
Ucapan Abangnya itu terus tengiang-ngiang dikepala Anya. Bagaimana tidak? Belum saja memilikinya dunia sudah tak berpihak. Dunia sudah menolak dia dalam kehidupannya.
Ah.. bagaimana pun gue harus tetep dapetin pak Mahmud. Mau dunia menolak ku tetap cinta pak Mahmud. Gumamnya dalam hati, menyemangati diri.
Nino mengambil salah satu earphone di telinga Violet dengan santai, lalu memasangkannya ke telinga.
"Earphone gue balikin!"
"Minjem satu doang, pelit banget"
"Gak enak cuma pake satu doang"
"Jangan maruk, harus berbagi"
"Itu lo punya earphone, pake lah yang lo"
"Rusak cantik"
"Stop ya gue geli dengernya"
"Cantik"
"Cantik!" Wajah Violet semakin kesal dan tak nyaman.
"Jadi gemes..." Ucap lagi Nino sambil memegang pipi Violet dengan terus memaikannya.
"Gue tabok ya!"
"Baik anak-anak duduk semua, jangan berulah ya" Kata Pak Mahmud, karena bis akan melaju.
Sampai di tempat, semua anak keluar satu persatu agar aman. Mendirikan tendanya, mengumpulkan kayu-kayu, mengambil air. Dimalam hari yang begitu dingin, semua anak-anak dan para guru duduk mengelilingi api unggun yang sangat besar. Membuat semua tubuh itu menjadi hangat, tampak ceria semua wajah. Nino memegang gitar sembari menyanyikan lagu membuat semua anak-anak ikut bernyanyi mengikuti alunan gitar yang di petiknya.
Tuhan buatlah dia
Lupakan kekasihnya yang lama
Karna ku lebih baik darinya
Hanya ku pantas untuknya
__ADS_1
Tolong aku Tuhan
Jadikan dia
Cinta padaku
Agar akhirnya
Jadi pacarku
Ku janji ada untuknya
Oh
Jangan lama-lama bersedih
Ada aku disini (ada aku di sini)
Yang menjagamu
Mencintamu
Tuhan buatlah dia
Lupakan kekasihnya yang lama
Karna ku lebih baik darinya
Hanya kupantas untuknya
Tolong aku Tuhan
Jadikan dia
Cinta padaku
Agar akhirnya
Jadi pacarku
__ADS_1
Kujanji ada untuknya
Mata Nino mengarah pada Violet yang jauh berhadapan dengannya, yang juga membalas tatapannya sambil ikut bernyanyi. Sambil tersenyum, senyuman itu amat indah membuat jantung Nino menjadi tak karuan.
Tiba-tiba Debo berdiri dari samping Nino, dan menarik tangan gadis cantik bernama Mawar.
...Mawar Bloomy...
Panggilan : Mawar
Umur : 17 tahun
Hobby : Menatap Gilang
Skill : Magneti para kaum adam
Status : Jomblo
"Aduh.. gimana ya ngomongnya? Aduh.. gue jadi malu, ckckckck" Mawar terus menatap Gilang yang mengalihkan pandangannya.
"Jadi gini.. Aku mau ajak kamu pacaran nih.. Gimana?" Tembak Debo.
"Ee... gimana ya? Tapi crush Mawar bukan Debo, dari hati yang paling dalam Mawar minta maaf ya karena gak bisa terima Debo" Tolaknya mentah-mentah.
JODOH PASTI BERTEMUUU.. KAMU GAK LAKU-LAKUUU.. — Nino bernyanyi dengan genjrengan gitar meledek Debo.
"Kaga sadar diri lo ya! Temen lo baru aja ditolak, malah buat diri ini tambah malu. Malu gue woiii! Malu" ucapnya sampe mewek, kembali duduk di tempatnya.
Mawar terus menatap kearah Gilang, namun tetap Gilang tak menatapnya balik. Walau begitu dia tetap tersenyum, karena Gilang masih belum laku. Belum ada yang punya, dan masih bisa ada harapan untuk mendapatkannya. Violet meledeknya karena baru saja di tembak oleh Debo, sambil tertawa karena tak percaya Mawar akan menolaknya.
"Uluh-uluh crush nya siapa sih, sampe-sampe nolak Debo begini"
"Kepo!" ucapnya lalu menatap kearah Gilang kembali.
"Cieelah.. Gilang ya" Membuat jantung Mawar tiba-tiba berhenti karena kaget Violet mengetahuinya dan menatap heran.
"Tau lah, orang dari tadi mata lo natap ke Gilang mulu" Violet tertawa melihat Mawar yang cengo menatapnya.
__ADS_1