
Hari kedua pencarian Ibunda Sore.Tak hanya Ayah Embun, Ibu tiri Sore pun ikut membantu dan menitipkan anaknya Anya pada bi Inem. Berpencar dan kembali mencari, Sore merasakan insting seorang anak bahwa Ibunya masih hidup.
Sudah mencari tujuh jam lebih masih saja Ibunda Sore belum di temukkan. tiba-tiba hujan turun sangat deras membuat pencarian terhenti kembali. Sore menjadi sangat kesal, usahanya selalu terhalang. Saat terus ingin berusaha mencari namun sesuatu terus menimpa. Mencoba bersabar dan terus berdoa untuk keselamatan Ibunya.
Dan matanya tertuju pada salah satu tandu yang dibawa para tim SAR, yang sekujur tubuh dan wajahnya di tutupi kain namun perlahan tangan sang korban itu keluar. Tangan dengan memakai cincin giok berwarna putih yang sama percis dengan cincin yang ia berikan waktu itu saat ulang tahun Ibunda nya. Mendekat dengan setengah kesadaran, melangkah demi melangkah ia mendekat tandu itu. Membuka kain yang menutupi wajah korban itu. Sontak ia sangat tak percaya, terdiam, air matanya keluar begitu saja. Dengan semakin deras, dan deras. Keluarga dan teman-temannya menatap Sore yang menangis di depan jasad korban yang tak terselamatkan atau bisa dibilang sudah tak bernyawa. Mereka berjalan semakin dekat dari berbagai titik. Dan benar, dengan jelas, dengan mata terbuka itu adalah jasad sang Ibunda Sore. Ia semakin menangis menjadi-jadi karena tidak menyangka akan hasil yang ia dapatkan.
"Mungkin ini ditujukan untuk mas" Tim SAR mendekat dan memberi secarik kertas kepada Sore yang dia dapat dari genggaman erat sang Ibunda.
__ADS_1
Selamat ya nak, Ibu ikut senang atas pernikahan mu. Jaga wanita itu dengan baik, Oke? Ibu sangat ingin menyaksikannya, namun mungkin ibu tidak akan pernah sampai kesana. Secarik kertas ini semoga bisa membantu dan sampai kepadamu ya. Ibu sayang kamu. — Pesan yang membuat air mata Sore terus membasahi wajahnya. Jelas sekali Ibunda nya cepat-cepat menuliskan itu, terlihat dari semua huruf sangat tak jelas seperti orang dengan kepanikkan.
Suasana menjadi sangat haru, menyaksikan Sore yang terus menangis di depan jasad sang Ibunda. Terus memeluk tubuhnya sambil menangis menjadi-jadinya. Ayahnya terus menenangkan, namun semakin di tenangkan tangisnya semakin menjadi. Rasa sedihnya tidak bisa di tahan lagi.
Pemakaman sang Ibunda dihadiri banyak pelayat dari kalangan teman Sore, keluarga, maupun teman dekat sang Ibunda. Mereka mulai mendoakan dan mengiklaskan kepergiannya. Mencoba tabah dan kuat atas kehilangan sosok dirinya. Yang terkenal baik hati, penyabar, selalu membantu siapa pun tanpa melihat status.
"Yang kuat ya" Tepuk pundak Sore.
__ADS_1
Selesai pemakaman ia kembali ke rumahnya, teman-temannya terus menghibur Sore. Nino terus menatap wajah sang Ayahnya itu sembari mengelus halus air mata yang terjatuh ke pipinya.
"Jangan nangis ya Ayah. Nenek sudah bahagia di atas sana" Semua tak percaya dengan apa yang mereka dengan, seorang anak kecil yang baru berusia 3 tahun dengan pintarnya dia berbicara seperti itu. Sore tersenyum dan mengecup kening Nino dan memeluknya.
"Nino aja yang dicium, dipeluk. Masa Anya engga sih" omelnya dengan wajah ngambek sangat lucu.
"Apa sih.. Ini kan Ayah Nino" Cemburu Nino pada Anya dengan suara yang masih belajar bicaranya.
__ADS_1
"Iii.. sebelum jadi ayah Nino kan kak Sore kakaknya Anya. Ni..no.."
Semua ikut tersenyum dengan pertikaian mereka berdua yang sedang merebutkan perhatian Sore. Seperti anak-anak itu sedang membuat skenario untuk Sore agar tersenyum dan tidak sedih lagi.