
"Bi Sore berangkat ya" ucapnya kepada bi inem, lalu mencium tangan bi inem.
Baju sudah rapih, badan sudah wangi, wajah sudah tampan, ia berangkat namun tidak langsung menuju ke sekolah melainkan ke rumah Embun untuk menjemputnya dahulu. Sampai disana ia menekan klakson motornya dengan terus menerus, membuat Embun keluar.
"Bisa gak jangan neken klakson terus-terusan, diomelin tetangga baru tau rasa kamu yah"
"Abisnya gak keluar-keluar, saya kira kamu budeg" Kata Sore.
Embun memakai helm yang diberi Sore dan menaiki motor Klasik miliknya itu.
"Pegangan, nanti jatoh ngegulinding di jalan kan gak lucu" Canda Sore yang berharap akan Embun yang akan memeluknya.
"Kamu kira saya bola ngegulinding" bantahnya.
Tak habis fikir, Sore memegang tangan Embun sehingga memeluk tubuhnya. Sore yang mengendari motornya dengan sangat perlahan agar dirinya bisa terus bersama Embun, dilain sisi Embun terus mengoceh karena motor yang di kendarainya seperti siput lama sekali. Embun terus melihat jam tangannya sudah mununjuk pukul setengah tujuh.
"Besok jangan jemput aku"
"Kenapa?"
"Lama banget motor kamu"
"Bukan motornya, tapi saya yang mau lama-lama sama kamu" ucap Sore membuat pipi Embun tiba-tiba menjadi panas dan memerah.
__ADS_1
"Ucapan saya buat meloyot hati kamu yah? sampai merah muka kamu" Tambahnya membuat Embun tambah salting.
"Apaan sih, orang panas banget ini cuacanya" Jawabnya
Jegerrrrr!!! — suara petir sangat keras.
"Petir pun marah cuaca mendung dibilang cerah"
"Ish" suara dengan nada salting plus jengkel sambil mencubit perut Sore.
"Cepetan ini udah telat" katanya lagi.
"Iya-iya, pegangan yang kuaaaaat" teriak Sore lalu ngegas dengan sangat kencang.
"Mending lo jauh-jauh dari Sore" Tegas Livy.
"Dia nempel mulu gimana saya mau ngejauh" jawab Embun.
"Ya lo usaha lah buat ngejauh dari Sore"
"Ngapain saya yang harus usaha? nanti juga cape sendiri dia"
"Lo tengil juga ya ternyata, gak cocok sama wajah lo yang sok polos"
__ADS_1
"Kalo mau mengkritik mending langsung ke yang menciptakan" ucap Embun lalu meninggalkan Livy sendirian
"Heh! gue belum selesai ngomong yah"
"Gak penting juga kan, sakit telinga saya denger ocehan kamu yang udah kaya emak-emak rempong" Jawabnya sambil terus berjalan menjauh.
"Awas ya lo!" Teriaknya dan Embun hanya membalas dengan mengangkatkan tangannya lalu jarinya membentuk OK.
Embun baru saja selesai dari jam istirahatnya dan kembali ke kelas, baru saja melangkah tiba-tiba Livy menabrak tubuh Embun dengan sangat keras. Namun Embun tak membalasnya dan melanjutkan berjalan ke bangkunya. Mengeluarkan buku-bukunya untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya atau pelajaran terakhir. Istirahat disekolahnya hanya satu kali, dan pukul setengah tiga sekolah sudah dibubarkan dan murid yang mengikuti ekstrakulikuler melanjutkan kegiatannya setelah pembelajaran sekolah selesai.
"Sore!" suara pak dadang memanggilnya dari kejauhan.
"Ada apa pak?"
"Saya tunggu kamu sepulang sekolah di tempat latihan"
"Maaf pak saya belum bisa"
"Sayang loh kalo tidak dilanjutkan" ucap pak dadang
Sore adalah seorang Atlet Anggar tingkat Olimpiade dan seharusnya ikut berpartisipasi dalam Olimpiade yang 2 bulan lagi akan di laksanakan. Ia bahkan mendapat beasiswa olahraga.
Namun, sudah 2 tahun dirinya tidak aktif lagi dalam bermain Anggar. Karena, adanya masalah dengan sang pelatih yang sekarang sudah dikeluarkan oleh pihak sekolah. Pelatih itu melakukan kekerasan kepadanya berkali-kali, Sore saat itu hanya terdiam dan terus menerima kekerasan yang dilakukan pelatihnya karena mungkin bisa dibilang masih polos. Bayangkan saja umurnya masih 17 tahun dan masih berusaha mengerti akan berlatih anggar itu seperti apa. Sore kemudian memutuskan untuk tidak berlatih lagi dan mengugurkan impian seumur hidupnya.
__ADS_1