
"War gue nanti berdiri lo liat ya gue bocor atau engga" Kata Violet merasa seperti sedang halangan tiba-tiba.
"Oke" Baru saja akan hendak berdiri beberapa detik Mawar sudah menariknya dan menyuruhnya duduk kembali.
"Bocor, banyak banget. Suerrr" Bisiknya.
"Aduh, gimana dong! Lo bawa gak?"
"Engga jadwal gue minggu depan" Violet duduk dengan sangat tidak nyaman.
Tak terasa bis sudah sampai di tempat tujuan dan mereka satu persatu turun. Violet dan Mawar menunggu disana hingga semuanya sudah turun. Namun, Nino terus menunggunya agar turun lebih dulu.
"Ngapain?" Tanya Violet.
"Lo ngapain pakek diem segala bukannya turun"
"Kok nanya balik? Udah sana turun"
"Lo dulu turun nanti gue turun"
"Udah ada masalah khusus bagi seorang wanita, mending lo keluar gih" Katanya sambil memberi kode kepada Mawar agar menariknya keluar.
"Apaan sih War!"
"Ayo cepet ikut Mawar keluar"
"Violet kenapa sih?"
"Gak usah kepo"
"Idih, cepetan kasih tau gue gak. Kalo gak nanti gue bilang ke Gilang, kalo lo suka sama dia" Jleb. Seketika Mawar membeku, bertanya-tanya bagaimana Nino mengetahuinya.
"Tau dari siapa gue suka sama Gilang?"
__ADS_1
"Kok kepo sih"
"Ish!"
"Cepetan kasih tau, Violet kenapa?"
"Bocor"
"Bocor?"
"Iya bocor"
"Apanya yang bocor"
"Dia halangan!" kesal Mawar.
"Yaudah sana lo pulang duluan, Violet bareng gue" ucapnya sambil mengusir Mawar.
Nino masuk kembali ke bis, menghampiri Violet sendirian di dalam.
"Gak! Siapa lo berani merintah"
"Cepetan gue bilang, apa gue harus paksa buat lo diri!?"
Violet menarik hordeng di bis itu dan berdiri menghadapkan tubuhnya ke Nino. Tak menyangka dirinya, Nino langsung memakaikan jaketnya itu melingkari tubuhnya Violet menutupi tembusan darah. Violet terus menatap Nino.
"Ayo keluar! Lo mau terus disini, dibawa pak supir?" Tarik tangan Violet keluar dari sana.
Saat berjalan keparkiran dia melihat motor milik Ayahnya, sunggu baik sekali Ayahnya menyimpan motor miliknya untuk dipakai anaknya. Kuncinya masih tergantung di motor itu. "Si Ayah, bukannya di titipin kek kuncinya ke pak satpam" gumamnya. Nino menarik tangan Violet dan menyuruhnya ikut naik.
"Kita ke supermarket dulu" Katanya. Violet hanya mengangguk.
Tak membutuhkan waktu banyak, mereka sudah sampai di supermarket. Menarik Violet ke jajaran softex dan menyuruhnya untuk memilih. Bukannya Nino yang malu malah Violet yang merasa malu karena Nino terus berdiri disana memperhatikannya memilih softex dihadapannya.
__ADS_1
"Harus banget gue pilih softex di hadapan lo?"
"Buruan!" Katanya dengan serius fokus menatap ke arah Violet. Violet mengambil softex ukuran 36 cm, dan langsung diambil oleh Nino dipeganginya.
"Mau apa lagi?"
"Udah itu aja"
"Serius?" Katanya dan Violet mengangguk. Nino langsung membayarnya ke kasir.
"Sudah ini saja kak?"
"Iya Mba"
"Mau sekalian roti sobeknya kak?"
"Gak usah kak, udah punya. Mau liat?" Tawarnya pada mba kasir sambil mengangkatkan kausnya, tapi di hadang oleh Violet yang sigap menurunkannya kembali.
"Hah?!"
"Awww!! Sakit tau" Ucap kesakitan Nino karena cubitan memutar Violet.
"Totalnya 17,900 kak"
"100 rupiahnya bisa disumbangkan saja?" Nino mengangguk.
"Mba pacar saya numpang ke wc yah"
"Oh iya kak silahkan, disebelah sana yah"
"Makasih kak" Ucap Violet langsung pergi kesana.
"Aaaaa!!! Cakep banget dong tadi tuh cowok" Kata mba kasir itu sambil memukuli temannya.
__ADS_1
"Mirip kek artis korea anjir, huaaaaa!!!!" Temannya ikut kegirangan.
"Gue lupa gak nawarin pulsa lagi, biar bisa simpen nomornya gitu" Katanya lagi.