertrand yang mendadak kaku saat diajak membicarakan konsep yang sudah disusun keluarga mereka dengan pihak EO. Mereka hanya manggut-manggut saja menyetujui semua rancangan yang telah disusun. Sementara ke dua ibu mereka begitu sumringah dan bersemangat menyampaikan dan menjelaskan segala persiapan tersebut.


"Jadi, besok kami akan mulai mempersiapkan segalanya Bu, sesuai susunan acara, dari proses pengajian, siraman, akad hingga resepsi. Semoga saja semua berjalan lancar." Kata EO tersebut. Seorang karyawan EO tersebut datang dan memberikan sebuah paper bag berukuran lumayan besar.


"Oiya, ini tambahan undangan yang kemarin ibu minta." Kata EO tersebut sambil menyerahkan paper bag tersebut ke mamanya Marsha.


"Oya, ini tambahan undangan untuk kamu sama Bertrand nak, Kamu kan sama Bertrand pasti mau mengundang teman-teman kalian juga kan?" Kata mama Marsha sambil membagikan undangan tersebut untuk Marsha dan Bertrand.


"Enggak!!" Jawab kedua orang tersebut kompak, membuat kedua orang tua mereka sontak kaget mendengar koor anak mereka.


"Eh, gak, maksudnya enggak sebanyak ini, tan!" Ucap Bertrand cepat menyadari ucapannya barusan.


"Eh, iiya, aku juga, teman aku juga gak banyak ma, paling yang dekat aku telpon atau samperin langsung!" Kata Marsha menimpali ucapan Bertrand.


"Mau nyamperin gimana? ini hari terakhir kamu keluar, mulai besok kamu harus dipingit jadi pengantin!!" Sergah mama Marsha sambil melotot kan matanya.


"Nah, kan! Sudah tau gak ada waktu, ngapain aku di kasih undangan segini banyak??!" gerutu Marsha dalam hati.


"Lagi pula siapa juga yang mau aku undang?! Aku sama sekali gak kepikiran untuk mengundang siapapun. Ini pernikahan yang keluarga ku inginkan, bukan aku yang mau!" Gerutu Marsha di dalam hati.

__ADS_1


"Iya Tan, Terima kasih! aku cukup segini aja. ini nanti aku titipkan ke Ardian, teman aku sama Ardian juga sama semua!" Kata Bertrand sambil menyisihkan sebagian undangan yang diberikan Mama Marsha dan mengembalikan kembali ke wanita itu.


"Tuh, kamu bisa tiru Bertrand nak, kamu minta tolong Rista teman dekat kamu itu buat memberikan undangan kamu ke teman-teman yang lain. Kata Mama Marsha.


"Iya ma!!" Jawab Marsha malas.


"Huh!! yang ada aku bakal di cecar Rista karena udah lama banget gak ketemu setelah birthday party nya tempo hari! Eh sekalinya nongol datang-datang malah ngantar undangan kawin!!" Dumel Marsha dalam hati.


"Aah, andai aja aku punya kekuatan untuk menolak dari awal. Tapi kenyataannya aku gak pernah punya keberanian untuk menolak keinginan semuanya, apa lagi ini keinginan kakek. Apa yang gak pernah kakek kasih buat aku???? gak ada..!" Keluh Marsha nelangsa.


Dari kecil, kakek selalu memanjakannya, mengabulkan setiap permintaan nya, masa saat kakek meminta sesuatu untuk pertama kalinya harus ia tolak?


"Mungkin nasib gue!" Keluhnya lagi di dalam hati.


Marsha menarik nafasnya panjang dan dalam.


"Marsha!!!" Teriak mamanya sedikit nyaring.


"Eh, iya ma??!" Tanya Marsha bingung. Ternyata ia sedang melamun dari tadi.


"Itu, Bertrand dari tadi nungguin kamu, kamu pulang duluan. Mama dan mama Bertrand masih ada hal yang harus di urus. Lusa lagi acara kamu, waktunya udah mepet!, jadi mama dan mama Bertrand masih harus kesana kemari untuk memastikan semuanya sudah dipersiapkan dengan matang." Kata Mama Marsha lagi.


"Oh, eh iya!" Sahut Marsha malas. Dia segera pamit dari hadapan mamanya dan mama Bertrand, Lalu menyusul Bertrand yang sudah berjalan lebih dulu menuju keluar kantor EO tersebut.


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Marsha dan Bertrand saling diam dengan pikirannya masing-masing. Tanpa terasa, mobil yang dikendarai Bertrand telah sampai di depan rumah Marsha.

__ADS_1


"Berhenti di sini dulu!" Pinta Marsha sebelum mobil Bertrand memasuki gerbang halaman rumahnya. Bertrand segera menghentikan kendaraannya.


"Ada apa?" Tanya Bertrand pendek.


"Apa elo udah siap dan yakin untuk menjalani pernikahan ini?" Tanya Marsha ragu. Dia benar-benar galau. Dan semakin mendekati harinya, perasaannya menjadi semakin tak karuan.


Bertrand menarik nafasnya panjang, lalu menjawab pertanyaan Marsha setelah dihempaskannya nafasnya berat. Dia bisa merasakan kegelisahan yang dirasakan Marsha. Karena jujur, dia pun merasakan hal yang sama.


"Siap gak siap, yakin gak yakin, toh apa gunanya? Baik elo ataupun gue sama-sama gak bisa menolak atau pun lari dari hal ini kan?" Tanya Bertrand sambil menatap Marsha yang tengah meremas jarinya.


"Tapi, kita yang bakal menjalani ini dengan semua konsekuensinya nanti, aku gak bisa membayangkan semuanya bisa berjalan baik! Apa hal ini masih bisa di rubah?" Tanya Marsha lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Bertrand.


"Maksud elo di rubah gimana? elo mau bilang sama kakek elo gak setuju dan mau membatalkan pernikahan kita?! Apa elo gak dengar kata EO tadi? Sebagian undangan telah di sebar. Dan gue yakin, kakek kita pasti sudah menyampaikan kabar ini ke keluarga lain, teman dan juga kerabat mereka. Elo tau betapa malunya kakek juga anggota keluarga yang lain jika kita tiba-tiba menghilang di hari pernikahan kita yang sangat ditunggu oleh mereka. Apa elo bisa bayangkan betapa shocknya mereka, dan juga reaksi lainnya yang bisa saja timbul terutama yang berhubungan dengan kesehatan mereka, di saat mereka tau dan kecewa dengan langkah yang kita ambil? Belum lagi jika harus mendengar beragam reaksi dari orang lain."


Marsha terdiam mendengar ucapan Bertrand. Bertrand benar. Dia bisa saja lari dari perjodohan ini, tapi bagaimana malunya keluarganya jika itu terjadi? Undangan pernikahannya dan Bertrand sudah disebar, jika hal itu batal terlaksana, keluarganya pasti akan malu, dan itu bisa saja menimbulkan masalah lain.


Ia menarik nafas dalam dan menghempaskannya kasar.


"Sudahlah, kita tinggal menjalani hal ini sesuai kesepakatan yang waktu itu pernah kita bicarakan. Ini hanya masalah waktu. Kita hanya menjalani kepura-puraan ini sementara waktu. Hitam di atas putih sesuai keinginan elo waktu itu. Gue gak akan mencari keuntungan apapun dari hal ini! Elo boleh pegang ucapan gue!" Kata Bertrand meyakinkan Marsha.


"Oke! Gue pegang ucapan elo. Kita tetap lakukan hal ini sesuai percakapan kita tempo hari!" Ucap Marsha perlahan.


Bertrand mengangguk. Ia kembali menjalankan mobilnya masuk ke halaman rumah Marsha. Setelah memastikan gadis itu benar-benar masuk ke dalam rumah, barulah Bertrand kembali menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Marsha.


...***...

__ADS_1


__ADS_2