
Badan pesawat hancur berkeping-keping berhamburan di tengah laut. Keluarga korban mulai berdatangan, ada yang menangis histeris, ada yang pingsan saat melihat korban meninggal yang ternyata adalah keluarganya, ada juga yang terus berdoa memohon pertolongan keselamatan pada Tuhan.
Terlihat di pesisir pantai ada satu pasang sepatu anak kecil yang terbawa ombak diperkirakan baru berusia tiga tahun, seumuran dengan Nino. Tak kuasa melihatnya Sore fokus melanjutkan pencarian Ibunya.
Tatapan Ayahnya terus fokus menatap tiap daftar nama penumpang namun status mantan istrinya masih dinyatakan belum di temukan. Sementara Sore terus kesana-kemari menghampiri setiap tim SAR yang membawa kantung jenazah. Meminta para tim SAR untuk membukanya. Ada rasa lega saat melihat mayat itu ternyata bukan Ibunya. Namun, ia juga menjadi tambah khawatir karena belum menemuinya.
Sudah lima jam disana, Sore masih mencari Ibunya. Sementara Ayahnya sudah tak kuasa menahan pedihnya melihat Sore yang benar-benar sangat terpukul itu. Rasa lelah pun takkan ada artinya, jika terus mencari sosok Ibunya itu.
"Istirahat dulu, Oke? Kamu juga butuh tenaga bukan buat cari Ibu kamu" Ujar Embun yang melihat keadaan Sore sudah sangat lelah.
"Bayangin Ibu aku pasti lagi berjuang buat hidup, pasti dia juga lelah banget bukan? Aku gak mungkin bisa istirahat" Jawabnya lalu mencari lagi Ibunda nya.
Waktu itu sangat berharga, kita tidak tau bagaimana jika Sore istirahat Ibunya sedang setengah mati meminta bantuan.Terbayang sekali bagaimana takut Ibunda nya, terapung di tengah laut yang sangat menyeramkan. Sendirian, berusaha menyelamatkan hidupnya, tanpa ada siapapun.
Terdengar tangisan keluarga korban yang semakin kencang, melihat korban sudah tidak bernyawa. Seketika membuat jantung Sore semakin berdetak kencang. Fikirannya sudah kemana-mana, memikirkan bagaimana jika ia tidak menemukan jasad sang ibunda.
__ADS_1
Semua fokus pada tujuan, tanpa istirahat. Mereka pun tak mau istirahat jika Sore juga tidak istirahat. Terus mencari kemana pun dan sampai mana pun. Ibunda Sore adalah sosok yang sangat baik bagi Sore dan teman-teman dekat Sore yang sudah mengenal baik dirinya.
Jam sudah menunjuk pukul lima sore, dan cuaca akan semakin gelap. Pencarian dihentikan dan akan dilanjut hari esok. Sore sangat tak terima dengan perkataannya itu membuat dirinya sangat emosi.
"Pak gak bisa cari sebentar lagi gitu?"
"Tidak bisa. Hari sudah mulai gelap, dan itu akan mempersulit pencarian"
"Tapi gimana nasib Ibu saya pak!?" Teriak kesal Sore.
"Berdoa? Berdoa tapi gak diusahakan dengan pencarian mana bisa terkabul!" Sentaknya tambah kesal.
"Udah-udah nak, ayo kita pulang dulu. Besok kita ke sini lagi" Ucap Ayahnya sembari menahan Sore yang mengamuk.
Sore mengikuti perintah Ayahnya walaupun sebenarnya tidak mau dan masih ingin mencari. Melihat kearah teman-temannya yang sangat kelelahan, ia dengan berat hati kembali ke rumahnya.
__ADS_1
"Den gimana Ibu?" Tanya Bu Inem yang sedari awal khawatir.
"Belum di temukan bi" Jawab Embun karena melihat Sore yang terus melangkah dan mengabaikan ucapan bi Inem.
"Nino udah tidur?" Tanya Embun yang tidak melihat keberadaan Nino.
"Iya, Nino baru saja tidur. Dari tadi nanyain neng sama aden"
"Maaf ya bi, Embun jadi merepotkan begini"
"Eh tidak apa-apa neng, sudah tugas bi Inem. Dan sangat tidak merepotkan"
"Makasih ya bi"
"sama-sama neng"
__ADS_1