
"Sore!" Sapa Lea melambaikan tangannya dan mendekat.
"Apa lagi?"
"Malem ke club yuk"
"Gila lo"
"Ya emangnga kenapa? Kan udah cukup umur"
"Gak gue gak bisa"
"Tolong dong ikut ya"
"Gue bilang engga ya engga, jangan paksa gue"
"Pergi lo, nanti istri gue liat berabe"
"Ah gak mau"
"Aduh asik banget mesra-mesraan sama suami orang yah!" Suara Embun yang baru saja sampai di kantin bersama tujuh teman lainnya.
"Ya emangnya kenapa? Gak boleh?"
"Mulut lo minta di tabok?"
"Eh jangan sok cantik deh lo, jadi istri Sore juga belum tentu langgeng kan lo" ujar Lea dengan songong.
"Eh jaga ya mulut lo" bela Livy.
__ADS_1
"Jangan sok munafik, bukannya lo suka juga sama Sore kenapa lo gak rebut aja dia? oh, mungkin lo pelan-pelan nikung dari teman lo kali ya"
"Jaga mulut lo, selagi gue sabar" Kesal Livy.
"Buat apa di jaga? mending punya mulut cerocos kaya gini kan, dari pada kaya lo yang munafìk"
PLAK~
Suara tamparan keras Embun tepat ke wajah Lea. Lea terdiam tak percaya akan tamparan Embun yang sangat menyakitkan. Menaikkan wajahnya lalu menatap wajah Embun dengan melotot sangar.
"Apa!? Berani lo sama gue? Lo berani sama temen gue, tandanya lo berani juga sama gue"
"Ngapain juga gue takut sama lo"
"Bawa!" Ucap kesal Embun menyuruh Elisha, Livy, dan Yuna menyeretnya dan membawanya ke WC.
Embun mendorong keras tubuh Lea ke tembok membuatnya jatuh ke lantai. Dengan wajah sangar menatapnya, dengan tatapan amarah.
"Berani lo abisin gue?" Embun menekan gemas kedua pipi Lea dengan satu tangan sembari menyeringai dan mengibas rambut miliknya itu karena kesal mendengar ucapan Lea.
"Udah abisin aja nih anak" Kata Livy.
"Lo pikir lo siapa?" Suntrung kepala Lea.
"Baru kenal aja udah ngerasa kaya udah kenal bertahun-tahun lo" tambahnya sembari memukul-mukul pipi Lea.
"Sekali lagi gue liat lo deketin Sore, gue bakal lakuin lebih dari ini" Tambahnya lagi sambil menggedorkan kepala Lea ke tembok dan berdiri lalu pergi.
Sebelum keluar Elisha menatap wajah Lea dengan sangarnya sembari memasukkan tangan ke saku jaketnya. Diikuti Yuna yang tak lupa menyuntrung keras kepala Lea dengan tatapan tajamnya, lalu Livy menyiramnya dengan air pellan dan melempar ember itu ke samping Lea.
__ADS_1
Lea menjadi sangat tak percaya dengan mereka, wajah yang terlihat baik namun baru tersadar ada jiwa yang sangat menakutkan dalam diri mereka. Dia terus menundukkan kepalanya dengan sangat kesal sudah diperlakukan semena-menanya oleh mereka berempat dan memutuskan untuk membalaskan dendamnya dengan cara apapun.
DRING!!
nada dering telfon Sore. Sore mengangkatnya terdengar suara Lea yang sedang masuk. Terus menggodanya agar datang ke club sembari minum bersama dengannya.
"Hai cantik, kesana yuk sama abang" terdengar jelas suara laki-laki menggodanya.
"Lepas, gue gak mau!" Teriaknga dengan beeadu dengan disco musik yang sangat keras.
"Ayo, gak apa-apa" Ucapnya lalu mematikkan ponsel milik Lea.
"Lea!"
"Lea!"
Sore yang sedang menongkrong bersama teman-temannya itu langsung manaiki motorñya.
"Mau kemana lo!" ucap Jeo.
"Ada urusan penting gue duluan"
Sampai di club Sore terus mencari keberadaan Lea namun masih saja tak melihatnya, memasuki lorong tiap ruangan yang berjajar kamar. Dan benar Ia melihat sosok Lea yang sedang tertidur di ranjang seperti sudah dibius oleh laki-laki itu.
Tak banyak fikir Sore langsung masuk ke ruangan itu dan..
BRUK~
Pukulan keras menghantam kepala Sore.
__ADS_1
Tersadar Sore membukakan kedua matanya dengan kepala yang masih terasa sakit. Ia melihat Lea ada di sampingnya tidur bersama dengannya semalaman tanpa ia sadari. Ia langsung menjauh saat Lea teriak dengan keras karena mereka berdua tak memakai pakaian. Saling menatap satu sama lain, dengan tatapan tak percaya.