Young Dad!

Young Dad!
Chapter 9


__ADS_3

Sampai esok... Sampai esok...


Urungkan niat untuk mati


Mungkin saja hari esok atau lusa


Ada sesuatu yang menarik


Terlalu cepat... Terlalu cepat...


Untuk menarik kesimpulan sekarang


Kucoba hidup sedikit lebih lama


Ya sekaranglah LIFE yang kedua LIFE!!!


Tunggu dulu... tunggu dulu...


Coba berpura-pura mati


Dari situ mulai bangkitlah kembali


Coba terlahir kembali


Sampai esok... Sampai esok...


Urungkan niat untuk mati


Mungkin saja hari esok atau lusa


Ada sesuatu yang menarik

__ADS_1


Terlalu cepat... Terlalu cepat...


Untuk menarik kesimpulan sekarang


Kucoba hidup sedikit lebih lama


Ya sekaranglah LIFE yang kedua


LIFE!!!


Ya sekarang lah BIRTH yang kedua! BIRTH!!!


Terdengar sangat keras lagu Jkt48 dikamar Embun, suara Embun yang juga mengikuti alunan musik sembari jingkrak-jingkrakan mengikuti hentakan. Lagu penenang Embun yang terus ia putar.


Tiba-tiba Ayahnya yang baru tiba di kamar Embun, ikut bernyanyi dan jingkrak-jingkrakan bersama Embun. Membuat Embun menjadi tertawa tanpa henti karena kelakuan Ayahnya yang sangat prik.


"Ada apa Yah?" Tanyanya sambil mematikan musik.


"Ayah ada urusan pekerjaan gak lama sih cuma 2 hari, kamu sendirian gapapa?"


"Siap deh, anak Ayah mata duitan yah kaya ibunya" ucapnya mengelus rambut anaknya itu lalu perlahan pergi dari kamar.


"Embun denger..." Lalu Ayahnya tertawa malu.


Embun pergi ke kafe dekat rumahnya, memesan kopi disana menunggu seseorang. Sudah menunggu sampai 15 menit, tibalah seorang wanita yang seumurannya menghampirinya. Namanya Elisha ya dia wanita yang bekerja di supermarket dekat rumahnya itu.


"Makasih ya udah nolong saya waktu itu"


"Iya"


"Ini uang untuk biaya barang itu, saya lupa membayarnya"

__ADS_1


"Tidak usah, lagian sudah saya bayar"


"Tidak apa-apa, dan ini juga saya mau beri ke kamu"


"Kenapa kamu kasih ini ke saya?"


"Bukan dari saya, dari pak Dadang. Dia berpesan juga untuk kamu cepat kembali lagi ke sekolah, dan melanjutkan impian kamu"


Air mata Elisha membasahi wajahnya, terus menunduk tidak mau memperlihatkan kesedihannya itu. Elisha siswi kelas 12 ipa 2 adalah seorang Atlet Anggar namun terlahang oleh Ayahnya yang tidak menyetujuinya untuk bermain Anggar. Ayahnya sangat posesif kepadanya, kadang juga bermain tangan. Jika dilihat lebih jelas, banyak sekali luka memar di sekujur lengannya walau ditutupi pun tetap saja akan terlihat. Embun terus menunggunya di kafe itu, terus merasakan rasa sakit Elisha dari tangisannya. 15 menit tangisannya sudah terhenti, namun sesegukannya masih ada. Menatap wajah Embun, Embun merasakan seperti Elisha berterimakasih padanya namun susah untuk di ucapkan. Embun mengangguk dan memegang tangan Elisha dengan terus menenangkannya.


"Maaf aku mau memastikan, apa benar kamu pergi dari rumah?"


"hmmm...." hanya itu yang keluar dari mulutnya.


"Sekarang kamu tinggal dimana?"


"Mengacak" jawabnya.


Embun merasa sangat sakit hati rasanya, membayangkannya pun sudah tidak sanggup. Dan memustuskan untuk mengajaknya menginap dirumahnya kebetulan juga Ayahnya sedang tidak ada dirumah. Embun terus memaksanya hingga akhirnya Elisha mengiyakannya.


Epilog


"Saya titip ini juga ya untuk Elisha"


"Seragam sekolah?"


"Iya, seragam sekolah. Mungkin seragam sekolah Elisha sudah dibakar oleh Ayahnya"


"Dibakar?"


"Ya, karena Elisha terus melanjutkan mimpinya"

__ADS_1


"Bagaimana bisa seorang Ayah seperti itu!?" kesal Embun.


"Karena tidak ingin lagi sesuatu terjadi pada Elsha seperti ibunya waktu dulu"


__ADS_2