
Sore mengantar Embun dengan selamat sampai di rumah, membukakan pengikat helm itù sambil tersenyum rayu padanya. Entah mengapa Sore merasakan jika Embun juga mencintainya, namun terhalang oleh anak diperutnya bersama Bio. Tatapannya amat berbeda, matanya sangat cantik, ingin rasanya memilikinya. Benar saja Ayahnya selalu mengintai dibalik jendela rumahnya bersembunyi di tirai menatap tajam dengan tampang mimik wajah yang kepo.
"Eh om, lagi ngapain" Tanya Sore dengan santai.
"Ah! Kepo kau" Jawabnya salting karena sudah tertangkap basah pleh Sore.
"Embun masuk"
"iya Yah, aku masuk dulu" Ujar Embun kepadanya.
"Iya, istirahat yah" kata Sore sambil tersenyum mendadahi Embun.
"Oh ya! Saya cuma mau bilang jangan ketemu Embun lagi" ucap Ayah Embun yang tiba-tiba.
"Kenapa om? Emangnya saya salah apa?"
"Kau tidak ada salah, cuma saya khawatir dengan kedekatan kau dengan anak saya ini yang sedang mengandung akan menimbulkan masalah untuk kehidupan kau nantinya"
"Engga lah om, masa masalah sih. Saya siap kok gantiin si Bio jadi Ayah dari anak itu"
"Kau jangan asal ngomong, kau gak bisa dengan begitu mudahnya menggantikan Bio jadi ayah dari cucu saya"
"Kenapa engga? Saya atlet Anggar putra terbaik, wajah tampan rupawan, body bagus, bahu lebar, pintar dalam pelajaran juga" Menyombongi diri.
"Kenapa kau jadi menyombongkan diri seperti ini, kau gagal seleksi untuk mendapatkan anak saya" Ucapnya sambil menghus-hus Sore pergi dari rumahnya.
"Sudah kau pergi sana!"
__ADS_1
"Eh om, saya gak sombong memang saya itu sudah sangat sempurna" tambah sombongnya.
"Mulai besok jangan datang lagi kau kerumah saya" Ucapnya lalu pergi masuk ke dalam rumah. Sore terdiam, terus terdiam, terdiam lagi dan lagi.
"Anjir, seriusan?" Ucapnya dengan tubuh membeku ditempat yang masih tak percaya.
Dringgg!!!
Nada dering ponsel Embun terus terdengar semakin kecang.
"(Wajah panik) Ngapain kamu disini!" Panik Embun melihat Sore sedang duduk di jendela kamarnya.
"Masa tadi Ayah kamu ngelarang aku buat ketemu kamu" mengadu.
"Cuma bercanda"
Embun...
"Cepet turun!" Panik Embun terus mendorong tubuh Sore terus-menerus.
"Bentar lah, kamu mau bunuh saya"
"Ya cepet buruan turun" mendorongnya lagi.
Krekkk — suara gagang pintu.
Embun langsung mendorong tubuh Sore hingga jatuh ke bawah.
__ADS_1
"Sorry-sorry"
"Gila! ni cewek gak punya hati banget" ucap Sore sambil berusaha beranjak berdiri menahan sakit.
"Kamu ngobrol sama siapa kok ada suara cowok?" Tanya Ayahnya yang baru tiba di kamar.
"Ta-tadi aku ngobrol sama temen di telpon"
"Pasti si Sore ngadu ya, dasar tuh anak yah"
Sampai dirumah namun bukan pulang ke rumahnya, ia pulang ke rumah Ayahnya. Menbuka pintu, berjalan menuju kamarnya. Berganti pakaian dan tertidur pulas. Sudah tiga jam ia tertidur, namun perlahan matanya terbuka karena tiba-tiba tangan kecil merayap memeluk tubuh besarnya itu.
"Anya..." menatap Anya yang sedang tertidur pulas disampingnya. Tak berani membangunkan Sore jadi ikut tertidur lagi dengan Anya. Bangunnya jam sudah menunjuk pukul delapan malam, ia terbangun dan sudah tidak melihat Anya disana. Berjalan lari ditangga menuju dapur untuk mengambil segelas air disana.
"Sore.. udah bangun" suara manis Anya memanggil.
"Kakak Sore" Kata Ayahnya mengajari Anya untuk memanggil Sore dengan kata kakak.
"Masih kecil ini Yah, gak apa-apa lah" Ucap Sore sambil menyeruputi air putih di gelasnya.
"Gimana Embun? baik-baik aja kan?" Ucap Ayahnya menanyakan
Embun.
"Tumben banget Ayah nanya Embun"
"Kemungkinan mulai besok dia akan di keluarkan dari sekolah" Sore berhenti minum dan terdiam sejenak mendengar ucapan Ayahnya itu.
__ADS_1