
Keluarga Andara Adiwijaya tengah berkumpul di ruang makan. Mereka baru saja menikmati makan malamnya saat Adiwijaya mengatakan suatu hal.
"Besok kita akan kedatangan tamu, keluarga dari Wisnu Hutama,sahabat kakek. Kakek minta semua berkumpul, tidak boleh ada yang absen." Kata kakek sambil menatap mereka semua satu persatu, lalu tatapannya berhenti lama di Marsha.
"Marsha, kamu besok tidak ada janji atau acara di luarkan?" Tanya Kakek.
Marsha menggeleng. Ada acara pun pasti akan dia batalkan. Marsha tau, ucapan kakek adalah perintah.
"Bagus!" Kata Kakek.
"Kakek lihat akhir-akhir ini kamu selalu telat pulang. Kamu ada kerjaan atau bermain?" Tanya Kakek lagi.
"Maaf kek, Marsha hang out bareng teman." Jawab Marsha. Kakeknya menggangguk. Dia suka dengan kejujuran cucu-cucunya.
"Bagaimana dengan kerjaan?" Tanya kakeknya lagi.
"Semua lancar kek, Kak Andrew selalu membimbing aku!" Jawab Marsha. Adiwijaya tersenyum. Dia tahu cucu perempuannya dapat beradaptasi dan belajar dengan cepat. Persis seperti kakaknya, Andrew.
"Baiklah, kalau gitu. Kakek ingin segera beristirahat malam ini." Kata kakek sambil beranjak dari meja makan menuju kamar tidurnya.
Marsha pernah beberapa kali bertemu Wisnu Hutama. Dia seorang lelaki yang berkarisma dan bijaksana. Tapi dia juga sosok yang baik hati dan ramah. Marsha juga ingat keluarga Wisnu Hutama sebelumnya pernah mengunjungi mereka sebelumnya. Dan seingat Marsha dulu Wisnu Hutama pernah membawa cucunya yang sebaya Andrew ke rumah ini.
"Marsha, besok bangun pagi-pagi bantu mama beres-beres di dapur ya nak!" Kata Mama Marsha.
"Iya ma!" Jawab Marsha.
"Jadi anak perempuan harus pintar di dapur, sering-sering aja ma suruh Marsha nongkrong di dapur. Kalau gak dia ga bisa bedain kencur sama jahe lagi!" Gelak Andrew.
Marsha cemberut, di tendangnya kaki kakaknya yang duduk di hadapannya dari bawah meja.
"Aw! Marsha!!" Kata Andrew sambil melotot kan matanya.
"Kenapa Ndrew? Adik kamu gak ngapa-ngapain kok!" Kata Mama. Marsha melirik Bertrand sambil menahan tawa.
"Ma, aku udah selesai makannya, aku ke atas dulu ya." Kata Marsha sambil kabur dari meja makan. Membuat Andrew gemas dengan kelakuan adiknya itu.
...***...
"Besok keluarga Adiwijaya mengundang makan siang di rumahnya, semua harus hadir. Termasuk kamu Bertrand!" Kata Hutama.
Papa dan mama Bertrand mengangguk. Sementara Bertrand asyik mengunyah makanannya.
"Bertrand?" Tanya kakeknya.
__ADS_1
"Iya kakek, aku dengar!" Jawab Bertrand malas.
"Ingat, jangan coba-coba gak datang. Adiwijaya sahabat kakek, dan bukannya kamu juga punya kerjasama dengan Adiwijaya?" Tanya kakeknya.
"Iya kek, aku tau!" Jawab Bertrand. Sementara Wisnu Hutama dan Candra Hutama, ayah Bertrand saling melempar senyum.
...***...
Pagi-pagi Marsha sudah bangun. Begitu selesai sarapan, Marsha membantu mamanya menyiapkan beberapa snack dan makan siang lalu menatanya di meja makan dan gazebo yang ada di taman samping yang tembus pandang dari ruang makan.
Beberapa kali Andrew datang hanya sekedar mengganggu dan menggoda adiknya itu.
"Kalian ini, sudah gede, tapi masih aja kayak anak kecil!" Kata Karisma sambil geleng-geleng kepala. ART pun hanya tersenyum melihat tingkah tuan dan nona muda mereka.
"Ma, kok perut aku mulas ya!" Kata Marsha.
"Kamu kebanyakan nyicip makanan dari tadi gak berhenti-henti. Jadinya mules kan karena kebanyakan makan." Kata Karisma.
Marsha hanya nyengir, mondar mandir di dapur membuatnya sering bolak balik mengambil cemilan dan makanan yang ada di dapur.
"Soalnya enak semua, makanan kesukaan aku pula, jadinya susah nolak!" Kata Marsha lagi.
"Cepetan beresin, nanti keburu tamunya datang loh!" Kata Mama Marsha.
Semua hampir beres, saat Marsha merasakan mulas yang tak tertahan.
"Duh ma, makin mules! aku ke kamar mandi dulu ya!" Kata Marsha sambil ngacir ke kamar mandi.
"Langsung mandi dan ganti baju nak, bentar lagi tamunya mungkin datang, mama juga mau siap-siap!" Teriak Mama Marsha.
...***...
"Ah, lega!" Kata Marsha begitu dia keluar dari kamar mandi. Dia segera bersiap-siap mengganti baju yang lebih sopan dan pantas untuk tamu mereka. Setelah selesai bersiap-siap Marsha kembali turun ke bawah. Andrew, papa dan kakeknya sedang bercengkrama di ruang keluarga. Marsha kembali ke dapur. Ternyata mama di sana memastikan semuanya benar-benar sudah siap.
"Masih mules?" Tanya mamanya saat anak perempuannya kembali ke dapur.
"Udah kurang ma, ni karena rujak buatan mbak neng ni, pedas banget!" Kata Marsha sambil menunjuk Mbak Neng, salah satu ART mereka.
"Kok malah nyalahin mbak Neng? Udah tau perut kamu gak tahan pedas. Masiiiih juga!" Kata mama Marsha. Marsha hanya nyengir mendengar ucapan mamanya.
"Udah, beres! Yuk nunggu di depan!" ajak Mama Marsha. Marsha mengangguk. Dia berjalan mengikuti mamanya menuju ruang keluarga.
"Udah beres ma?" Tanya Papa Marsha saat dilihatnya istri dan anak perempuannya menghampiri mereka.
__ADS_1
"Sudah kok pa. Udah beres semua!" Kata Malam Marsha sambil duduk di samping suaminya. Marsha berjalan melewati Andrew, dan akan duduk di samping kakeknya. Tapi tiba-tiba Andrew merentangkan kakinya hingga membuat Marsha tersandung, dan dengan cepat dia menarik tangan Marsha, membuat gadis itu oleng dan terjerambab di sofa.
"Andrew!!! kalau ngerjain adikmu jangan kelewatan!" Marah Karisma.
"Kamu ini, kalau adikmu jatuh terbentur meja bahaya, Ndrew!" Kata papa mereka tegas.
Andrew hanya nyengir mendengar Omelan orang tua nya.
"Sakit gak? Gak kan?" Tanya Andrew sambil memeluk adiknya dengan tangan kanannya.
Marsha tidak menjawab, tapi gantinya dia memberikan cubitan yang sangat kecil di lengan kanan Andrew yang sedang merangkul Marsha.
"Aww, sakit Sha, Ampun!" Kata Andrew sambil menarik lengannya yang merangkul adiknya itu. Dia mengusap lengannya yang berbekas karena cubitan Marsha.
"Kalau aku cidera, aku bakal minta ganti rugi sama kakak!" Kata Marsha sambil cemberut.
"Yang ada kakak yang cedera kena cubitan kamu!" Kata Andrew tak mau kalah.
Marsha menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi. Ditekannya perutnya dengan kedua tangan.
"Kenapa dek?" Tanya Andrew saat dilihatnya Marsha yang seperti orang lesu.
"Perut aku sakit!" Jawab Marsha pendek.
Andrew menggeser duduknya, di pegangnya kening adiknya. Biasa saja, tidak panas. Dia menggeser duduknya mendekat ke Marsha dan mengusap pelan kepala adiknya.
"Kebanyakan makan rujak pedas tadi. Makanya kaya gitu." Kata mama.
"Udah tau gak tahan, kok masih di makan?" Tanya Andrew.
"Ngiler!" Jawab Marsha pendek.
"Kamu ini, masih juga bandel!" Kata Andrew sambil memeluk adiknya semata wayangnya.
Papa, mama dan kakeknya hanya tersenyum samar melihat kedekatan hubungan kedua anak mereka.
"Adik kamu itu bukan anak kecil lagi di perlakukan seperti itu!" Tegur Adiwijaya.
"Tapi mau sedewasa apapun dia tetap adik aku kek, Adik kesayangan aku!" Jawab Andrew, diciumnya kening Marsha dengan sayang. Marsha terharu. Dia membalas pelukan kakak lelaki satu - satunya itu.
Dan lagi-lagi membuat orang tua mereka kembali geleng-geleng kepala.
...***...
__ADS_1