
Mulai dari hari itu Violet jadi merasa benar-benar malu setiap melihat wajah Nino dihadapannya. Violet jadi terus menjauh, tiap kali Nino mendekat.
"Kenapa sih ngejauh mulu dari gue?" Tanya Nino sembari menarik tangan Violet yang hendak akan berpaling darinya.
"Hah? Perasaan lo aja kali"
"Emang lo nya yang ngejauh mulu"
"Engga, lo aja yang ngerasa gitu"
"Yaudah kalo cuma perasaan gue, ayo kantin. Gue laper"
"Eh.. Gue gak laper"
"Tuh kan! Lo ngehidar mulu dari gue. Apa karena gue tau lo juga suka sama gue?"
"Apa sih, bisa gak dibahas kan?"
"Kan. Bener kan" Violet menghela nafasnya dengan sangat dalam-dalam. Meninggalkan Nino disana dan pergi ke kantin bersama Mawar.
"Violet! Tunggu gue napa"
"Idih bagian ngebucin semakin di depan, sahabatnya belakangan" Ucap Debo.
"Cemburu lo!?" Tanya Gilang sambil menatap Debo.
"Kagak lah, masa cemburu"
"Awas aja kalo patah hati dateng ke gue, gue bakal geprek di tempat" Tambahnya. Berjalan pergi meninggalkan Gilang.
Perjalanan ke kantin Debo terus menggoda para gadis di tiap koridor kelas, tapi bukan nya tergoda padanya. Melainkan berhamburan pada Gilang. Aura Gilang yang membuat para gadis malah mendekati dirinya. Para gadis itu tersipu malu setiap melihat sosok Gilang yang cool boy itu. Dan Gilang hanya tersenyum pada mereka, senyumannya itu malah membuat jantung mereka menjadi tambah tidak aman.
"Deb, gue pinjem duit lo dong" Ucap Gilang pada Debo. Membuatnya tak percaya dengan apa yang dia dengar. Mukanya berubah menjadi wajah emak-emak yang akan menjulid.
"Eh, kekayaan gue sama lo aja masih kayaan lo. Bisa-bisanya lo pinjem duit ke gue" Mengjulid.
"Pinjem 10 ribu doang buat beli bakso mang Engkos, di colok" Sambil menunjuk gerobak mang Engkos.
"Dikali 10 kali lipat tapi"
"Sekaya-kayanya gue, tapi gue kaga bisa di bodohi. Gue beli bakso aja harus ngegantiin duit jadi 100 ribu, otak lo dimane bambang?" Gilang pergi menghampiri gerobak mang Engkos.
"Mang nganjuk hela nya? 10 ribuen weh, di plastikan tong pake cai" — Mang ngutang dulu ya? 10 ribu aja, di plastik jangan pake air. Kata Gilang sambil menunggu baksonya.
"Idih, najis!! Horang kaya ngutang" Julid Debo.
__ADS_1
"Kumaha aing weh atuh, kunaon maneh jadi nu riweh" Melahap bakso ciloknya dan pergi duduk bersama Nino, Violet, dan Mawar.
Mawar memalingkan wajahnya itu, sambil melanjutkan melahap bakso yang dia santap. Gilang beranjak dari bangkunya dan pindah di samping Mawar. Mawar pun terus memalingkan wajahnya itu agar tidak melihat Gilang.
DRING!
Gue salah apa?
Gilang mengirim pesan ke Mawar.
Jarak deket juga, ngapain gak nanya langsung. Kenapa harus chat segala — Gumamnya menatap layar ponsel dan mengabaikan pesan dari Gilang.
Gilang sengaja menyenggol tubuh Mawar, sambil menyantap baksonya. Karena melihat Mawar mengabaikan pesannya itu. Mawar terus menghiraukannya dan terus menyantap makanannya sambil memiringkan tubuhnya.
Disisi lain, Nino terus menatap Violet. Perasaan Violet sangat campur aduk sekarang. Bagaimana tidak, jantungnya terus berdetak kencang setiap diperhatikan Nino. Dan sekarang Nino mengetahui perasaannya padanya. Menguyah baksonya pun sekarang, amat tidak tenang. Dia menyisakan kuah nya itu dan membawanya ke mang Engkos. Padahal dia ingin sekali menyerudupi kuah demi kuah yang hangat itu. Apalagi saat ini sedang hujan. Membayangkannya pun amat sedap, dan dia malah membuangnya. Mau bagaimana lagi, jika Violet menyerudupi kuah itu dengan Nino terus menerus memperhatikannya. Yang ada nanti dirinya tersedak.
Lagi-lagi dirinya salting dan menabrak meja. Pinggangnya terkena bagian ujung meja yang runcing itu, dan itu amat menyakitkan. Menahannya dengan wajah yang terus menyerengut kesakitan.
"Gak apa-apa?" Khawatir Nino sambil memegang pundaknya.
"Ah.. Gak apa-apa" Melanjutkan jalannya dan memberi mangkuk itu pada mang Engkos.
"Vi.. tunggu gue!!" Mawar ikut menyudahi makan baksonya itu dan meninggalkan Gilang.
BRAKK!!
"Sakit gak?" Tanya Gilang mendekat sambil memegang pinggang Mawar yang terkena meja.
"Hah!?"
"Sakit gak?"
"Enggaa" Mawar langsung berlari.
Di kamar mandi, wajah mereka amat sangat merah. Telinga terasa panas. Terus memegang wajah dan telinganya, sambil menatap wajahnya sendiri di cermin dengan rasa malu.
"Aaaaarg! Malu banget gue... T _ T " Menangis Violet.
"Bukan cuma lo aja Vi, gue juga sama T _ T "
"Rasanya pen mewek di tempat"
"Sama... Huaaaaa T _ T " Mereka menangis karena rasa malunya.
......................
__ADS_1
Mereka kembali ke kelas dengan memasang wajah yang santai dan sudah fresh kembali. Mereka terus menancap wajahnya itu dengan sangat tebal namun natural. Wajahnya kembali bersinar seperti dipagi hari saat akan berangkat sekolah. Seketika menciut saat mereka melihat Nino dan Gilang duduk di bangku milik Violet dan Mawar.
"Gimana nih? Hati gue udah bener-bener gak bisa liat muka si Nino"
"Apalagi gue! Dari tadi si Gilang chat gue mulu" Memperlihatkan chat dari Gilang.
Dimana?
Sakit gak?
Pasti sakit kan?
Dimana sekarang? Gue obatin.
Lo di uks?
Gue udah di uks nih, tapi gak liat lo.
Dimana?
Ish si Gilang diem-diem kek si Nino ternyata — gumam dalam hatinya.
"Gimana dong?"
"Gue juga kaga tau War"
Mereka masuk dengan menutupi wajahnya itu dengan rambut panjangnya. Menarik Mereka yang tengah asik mengobrol untuk pergi dari bangku miliknya. Bukannya pergi mereka malah terus menatap Violet maupun Mawar.
"Kenapa muka lo?" Tanya Nino pada Violet.
"Engga kenapa-kenapa. Bisa minggir gak lo dari bangku gue?"
Disisi lain, Gilang beranjak dari bangkunya dan membenarkan rambut Mawar. Sehingga dirinya dapat melihat jelas wajah Mawar. Terus merapihkan rambut Mawar, membuat Mawar terus tidak bisa menahan rasa suka padanya.
"Awas.. awass.. Gue pegel diri mulu" Mengusir Nino. Sementara Mawa langsung duduk di bangkunya, setelah saling menatap maya dengan Gilang. Debo yang terus memperhatikan mereka, merasa muak dengan kelakuan mereka itu. Mengiri lebih tepatnya.
"Silahkan duduk ditempat masing-masing!" Ucap bu Anya masuk kedalam kelas X Mipa 1.
"Tugas rumah silahkan kumpulkan di meja saya"
"Tugas rumah?" Kebingungan Debo.
"Gak ada juga bu"
"Iya bu Engga ada"
__ADS_1
"Oh.. Engga ada yah? Oke deh, langsung aja ke pelajaran saya yah" Ucapnya sambil tersenyum puas karena sudah membuat murid-muridnya panik. Nino terus menatap mba nya itu yang amat sangat tengil sekali, dengan memasang wajah yang tengil.
Violet mengikat rambutnya itu, membuat Nino terus terfokus pada bagian leher Violet. Terus mengedipkan matanya, ditambah jantungnya sudah sangat merasa tidak aman. Dan berusaha untuk tidak traveling, dengan cara memalingkan tatapannya itu.