
Sore dan yang lain akan kembali pulang, Sore terus menggenggam tangan Embun dengan erat seperti ke anak kecil. Terus memegangnya kemana pun ia pergi, kecuali ke Wc yah. Menuntunnya menaiki motornya itu, dan menyimpan kedua tangannya memeluk Sore.
"Jangan di lepas, nanti jatoh saya gak mau nolongin"
"Hmmm.." jawab Embun sambil mengeratkan pelukkannya itu dan menyenderkan kepalanya ke punggung Sore.
Aelah gue kaya bawa bocil aja — ucap dalam hatinya.
Di setiap perjalanan Embun hanya terdiam, masih memeluk erat Sore. Suasana menjadi canggung, rasa ingin berbicara pun susah. Sore memutuskan untuk membawanya ke caffe dekat rumah Embun.
"Bun. Turun"
"Embun" ucapnya sambil menepuk-nepuk kakinya.
Belum ada jawaban sepatah katapun telontarkan, Embun masih terdiam membuat Sore menjadi khawatir, tiba-tiba terdengar suara tak kencang namun terdengar jelas di telinga Sore. Sore celangak-celinguk mencari sumber suara itu pada akhirnya dia sadar bahwa suara itu berasal Embun yang tertidur mendengkur.
"Orang cantik bisa ngorok juga ternyata ckckck" Ucap Sore sembari mengelus-elus kepala Embun yang tertidur.
Sore menunggu hingga Embun terbangun, selang 15 menit Embun terbangun dari tidurnya melepaskan pelukan dan menggeliat hampir terjatuh membuat Sore langsung memegang pinggang Embun dari depan.
"Bisa-bisanya menggeliat di atas motor, nanti jatoh baru tau rasa" Kata Sore
"Kok kesini"
__ADS_1
"Turun, ada banyak pertanyaan yang saya mau tanya" ucap Sore membuat Embun menjadi panik. Seperti anak yang akan diintrogasi oleh Ayahnya.
"Udah berapa bulan?"
"2 lebih" jawabnya sambil menunduk.
"(menghela nafas) Ayah kamu udah tau?"
"Belum"
"Udah lah sana makan"
"Udah ngintrogasinya? segitu doang? katanya ada banyak yang mau ditanya"
"Pulang dari sini kita bilang ke Ayah kamu"
"Gimana kamu mau tutupin kalo kamu aja seatap sama Ayah kamu, lama-kelamaan pun Ayah kamu pasti sadar. Dari pada tau sendiri, mending kasih tau sekarang. Kamu gak boleh menutupi apapun dari keluarga kamu kaya gini" Sore yang terus-menerus bicara.
Tak sadar Ayahnya ada di caffe yang sama berdiri di dekat mereka berdua, mendengar perkataan mereka, tiba-tiba minuman yang dia pegang terjatuh dan menarik kencang baju Sore sambil menatap tajam matanya.
AYAH!!!
"Ayah lepasin yah!"
__ADS_1
"Om-om lepasin om"
"Yah lepasin dulu, Embun bisa jelasin"
"Anak ini ngehamilin kamu!?" Nada marah dengan sangat keras.
"Ayah ini cafe, pelanin suara ayah. Kalo ada yang kenal Embun gimana"
Ayahnya melepas Sore dan duduk bergabung dengan mereka, terus memelototi kearah Sore dengan mimik wajah seperti akan melahap.
"Jadi gini.." Ucap Embun.
"Ayah pengen dia yang jelasin" Menatap terus Sore.
"Bukan saya om yang lakuin" Kata Sore sembari takut karena tatapan Ayah Embun yang menakutkan.
"Cowok yang sudah berani melakukan hal seperti itu mana ada yang berani ngaku, anak cowok masih bisa bebas sementara anak cewek meninggalkan bekas"
"beneran om bukan saya"
"Iya Yah bukan Sore kok yang ngelakuin"
"Terus kenapa kamu, mau-mau aja sih Embun!" Frustasi Ayah Embun sembari memalingkan wajahnya ke arah Embun.
__ADS_1
"Kenapa kamu dengan mudahnya melakukan hal seperti itu, kamu gak mikir kamu masih sekolah, masih banyak hal-hal yang kamu harus gapai. Kenapa nak, kenapa!?" Tambahnya.
"JAWAB AYAH!!" Sentak dengan keras.