
Bertrand mengantarkan Marsha hingga di depan rumah. Sepanjang perjalanan mereka saling diam. Sesekali Bertrand mencoba melirik Marsha. Sementara Marsha membuang pandangannya ke jendela yang berada di sampingnya selama perjalanan menuju rumahnya.
Marsha membuka pintu mobil, sebelum turun dia sempat berterima kasih kepada Bertrand karena telah mengantarnya pulang.
"Thanks!" Ucap Marsha sembari keluar dan menutup kembali pintu mobil Bertrand. Marsha pikir Bertrand akan secepatnya melanjutkan perjalanannya kembali, tapi tanpa di sangka lelaki yang dari tadi hanya dia sambil mengemudikan kendaraannya itu justru ikut turun dari mobilnya. Marsha terlihat bingung melihat Bertrand yang juga keluar dari dalam mobil.
"Elo mau ngapain?" Tanya Marsha.
"Gue udah antar elo pulang, apa gak bisa sedikit berbasa-basi nawarin buat singgah?" kata Bertrand cuek.
"Loh kan gue gak minta, tapi elo sendiri yang nawarin kan?" Tanya Marsha bingung.
"Walaupun elo gak minta, tapi paling gak elo bilang terima kasih, tawarin singgah dan minum segelas kopi sama orang yang sudah mau dengan sukarela ngantar elo pulang! itu namanya sopan santun!!" Kata Bertrand sambil berlalu dan duduk di teras rumah Marsha yang megah.
"Dasar aneh ni orang!" gumam Marsha pelan. Namun gumamannya terdengar oleh Bertrand.
"Ngomong apa barusan?" Tanyanya sambil berdiri di hadapan Marsha.
"Apa?" Tanya Marsha sambil menatap Bertrand yang ada di hadapannya dengan jengkel.
"Gue dengar apa yang elo bilang barusan!" Kata Bertrand ketus.
"Kalo dengar ngapain nanya?" Tanya Marsha tak kalah ketus.
"Dasar gak sopan!" Kata Bertrand sambil menjitak kepala Marsha. Tuk!
"Aww!!! Sakit tau!! Ngapain elo hitam kepala gue!" Jerit Marsha sambil memegang kepalanya yang menjadi korban jitakan Bertrand.
"Itu biar elo bisa lebih menghargai orang yang udah berbuat baik sama elo!" Kata Bertrand sambil kembali duduk dan berselonjor di tangga teras.
__ADS_1
Marsha mendengus kesal.
"Terserah elo deh!" Ketusnya.
Dia berjalan menaiki tangga keras, lalu saat akan membuka pintu, seseorang sudah membukanya dari dalam. Ayah Marsha.
"Marsha? papa kira tadi siapa!" Kata papa Marsha saat dilihatnya putrinya ada di depan pintu.
"Loh, Bertrand? Kenapa selonjoran di situ? Sejak kapan kamu datang?" Tanya papa Marsha bingung.
"Barusan oom, nganterin Marsha pulang!" Kata Bertrand sambil berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati papa Marsha. Dia mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan papa Marsha dengan santun.
"Wah, kejutan ini! Tapi kok gak di suruh masuk, Sha? Ayo, nak Bertrand, mari masuk, ada kakek juga di dalam!" Kata papa Marsha ramah.
"Terima kasih, Oom!" Kata Bertrand, dan tanpa sungkan berjalan masuk ke dalam. Sementara Marsha hanya bengong dengan tingkah Bertrand.
"Sha, kok bengong? ayo cepat masuk, udah mulai gelap!" Tegur papanya.
...***...
"Jadi tadi kamu habis ketemu sama Marsha di cafe?" Tanya Kakek antusias melihat kedekatan yang mulai terjalin antara cucu nya dan cucu sahabatnya itu.
"Iya kek, kita sengaja janjian, terus aku antar Marsha pulang." kata Bertrand manis. Adiwijaya terlihat sangat senang. Mereka mengobrol banyak hal. Sampai Adiwijaya mengajak Bertrand makan malam di rumah mereka.
"Loh, ini Marsha mana? kok gak muncul-muncul?" Tanya Adiwijaya kepada papa Marsha.
"Tadi sih dia langsung ke kamar nya, mungkin bersih-bersih dulu. Coba kamu cek ke atas, Ma, bilang kakek ajak makan malam." Kata papa Marsha memerintah istrinya yang sudah bersiap di meja makan.
Mama Marsha mengangguk. Dia segera menuju ke kamar anak gadisnya itu, dan mengajaknya turun untuk makan malam bersama sesuai perintah suaminya itu, lalu ia kembali turun ke tempat anggota keluarga lain berada.
__ADS_1
"Mana Marsha?" Tanya Adiwijaya kepada menantunya itu.
"Sebentar lagi pa, Marsha baru selesai mandi." jawab mama Marsha.
Tak lama, Marsha pun turun dan tiba di ruang makan. Dengan santai dia berjalan dan menarik kursi di sebelah Bertrand. Adiwijaya dan kedua orang tua Marsha tersenyum melihatnya.
"Ada apa, kok pada senyum gitu?" Tanya Marsha sambil duduk di kursinya. Dia belum menyadari keberadaan Bertrand.
Bertrand menoleh ke arah Marsha, membuat Marsha menjadi kaget!
"Elo? Kok masih disini?" Ucapnya spontan. Dia fikir yang duduk di sebelahnya adalah Andrew. Karena postur Bertrand dan Andrew hampir sama.
"Makan malam, di ajak kakek!" Kata Bertrand Sambil tersenyum manis meledek.
"Hush! Marsha!! Gak sopan seperti itu. Lagi pula kenapa sampai kaget begitu? Bukannya tadi sore juga kamu habis janjian bareng Bertrand, sampai diantar pulang lagi. Kok sekarang malah seperti itu?" Tegur papa Marsha.
"Udah oom, gak pa-pa, mungkin Marsha pikir aku udah pulang tanpa pamit ke dia dulu, jadi kaget!" Kata Bertrand dengan nada maklum sambil menatap Marsha. Sementara Marsha hanya bisa tutup mulut mendumel dalam hati sambil melototkan matanya ke arah Bertrand. Bertrand tertawa dalam hati melihat ekspresi gadis yang ada di sebelah nya. Entah kenapa hari ini dia begitu senang mengusili gadis yang sebentar lagi akan menjadi jodohnya itu.
...***...
Sepanjang makan malam hingga Bertrand pun. pamit untuk pulang, Marsha terus tak henti merutuk di dalam hati dengan semua tingkah sok manis Bertrand di hadapan keluarganya. Belum lagi ucapan kakek sebelum Bertrand pamit pulang yang di jawab Bertrand dengan sok imut, menurut Marsha.
"Sering-seringlah berkunjung ke sini, biar kita semakin dekat, apa lagi rencana pernikahan kamu dan Marsha juga semakin dekat. Kalian harus lebih sering bertemu untuk bertukar pikiran tentang masa depan nanti!" Kata Adiwijaya sambil memeluk cucu sahabatnya itu.
"Iya kakek, asal Marsha gak Keberatan aku main kesini, aku pasti kesini!" Kata Bertrand sambil melirik Marsha yang tak berhenti melotot tapi tak bisa berbuat apapun di hadapan kakeknya.
"Apa sih maunya ni orang? Kok bisa-bisanya dia jadi sok baik kaya gini? Biasanya juga sok, sombong, arogan. Awas aja sampai elo mau main-main sama gue!!)))!" Ucap Marsha di dalam hati.
Dia ingat percakapannya dengan Bertrand di cafe tadi, bahwa ia tak akan mengajukan persyaratan apapun dalam pernikahan sementara mereka.
__ADS_1
"Awas aja kalo sampai ketahuan dia punya niat yang gak benar!" Ucap Marsha lirih sambil memejamkan mata dan berusaha untuk tidur di kamarnya yang nyaman.
...***...