
Turnamen selesai dan dimenangkan oleh Sma Angkasa. Semua amat senang dengan keberhasilan tim basket, sebab sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjadi juara juga mengharumkan nama sekolah.
"Nino?" Sapa ragu-ragu seorang gadis cantik berdiri di depannya sambil menunduk, menatap wajah Nino. Nino tersadar dan menatap kembali wajah gadis itu. Pupil mata membesar, Nino langsung membawa gadis itu menjauh dari kerumunan.
"Ngapain disini?"
"Mau liat kamu lah"
"Yaudah, cuma hari ini pura-pura gak kenal gue ya. Gue mohon banget nih"
"Kenapa harus pura-pura gak kenal? Kan aku pacara kamu"
"Pacar? Stop deh Stefi. Gue gak pernah terima lo"
"Oh iya, gue lupa. Gue terlalu berharap sama lo yah"
"Nah sadar kan lo"
"Mau kemana?" Menarik tangan Nino yang hendak akan pergi.
"Balik kesana lah"
"Yaudah bareng aja"
"Gak! Gue udah suruh lo pura-pura gak kenal gue loh"
"Ya kamu udah tau kan kalo aku gak handal dalam berpura-pura"
__ADS_1
"Stefiiii..."
"Kiss dulu dong" Nino langsung mencium bibir Stefi dengan lembut, dan pergi meninggalkannya. Wajahnya amat puas akan ciuman itu. Seperti perjanjian, Stefi bersikap tidak mengenal Nino. Dia sangat jago dalam berakting. Stefi gadis cantik berumur 15 tahun, berambut panjang berwarna coklat, berkulit putih bersih, mungil, dan lucu. Nino terus merasa tidak tenang, karena keberadaan Stefi disana. Dia terus memperhatikannya. Ia menjadi canggup setiap kali mendekat pada Violet. Seperti sedang dipantau cctv, setiap kemana pun mata Stefi selalu mengarah hanya kepadanya. Nino mengantar pulang Violet pun, Stefi terus mengikutinya. Menaiki motor gedenya dengan jaket hitam pekatnya.
"Gak tenang gue lama-lama diikutin mulu"
"Ya emangnya kenapa? masa gak boleh sih" Hingga sampai dirumah Nino dan Stefi pulang kerumah.
"Bisa akur juga ya kalian" Ucap Anya yang melihat keduanya berjalan beriringan masuk kedalam rumah.
"Emang kita akur kan kak?" Nino mengangguk dan berjalan masuk ke kamarnya.
"Mau kemana?" Tanya Stefi.
"Mandi"
"Ikut!" Senangnya langsung mengikuti Nino.
Pintu tertutup dengan kencang, hingga menabrak jidat Stefi.
"Aw..." Kesakitannya.
Makan malam bersama, semua berkumpul dimeja makan. Baru saja beberapa suap di makan, Stefi sudah berbicara hal yang tidak wajar.
"Jadi Stefi boleh kan nikah sama kak Nino?"
"Stefi.. sudah Ayah bilang, tidak boleh kan?"
__ADS_1
"Ya, bolehin aja sih. Orang Stefi sukanya sama kak Nino"
"Tetep gak boleh sayang" Kata Embun.
"Iya ngapain juga dah terus ngomong kaya gitu" Tambah Anya terus menyantap makanannya.
"Setau aku, kalo beda Ayah gak apa-apa loh nikah" Terus berusaha. Nino tersedak, dengan pekanya Stefi langsung memberi air minum pada Nino dan mengelap air yang berceceran di mulut Nino.
"Mau ngapain?!" Kaget Nino saat Stefi membuka kancing bajunya di depan Ayah dan Ibunya.
"Buka lah, ini baju kamu basah loh. Biar aku cari baju kamu yah, tunggu" Stefi beranjak dari kursinya dan berlari menghampiri kamar Nino. Menatap sana-sini mencari baju untuk dipakai Nino. Perlahan tersenyum, saat melihat kaus hitam yang diberinya tersimpan baik di lemarinya.
"Nino"
"Iya yah?"
"Kamu juga ada rasa sama Stefi" Tersedak kembali.
"Kok Ayah sama nya sih, dia adik aku loh. Masa aku suka sama adik sendiri"
"Aku selesai makannya, mau balik ke kamar" Katanya lagi, memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan berjalan pergi kembali ke kamar. Baru sadar jika Stefi masih dikamarnya. Sudah lima belas menit, Stefi belum kembali dari kamarnya.
"Stefi lama banget lo cari baju gue?" Katanya sambil membuka pintu kamar. Dan melihat Stefi sedang memegang bajunya sambil tersenyum.
"Eh sorry.. Nah coba pake ini, hadiah dari aku kan ini"
"Hmm.." Mengangguk dan langsung membuka baju nya di depan Stefi. Jelas sekali Stefi melihat roti sobek diperut Nino, berjalan mendekat dan memegangnya. Nino terhentak kaget saat jari-jari Stefi terus meraba-raba.
__ADS_1
"Stef.."
"Oh.. Sorry-sorry" melepasnya sambil tersenyum.