
Sudah seminggu berlalu Sore ditinggalkan sang Ibu. Setelah kepergian Ibunda nya Sore perlahan belajar untuk mengiklaskan, walau sebenarnya sangat berat dan sulit. Melupakan seseorang yang sangat berarti baginya, juga sangat ia sayangi.
GUBRAK!!
suara dorongan yang sangat kencang terdengar jelas di telinga Sore yang mengarah ke gang sempit dekat kampus.
"Gue bilang stop deketin Bio" Kata Vina sangat keras dan kesal.
"Bukan gue yang deketin tapi dia duluan"
"Jangan suka ngada-ngada deh lo, gue liat pake mata gue sendiri" tendang kaki gadis itu dengan sangat keras membuatnya kesakitan.
"Apaan sih lo! udah gue bilang bukan ya bukan!!" kesal.
Tangan Vani tiba-tiba melayang mengarah pada wajah gadis itu.
"Dia udah bilang bukan, mau sampe kapan lo siksa ni anak?" Hendak akan menampar namun terhenti dengan kedatangan Sore disana.
Gadis itu berlari bersembunyi kearah belakang Sore. Sore terus menatap Vani membuatnya menjadi ketakutan dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Makasih" Bukannya menjawab Sore malah berjalan melewatinya.
"Aku bilang makasih" katanya lagi sambil menarik tangan Sore.
Sore menghela nafas nya, karena sudah tidak mood sekali menjawab untuk membalasnya.
"Nama aku Lea" katanya memperkenalkan dirinya, namun Sore hanya mengangguk.
"Nama kamu?" Tanya nya.
"Sore"
"Boleh minta nomornya?" pintanya dengan terus memaksa. Terpaksa Sore memberinya.
__ADS_1
Lea tersenyum menatap Sore tanpa henti, wajahnya bersinar-sinar. Sore yang baru sampai kelasnya sudah terdengar sangat berisik sekali ponselnya.
Save ya, ini Lea.
Harus save loh.
Jawab dong!
Hey!
Hellow!
Sore.
^^^Iya udah gue save jangan chat gue lagi, berisik.^^^
Semangat ya, nanti kita ketemu lagi di kantin.
Tak dibalas lagi oleh Sore, ia mengabaikannya dan kembali belajar.
"Bukan siapa-siapa"
Selesai kelas mereka bersembilan pergi bersama-sama ke kantin. Mengisi perut nya yang kosong dan otak yang sudah pening dengan pelajaran yang memusingkan. Sampai dikantin Sore melihat Lea sedang duduk di bangku kantin bersama temannya. Sembari matanya menatap kearah nya dengan senyuman menggoda. Namun lagi-lagi Sore
menghiraukannya.
Berjalan memesan makanan, dan tak sadar jika Lea ada di sampingnya dengan tingkah seperti gadis ingin perhatian.
"Hei!" Sapa Lea.
"hmmm?" Jawabnya sembari fokus memesan.
"Pulang bisa dong nebeng, rumah gue deket kok dari kampus"
__ADS_1
"Gue anter istri gue" Jawabnya dengan menatap jelas kearah Lea.
"Gue tau lo udah punya istri, tapi ya gak apa-apa dong kali-kali gue ikut nebeng di motor lo" masih ngeyel.
"Mau dimana? di pentilmotor?"
"Di pelukkan lo juga gue gak apa-apa kok"
"Semakin kesini omongan lo gak jelas ya"
"Bagus lah, dengan ngomong gak jelas gini kan lo jadi jawab omongan gue terus" Katanya dengan menggoda.
"Gimana? boleh?" tambahnya.
Sore lalu pergi menjauh dari Lea karena sudah merasa tidak beres jika terus diladeni.
"Siapa dia?" Tanya Embun.
"Bukan siapa-siapa"
"Tapi kok.." terpotong.
"Aku bilang bukan siapa-siapa, gak usah dipikirin kenapa sih. Cepet makan" Sentaknya membuat Embun dan teman yang lain menjadi tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Habis menyantap makanan Embun dan Elisha pergi ke Wc. Elisha menatap Embun dan bertanya karena penasaran.
"Ada yang aneh gak sih dari Sore, Bun?"
"Bukan aneh, mungkin dia masih inget sosok Ibunya. Jadi kelakuannya berubah, tapi gue yakin itu cuma sementara kok"
"Embun buka mata lo. Dari yang gue liat dia mulai beda ke lo, omongannya sekarang jadi suka nyentak lo, terus dia deket mulu sama cewek yang tadi"
"Perasaan lo kali"
__ADS_1
"Bukan perasaan gue aja, anak-anak juga ngerasa kaya gitu" ucapan Elisha memang benar, Sore sudah berubah. Embun pun sebenarnya merasakannya, namun dia terus bersikap positif thinking dan tak ingin membesar-besarkan masalah. Berusaha menjadi istri dan ibu yang baik di mata suami dan anaknya. Padahal baru saja beberapa hari mereka menikah, tapi Sore terus membuat curiga dirinya.