
"Eh lo mau kemana?" Tanya Elisha kepada Sore.
"Anter Embun pulang lah"
"Latihan lo"
"Eh terserah gue lah emak gue bukan, ribet banget"
Sore cepat-capat mengejar Embun yang sudah jauh dari pandangannya. Hingga terlihat kembali belakang punggungnya itu berlari dengan langkah kecil lucunya, lalu Sore melepaskan tas Embun dan memakainya di depan tubuhnya.
"Kamu mabal? Tanya Embun.
"Mau anter kamu dulu"
"Bener yah, awas abis anter saya kamu malah langsung pulang"
"Iya-iya" Jawabnya sambil memakaikan helm motor kepada Embun.
Dalam perjalanan Embun terus mengingatkan agar Sore bisa berprilaku baik kepada Ayahnya walau memang masalalu masih terbayang-bayang sampai sekarang. Sore terus mengiyakannya dengan main-main dan tengil.
"Ish kamu ya" Kesal Embun memukul helm Sore.
"Awww! sakit tau"
"Ya abisnya dikasih tau malah kaya gitu" dikaca spion terlihat wajah Embun sangat sebal. Cepat-cepat ia menarik tangan Embun dengan terus mengelus-elus punggung tangannya itu.
"Iya, maaf ya"
"hmmmm..." hanya itu yang keluar dari mulutnya dan tiba-tiba Embun memeluk Sore sangat erat sambil menidurkan kepalanya di punggung belakang Sore.
__ADS_1
Ah! Tumben banget ni anak, mana pipi gue jadi merah gini. Kaga lucu kalo disangka orang gue pake blushon — ucap dalam hati Sore.
Gemes juga ternyata Embun — tambahnya.
Sampai didepan rumah Embun, Sore menatap wajah Embun dengan sangat dalam. Memainkan rambut Embun yang terurai membuatnya menjadi aneh dengan sikap Sore kepadanya.
Cantik banget sih lo, manis juga, baik apalagi, dahlah paket komplit — lagi lagi ucapnya dalam hati.
Mata Sore tiba-tiba mengarah ke arah jendela rumah Embun, ia melihat sosok laki-laki tua sekitar umur 40 tahunan yang sedang menatap wajahnya dengan sangat tajam seram. Sadarnya ia langsung mengacak-acak rambut Embun dengan sangat kencang membuat rambut Embun yang tadi rapih menjadi seperti tersambar petir.
"Itu ayah kamu" bisik Sore.
"Mana?" Embun melihat ke belakang membuatnya sangat kaget, karena wajah ayahnya yang sangat seram seperti ingin melahap seseorang.
"I-i-ya" Jawabnya terpata-pata.
"Kayanya saya mending balik sekarang ya"
"Iya iya maksud saya itu"
"Cepet-cepet sana" Terdengar sangat panik yang keluar dari mulutnya yang memburu-burui itu. Lalu, dengan arahan Embun. Ia memutuskan untuk pergi cepat dari rumahnya sambil berpamitan kepada Ayahnya yang masih menatap tajam wajahnya itu.
"Ayah kenapa gitu sih, kesian Sore jadi takut"
"Emang serem banget ya muka Ayah ckckckck, itu anak cowok yang pikun kan?" Tertawa mengikik.
"Eh si Ayah" jawabnya ikut tertawa.
"Embun ke kamar dulu ya" tambahnya.
__ADS_1
"Syiap"
3 jam sudah berlalu, Sore yang baru selesai latihan untuk mempersiapkan pertandingan nanti ia langsung memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Mau gue anter gak?" Tanya Sore.
"Ya iyalah" jawab Elisha.
"Cepet naik"
Elisha hendak akan memakai helm, dengan cepat Sore langsung mengambilnya dari tangan Elisha.
"Ngapain lo"
"Pake helm lah"
"Minjem tuh ke pak satpam, helm ini khusus buat Embun seorang"
"Idih najis lo" Ucap sebal Elisha lalu turun kembali dan meminjam helm ke pak satpam.
Sesampainya mengantarkan Elisha ke rumah Embun, ia terus melirik kesana kemari mencari keberadaan Embun namun tetap saja tidak melihatnya.
"Ngapain lo! balik sana"
"Eh.. salam ya buat Embun"
"Baru lo anter dia 3 jam yang lalu"
"Ya gapapa lah, namanya juga sedang bucin. Lo juga pasti pernahkan ngebucin pas pacaran sama si Kio"
__ADS_1
"Tau dari mana lo, gue pernah pacaran sama si Kio"
"Tau lah hp nya sampe sekarang penuh banget poto lo, sampe walpapernya juga masih poto lo. Mending lo balikan aja sana sama si Kio, kesian tuh anak ngegalau mulu"