
Embun?
Embun terkejut mendengar suara bu Anggun di supermarket itu dan tak sengaja menjatuhkan alat tespek yang ia beli lalu dengan refleks langsung menginjaknya agar tak terlihat oleh bu Anggun.
"Eh ibu" sapanya dengan tangan yang terus meremas jari jempolnya sembari menutupi mulut.
"Ternyata benar, ibu sampai tidak mengenali kalo kamu pakai topi" ucapnya lagi sambil tersenyum.
"Kamu belanja apa Embun? biar sekalian saja ibu bayar" ucapnya mengeluarkan belanjaan dari keranjangnya sembari celangak-celinguk mencari belanjaan Embun.
Embun tambah panik dan terus memberi kode meminta tolong dengan terus menutup mata dan menggelengkan kepalanya perlahan agar sang kasir disana tidak memberitahu kepada bu Anggun jika dia membeli alat tespek itu.
"Belanjaan anak ini biar sekalian saya yang bayar yah" ucapnya kepada sang kasir disana.
"U-untuk kakak ini sudah dibayar bu belanjaannya" ucap sang kasir membuat Embun merasa lega.
"(menghela nafas dengan tenang) Yasudah bu, saya duluan yah" Kata Embun langsung pergi terburu-buru sambil membawa alat tespek yang dia beli.
"Silahkan di totalin aja yah" ucap bu Anggun kepada sang kasir.
Waktu malam sudah usai, dan telah berubah menjadi pagi yang sangat cerah. Tidurnya terbangun dengan suara klakson yang terus terdengar semakin kencang di telinganya.
"Ya tuhan, pasti Ayah nih pagi-pagi berisik banget" Omel Embun yang masih menggeliat di kasurnya.
"Ayah, jangan mainin klakson dong pagi-pagi gini, ganggu tetangga kesian" Ucapnya membuka jendela kamar sambil memeriksa.
Udah panggil ayah aja, Mau saya nikahin?
__ADS_1
Terlihat sangat jelas wajah Embun yang sangat terkejut melihat sosok Sore sedang berada di depan rumahnya. Mata yang tadi setengah mengantuk menjadi terbuka lebar.
"Ngapain kesini!"
"Ya mau jemput"
"Jemput? mau kemana?"
"Ya sekolah lah"
"Ini hari sabtu"
Sore menyalakan layar ponselnya dan benar tertera jelas jika hari itu hari sabtu, membuatnya tiba-tiba menciut malu wajahnya memerah.
"Yaudah masuk sini ke rumah, udah terlanjur dateng ke sini juga kan"
Embun keluar dari kamar dengan memakai baju tidurnya, menghampiri Sore dan membukakan pintu untuknya. Membuatkan minum untuk Sore, Embun yang terus menyeringai tertawa karena kelakuan Sore, tak sadar Sore melihatnya dan membuatnya malu kembali.
"Ya emangnya kenapa? lagian semangat banget buat jemput aku"
"Bukannya semangat, saya orangnya pelupa"
"Ngeles lagi"
"Bukannya ngeles, emang bener ko"
"Iya iya terserah kamu aja lah"
__ADS_1
Embun kenapa ko pintu kebuka begitu? — suara Ayah Embun.
"Siapa kamu! Maling yah?" Ucap panik melihat keberadaan Sore dirumahnya.
"Bukan Ayah, dia temen Embun"
"Temen atau temen? Terus kenapa kamu pake baju sekolah kan ini hari sabtu"
"Jadi gini, dia itu niat mau jemput aku terus dia lupa kalo hari ini hari sabtu" Ucapnya sambil tertawa. Menyajikan minum untuk Sore dan Ayahnya yang baru saja olahraga di luar.
Mendengar itu Ayahnya langsung tertawa terbahak-bahak dengan refleksnya memukul ke arah Sore karena saking ngakaknya.
"Saya tau anak saya cantiknya minta ampun, tapi kamu jangan sampe pikun juga dong. Mana masih mudah lagi" Ucapnya yang masih tertawa.
Sore menjadi tambah malu karena diketawain oleh Ayah Embun, Rasa ingin menghilang sudah mencapai 99% rasanya.
"Aduh ada-ada aja ya kamu, okelah saya mau mandi dulu. Capek banget perut saya ketawa mulu dari tadi" Kata Ayahnya.
"Siap Om"
"Kalo udah minumnya boleh langsung pulang"
"Kok kamu ngusir saya"
"Bukan ngusir, kamu gak akan berlama-lama disini juga kan"
"Oh jadi kamu mau saya berlama-lama disini?"
__ADS_1
"Apa sih"
"Yaudah saya bakal berlama-lama disini"