Young Dad!

Young Dad!
Chapter 10


__ADS_3

Sudah pagi, Embun sudah bangun. Menyiapkan makanan untuk sarapannya dengan Elisha yang masih mandi di kamar mandi. Tak lupa Embun juga menyiapkan tas sekolahnya dan sepatunya, syukurnya ukuran sepatu mereka berdua sama jadi Embun bisa meminjamkannya. Elisha merasa tidak enak saat itu, dia terus menatap ke arah Embun.


Suara klakson motor Sore terdengar dari kejauhan yang terus dia tekan terus menerus.


Woy berisik!! — Teriak bapak-bapak dari dalam rumahnya berteriak.


Sore berhenti memainkan Klakson itu dan langsung gas cepat kerumah Embun.


Tok tok tok — suara ketukan pintu.


"Embun.... Embun...." Nadanya seperti suara anak kecil yang sedang mendatangi teman untuk mengajak main.


Terbuka pintu rumahnya itu namun bukan Embun yang membukanya melainkan Elisha. Keduanya saling manatap satu sama lain dan membeku di tempat.


"Ngapain lo disini"


"Gue nginep"


"Maling lo ya"


"Gue tabok ya mulut lo"


"Eh kok jadi adu bacot sih" lerai Embun.


"Kan saya sudah bilang jangan jemput lagi" tambah Embun.


"Ya gapapa dong"


"Yaudah mending sekarang kamu berangkat sendiri aja ya"

__ADS_1


"Kok sendiri!? saya dateng kesini buat jemput kamu, bukan mau jemput angin"


"Saya kan berangkat bareng Elisha"


"Boti dah boti"


"Astaga, banyak-banyak istigfar kamu" cubit Sore dengan kencang.


"Maksud saya Bonceng bertiga"


"Udah gila lo" Sentak Elisha.


Alhasil Embun dan Elisha memesan ojek online untuk pergi ke sekolah.


"Maaf pak ini helmnya, makasih ya pak"


"Sama-sama neng"


"Kemana aja kamu" Jitak pak Dadang pelan sambil bercanda.


"Maaf ya pak"


"Iya saya ngerti, kamu pasti kesusahan selama ini. Maafkan saya ya"


"Drama terus" ucap Sore sambil berjalan melewati mereka.


namun, bajunya ditarik oleh Embun dan memintanya untuk minta maaf kepada pak Dadang.


"Kamu kenapa sih gak pernah sopan sama pak Dadang" bisiknya memarahi kearah Sore namun tersenyum kearah pak Dadang.

__ADS_1


"Dia emang gitu, ke orang tua sendiri durhaka lo" Kata Elisha.


"Orang tua sendiri?" bingung Embun.


"Iya pak Dadang kan Ayahnya Sore" beritahu Elisha kepada Embun.


"Bukan Ayah yang kasih tau, tapi Elisha ya" Kata pak Dadang sambil menatap Sore dengan jelas wajahnya gerutu.


"Apa!?" Sentak Elisha.


"Yaudah lah gak penting juga" ucapnya yang hendak pergi.


"Gapapa Sore seperti itu karena saya juga"


"Baru nyadar" Kata Sore yang mendengarnya.


"Kamu yah, awas aja. Jangan ngarep buat ngomong sama saya. Ngomong sama orang tua kok gitu" Ucap kesal Embun mengarah pada Sore. Sore tiba-tiba menjadi serba salah saat mendengar Embun berbicara seperti itu. Bagaimana pun baru saja ia berhasil mendekatinya, tidak mungkin jika akan adu bacot kembali seperti pertama kali mereka bertemu.


"Pak saya duluan yah" ucap Embun yang tiba-tiba lari sambil memegang perutnya.


Elisha yang melihatnya inisiatif untuk mengejar Embun, karena takut terjadi apa-apa. Mengarah ke kamar mandi, Sore yang berlari tidak fokus itu baru akan masuk kedalam ditarik oleh Jeo dan Kio.


"Eeee... mau ngapain lo. Itu Wc cewek, lo mau ganti gender?"


Sore baru sadar, dan terus menunggu Embun. Panik wajahnya, berjalan kesana-kemari tak tentu. Jeo dan Kio yang melihatnya sudah sangat bosan dan kesal.


"Diem napa lo, kek nunggu istri persalinan aja" kata Jeo.


"Pusing mata gue liat lo" kata Kio.

__ADS_1


"Diem deh lo, lagian ngapain juga lo pada diem disini?" Sentak Sore.


__ADS_2