
"Kamu Atlet Anggar?" Tanya Embun.
"Nguping?"
"Semua orang tau pak Dadang pelatih Anggar"
"Kata siapa saya Atlet"
"Ya pak Dadang nyamperin kamu itu udah memperlihatkan kalo kamu Atlet, jarang-jarang pak Dadang nyamperin murid"
"Gak jelas, orang dia malak" jawab dengan tengilnya.
"Gak sopan kamu" Pukul tubuh Sore.
"Aw! sakit tau"
"ya kamu lagian, itu guru kamu kenapa bilang pake kata dia"
"Ya emangnya kenapa, terserah saya lah"
"Dahlah gak akan beres-beres ngomong sama orang yang gak mau kalah"
"Saya denger"
"Ya saya tau, kan kamu punya telinga"
Jam pelajaran berlangsung, kejahilan Sore beraksi ia terus memainkan rambut Embun dengan pulpennya sembari tiduran dimeja belajarnya. Terus mengajak bicara Embun yang sedang fokus mendengarkan guru yang sedang menjelaskan di depan papan tulis. Embun menghelakan nafasnya dengan sangat dalam lalu menguncir rambutnya. Baru saja mengambil beberapa helai rambut, kuncir rambut ditangan Embun diambil oleh Sore.
"Siniin gak?"
"Jangan di kuncir, gak baik diliat"
"Apasih gak jelas banget"
Sore! Maju kedepan kerjakan soal ini
Diketahui sistem persamaan
3x−5y\=−1
__ADS_1
5x+2y\=19
Nilai (3x−2y) adalah .... —soal di papan tulis.
Sore berdiri berjalan menghampiri papan tulis dan tangannya pun mulai mengerjakan soal itu dengan sangat lancar dan tak ada kendala.
3x−5y\=−1 |x2|
5x+2y\=19 |x5|
6x − 10y \= -2
25x +10y \= 95
--------------------- (+)
31x \= 93
x \= 93/31
x \= 3
6x − 10y \= -2
18 - 10y \= -2
-10y \= -20
y \= -20/-10
y \= 2
3x−2y
\= 3(3) − 2(2)
\= 9 - 4 \= 5
Bu, gak usah heran. Sore orangnya emang gak pernah fokus sama pelajaran tapi kalo masalah ngisi mengisi otak dia cair banget. — Ucap Kio kepada guru baru matematika itu.
__ADS_1
"Bener bu, saya yang dari tadi perhatiin ibu menjelaskan saja gak ngerti-ngerti ckckck" tambah Jeo.
"Kamu pinter juga ternyata" Ucap Embun saat Sore hendak akan duduk.
"Wajah sudah tampan, otak sangat pintar, sudah memenuhi tipe kamu belum?" ucap sembari mengibas rambut menatap wajah Embun
"Apa sih" saltingnya.
Tootttt... Tottttt.... — Suara bel pulang.
"Ayo" Tarik tangan Sore.
"Aduh jantung saya degdegan jadinya" Katanya saat Embun menggandengnya.
"Ish" Lepas tangan Sore.
"Kok dilepas? Emangnya mau kemana?"
"Pak Dadang" jelasnya.
"Ngapain, Ogah ah"
"Ayo ke pak Dadang" Tariknya lagi.
"Engga mau" Rengek Sore.
Sampai di ruang latihan Anggar, Embun menarik tangan Sore dan menghampiri pak Dadang dan anak-anak yang sudah tiba disana.
"Nih pak, Sore katanya mau latihan lagi. Tapi malu" ucapnya sambil memberi Sore kepada pak Dadang seperti anak kecil memberikan permennya.
"Terimakasih ya Embun, nih uang buat jajan" beri uang kepada Embun yang sangat senang sekali saat pak Dadang mengeluarkan uang di dompetnya.
"Astaga, kamu jual saya ke pak Dadang?"
"Lumayan tambah-tambah buat beli lightstick ckckck" Jawabnya sambil memasukkan uang ke saku bajunya.
"Yaudah pak saya pulang dulu yah" Katanya sembari berpamitan kepada pak Dadang.
"Eh... Embun!!" Teriaknya memanggil Embun yang sudah berlari menjauh.
__ADS_1
Epilog
Saat istirahat pak Dadang menghampiri Embun dan meminta tolong untuk membantu membujuk Sore agar latihan kembali, awalnya Embung tidak mau karena tidak mau mencampuri urusan. Namun, pak Dadang terus memohon dan akan memberi uang kepadanya membuat dirinya menjadi kasihan kepada pak Dadang dan memutuskan untuk membantunya sebisa mungkin.