
Masih menunggu Sore untuk menahannya, jelas sekali dia manampakan wajah penuh kebencian. Berdiri disana dengan kedua mata menyoroti Sore yang berbeda jika bersamanya. Kali ini dia melihat sosok Sore yang sangat ceria dan penuh senyum di wajah. Terus memainkan ransel dipunggung nya diikuti kaki yang terus menendang batu, seperti mencari perhatian.
"Gue anter lo" suara mengajak Yuna pulang bersama namun bukan Sore melainkan Hiro.
"Gak apa-apa Yuna bisa pulang sendiri" Tolaknya pura-pura padahal ingin ikut menebeng.
Hiro yang terlalu peka itu langsung menarik ransel itu sehingga tubuh Yuna ikut terseret oleh tarikannya.
"Gak mau!" Tolaknya lagi.
"Naik cepetan" Hiro langsung menaiki Yuna ke motornya sambil menarik tangannya untuk memeluk tubuhnya dengan erat.
"Ish apaan sih!" Marah Yuna melepas pelukkan.
"Demi keselamatan, nanti jatoh jangan salahin gue" katanya.
Yuna perlahan kembali memeluk erat Hiro, semua menatapnya dengan memberi kode bahwa akan ada yang saling jatuh cinta.
"Elisha kapan dong kamu peluk aku kaya gitu" Tanya Kio menatap Elisha dengan murung.
"Gue tabok dulu baru gue peluk"
"Yaudah mending tabok sekali, tapi di peluk berkali-kali" Elisha menyuntrungi kepala Kio dengan keras.
"Peluk dong"
"Apaan?!"
__ADS_1
"Udah lah Elisha peluk aja tuh si Kio, kesian banget" Kata Embun sambil tertawa.
Kio yang kesal menunggu sangat lama, memegang tangan Elisha dan menyimpannya di tubuhnya dan sangat terasa oleh Kio, Elisha mengeratkan pelukan itu membuat Kio tersenyum sambil mengusap kepalanya yang menyender di bahunya.
"Sedih banget gue, kaga ada yang mau di bonceng gue gitu?" Ucap Gio melihat yang lain membonceng cewek-cewek cantik sembari menepuk-nepuk jok belakang dengan wajah yang pura-pura sedih.
"Pak Acong numpang nebeng yah kalo begitu" Kata Pak Acong langsung menaiki motor Gio dengan sangat santai. Membuat anak lainnya tertawa terbahak-bahak karena melihat kesedihan yang tampak terlihat di wajah Gio.
Hiro mengantarkan Yuna kerumah nya dengan selamat, menatapnya dan menahan Yuna dengan memegang tangannya itu.
"Apa?"
"Minta nomor lo"
"Nomor?"
"Oke udah gue coba miss call pake nomor lo, nanti gue chat lo. Harus cepet-cepet dibales"
Baru beberapa menit setelah diantar Hiro, Yuna sudah mendapatkan pesan darinya yang berisi seperti ini.
Besok gue jemput.
Isi pesan itu membuat jantung Yuna menjadi berdetak kencang. Ada rasa senang dan juga takut. Senangnya karena dia tidak usah susah payah lagi mendekati seorang laki-laki. Takutnya karena Hiro sepertinya sangat berani melakukan ini itu.
Yuna terus manatap layar ponselnya, tanpa membuka pesan dari Hiro. Ingin menunggu lebih lama, namun teringat ucapan Hiro tadi. Perlahan jarinya mengetik untuk membalas.
Gak usah.
__ADS_1
Jawabnya yang lagi-lagi menolak mentah-mentah.
Tolak aja terus, padahal mau banget kan dianter.
Balasnya membuat mata Yuna membesar.
^^^Gak jelas.^^^
Gue jemput dan lo harus mau.
^^^Yuna bilang kan gak usah, jangan maksa dong.^^^
Terserah lo, gue tetep bakal jemput.
^^^Pemaksa banget sih.^^^
Karena tadi gue udah bonceng lo, berarti hari ini kita jadian.
^^^Gila beneran gak jelas banget, nembak juga engga.^^^
Suara dering ponsel, panggilan dari Hiro membuat Yuna menjadi tremor.
KREK.. — Telfon terangkat.
Gue suka sama lo.
Detak jantung Yuna terus berdetak kencang tak menentu sambil memegang dadanya dengan senyuman tampak dibibir nya.
__ADS_1