
Bertrand terbangun dari tidurnya, pertama kali membuka mata, terlihat Marsha yang masih tertidur nyaman di sampingnya. Dilihatnya jam yang ada di dinding kamar. Pukul 3.50 pagi. Bertrand bangkit perlahan dari pembaringan. Ia ingin buang air kecil ke kamar mandi.
Bertrand juga mencuci wajahnya di westafel. Ia merasa kondisinya jauh lebih baik dari kemarin. Setelah urusan di kamar mandi selesai, Bertrand kembali ke tempat tidur. Di rebahkan nya kembali tubuhnya di samping Marsha. Bertrand memiringkan tubuhnya menghadap wajah yang masih pulas itu. Dipandanginya lama.
"Aku salah apa, Sha? Sampai kemarin kamu pergi dan membuat aku kacau. " Bisik Bertrand pelan, tangannya mengusap wajah itu dengan mata yang menatap sayu.
Perlahan, kesadaran Marsha terkumpul saat merasakan sentuhan dingin di wajahnya. Efek tangan Bertrand yang dingin karena menyentuh air saat mencuci wajah. Dia membuka matanya. Dilihatnya Bertrand tengah menatapnya dengan sebelah tangan yang memegang wajahnya.
"Kenapa? " Tanya Marsha. Bertrand hanya menggeleng. Ditariknya tangannya dari wajah Marsha. Marsha melirik jam. pukul 4 pagi lewat sedikit. Marsha bergerak dari posisinya, ia menggeser tubuhnya mengambil posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Diikuti Bertrand yang juga mengambil posisi duduk di samping Marsha.
"Ini masih terlalu pagi. Kamu lanjut istirahat gih. Gimana badan kamu udah enakan? atau kamu lapar, mau makan? " Tanya Marsha sambil tangannya menyentuh kening Bertrand.
Bertrand menarik tangan Marsha dan menggenggam nya.
"Aku udah enakan kok. Rasanya tidur aku nyenyak banget, makanya bangun lebih pagi. "
Marsha mengangguk. Dia menarik tangannya dari genggaman Bertrand, tapi di tahan oleh Bertrand.
"Sha.. Aku boleh peluk kamu? " Izin Bertrand. Marsha menatap Bertrand yang di balas Bertrand dengan tatapan yang dalam. Marsha seakan terhipnotis oleh tatapan itu. Membuatnya menjadi terpaku.
"Aku boleh peluk kamu? " Ulang Bertrand tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Marsha mengerjapkan matanya, kemudian mengangguk.
Bertrand menggeser tubuhnya mendekati Marsha. Segera direngkuh nya tubuh itu dalam pelukannya, disandarkan nya kepala Marsha tepat di dadanya. Jantung nya berdetak lebih kencang dan cepat. Pun dengan aliran darahnya. Membuat dirinya menghangat. Begitu pun Marsha. Dia merasa jantungnya berdetak kencang seperti detak jantung Bertrand yang tepat berada wajahnya. Sejenak, mereka diam dengan posisi nyamannya. Bertrand mengecup pucuk kepala Marsha lama, Marsha memejamkan mata mencoba meresapi apa yang ada di hatinya saat ini.
"Terima kasih sudah mau pulang. Maaf, jika aku membuat kamu marah. Tolong jangan pernah pergi lagi! " Ucap Bertrand perlahan.
__ADS_1
"Aku gak tau mau bilang apa, aku hanya berharap kami bisa merasakan apa yang aku rasa saat ini! " Ucapnya lagi. Marsha hanya diam. Tak ada suara yang keluar dari bibirnya untuk merespon ucapan Bertrand.
Bertrand menunduk, melihat Marsha yang juga menundukkan kepalanya di dada Bertrand. Berlahan, Bertrand mengangkat dagu Marsha dengan tangannya. Marsha mendongak menatap Bertrand. Bertrand memperhatikan wajah gadis di depannya. Alisnya yang rapi melengkung sempurna. Matanya yang hitam dan teduh. Hidung kecil dan sedikit mancung. Bibirnya yang tipis dan berwarna pink. Semua tampak sempurna dimata Bertrand. Berlahan ibu jari Bertrand menari membelai wajah Marsha. Marsha memejamkan mata merasakan sentuhan Bertrand. Dari pipi, kemudian bergerak ke bibir Marsha. Mereka saling bertatap, lalu entah siapa yang memulai, wajah keduanya semakin mendekat, hingga hela nafas keduanya saling menyentuh kulit lawannya. Bibir mereka bertemu. Entah karena terbawa perasaan, atau kondisi pagi hari dengan horman yang meningkat, membuat tubuh mereka mudah bereaksi terhadap rangsangan. Marsha memejamkan matanya, tubuhnya menerima sinyal yang berbeda, serasa ada sensasi yang jauh berbeda dari ciuman Bertrand sebelumnya,sensasi yang diikuti oleh keinginan dan hasrat menuntut lebih dalam, entah bagaimana Marsha membalas setiap pagutan yang diberikan Bertrand di bibirnya.
Bertrand melepas ciumannya, tanpa merubah posisi di tatapnya Marsha dekat dan lekat, Marsha membuka mata dan yang pertama dilihatnya adalah mata Bertrand yang menatapnya dalam, tanpa suara, Bertrand mencari jawaban dari keinginannya menuntut lebih kali ini, meminta gak yang harusnya dari awal pernikahannya bisa ia dapatkan. Dan kali ini Marsha menyerah, karena dirinya juga tak ingin berhenti, menginginkan sesuatu yang lebih memabukkan yang meruntuhkan benteng yang sudah ia bangun dari awal hubungan ini terbentuk. Ia kembali memejamkan matanya perlahan dan itu Bertrand anggap sebagai jawaban 'YA' untuk ia lanjutkan hasratnya yang sudah tak terbendung lagi.
---____---
Marsha terbangun saat matahari sudah bersinar terang. Beruntung hari ini libur nasional, sehingga ia tidak perlu repot terburu-buru atau bahkan bolos dari tanggung jawabnya di kantor.
Marsha merasakan beberapa bagian tubuhnya yang polos dan hanya berbalut selimut itu terasa sedikit nyeri. Dilihatnya Bertrand yang tertidur pulas disampingnya dengan tangan yang melingkar di atas tubuhnya. Berlahan Marsha memindahkan tangan tersebut, setelah bebas dari kungkungan Bertrand, Marsha berusaha meraih selimut lain yang ada di tempat tidur untuk menutup tubuhnya, karena Marsha sadar Bertrand juga sama polosnya dengan dirinya saat ini, jadi tidak mungkin dia menarik selimut yang baru saja dia pake bersama Bertrand.
Marsha membersihkan diri di kamar mandi. Selama disana ia merenung tentang apa yang terjadi pada dini hari tadi. Marsha memejamkan mata. Ia ingat semua. Saat ia dengan kondisi sadar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Bertrand hingga semuanya terjadi. Marsha merasakan semua perlakuan Bertrand yang baik dan lembut, juga dengan hati-hati agar tidak menyakiti nya. Marsha juga masih ingat dengan reaksi tubuhnya yang sama sekali tidak menolak, bahkan perasaannya pun menginginkan hal yang sama hingga bagaimana mereka mencapai puncak bersama-sama.
Marsha menatap wajahnya di cermin. Melihat dan membaca ekspresi wajahnya sendiri.
Tidak. Sama sekali tidak menyesal. Bahkan ia merasa hatinya saat ini lebih ringan. Entah apa sebabnya. Rasa gundahnya beberapa hari yang lalu seperti hilang entah kemana.
Marsha mencoba tersenyum pada dirinya sendiri, dan melihat senyuman miliknya yang terpantul dari cermin di hadapannya.
Marsha segera menyelesaikan mandinya. Dan keluar dari walk in closet dengan sudah berpakaian santai. Di lihatnya Bertrand yang masih tertidur pulas dengan posisinya tadi. Marsha keluar dari kamar dengan berlahan. Dia akan ke dapur menyiapkan sarapan atau mungkin makan siang? karena matahari sudah semakin tinggi. Dia membuka kulkas, memilih bahan-bahan yang akan di olahnya dan meletakkannya pada wadah-wadah yang sudah disiapkan di meja kitchen set.
---___---
Bertrand terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam dinding kamarnya, sudah pukul 11. Marsha sudah tidak ada disampingnya. Dia bergerak menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, selimutnya melorot, dilihatnya tubuhnya yang polos. Bertrand tersadar sesubuh tadi dia akhirnya melakukan apa yang selama ini ia tahan bersama Marsha. Bertrand membuka bagian kasur yang tertutup selimut. Ada bercak kering di sprei mereka. Ia tersenyum, ternyata ini benar terjadi. Ia sama sekali tidak bermimpi. Bertrand mengambil pakaian tidurnya tadi malam yang tersusun di ujung kasur. Memakainya sebelum ia mencuci muka ke kamar mandi dan membersihkan sprei dan selimut sisa percintaannya dan Marsha.
__ADS_1
---____---
Marsha yang tengah menunggu masakannya matang terkejut saat sepasang tangan tiba-tiba melingkar di perutnya.
"Hai, sayang! " Sapa Bertrand sambil memeluk Marsha dari belakang. Ditopangnya dagunya di bahu Marsha. Tercium aroma sabun dan shampoo dari tubuh Marsha. Bertrand memejamkan mata menghirup dan menikmati aroma tubuh Marsha.
"Aku lagi masak mas! " Kata Marsha sambil fokus mengaduk bistik daging di wajan. Dia berusaha melepaskan diri dari Bertrand.
takk!!
Bertrand mematikan kompor yang sedang Marsha gunakan. Marsha menghela nafas. Bertrand memutar tubuh Marsha hingga mereka saling berhadapan.
"Kenapa mas? " Tanya Marsha jengah.
Bertrand hanya diam, di tatapnya wajah Marsha, di rapikannya anak rambut yang menutupi wajah Marsha.
"Makasih, makasih buat semuanya! " Di tatapnya Marsha dalam. Marsha diam, wajahnya terasa menghangat.
"I love u. " Ucap Bertrand lagi. Marsha memalingkan wajahnya. Merasa malu untuk melihat Bertrand. Kini wajah itu memerah. Bertrand terkekeh.
"Ya udah, lanjutin lagi masaknya, aku mau mandi dulu! " Kata Bertrand sambil mengacak puncak kepala Marsha. Baru beberapa langkah meninggalkan Marsha. Bertrand kembali berbalik.
"Lupaa!!!!!".
Cup!!! dikecupnya bibir Marsha kemudian pergi sambil tertawa.
__ADS_1
Huaaa!!!! perasaan Marsha bener-bener campur aduk sekarang!!!!!
----_____----