
Orang tua manapun pasti tidak mau jika anak gadisnya hamil diluar nikah, apalagi anak gadis satu-satunya yang dimiliki. Ingin menjadikannya ratu, mendapatkan pendamping yang menyayanginya bukan yang meninggalkannya dan akhirnya membuat anaknya menangis. Berharap mendapat pendamping yang setia mendampingi bukan yang meninggalkan jika sudah tidak butuh. Yang salah memang bukan hanya Bio saja, Embun juga sama salahnya. Dan Bio harusnya, eh bukan HARUSNYA sih tapi HARUS bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan. Ayah Embun sangat amat terpukul sekali, dunia seakan hancur.
Kandungannya sudah berjalan 2 bulan lebih, tidak mungkin dia terus bersekolah. Sekarang masih bisa ditutupi, tapi tidak saat kandungannya membesar. Semua orang pasti akan tau, juga jadi bahan perbincangan sana-sini, mereka pasti mengejek, dan membullynya. Ketakutan terus menghantui, banyak fikiran juga membuat keadaan ibu dan anak di perutnya menjadi tidak baik.
Ayahnya memutuskan untuk menemui Bio, mendatangi langsung rumahnya bersama Embun. Mengetuk rumah itu dengan wajah yang penuh kekesalan sembari memanggil nama Bio. Tak lama dari balik pintu itu ada seorang wanita paruh baya yang ternyata ibunya. Dia terus memanggil anaknya itu dengan kecemasan karena ayah Embun yang terus berteriak dengan amarahnya. Suara langkah kaki turun dari tangga terdengar jelas dan benar itu Bio. Matanya melotot ketakutan saat melihat Ayah Embun disana, membeku dan perlahan berlari masuk kembali ke kamarnya. Dengan refleks Ayah Embun berlari masuk mengejar Bio terus menggedor pintu kamarnya terus-menerus.
Ibunya ikut panik terus menanyakan masalah yang terjadi, namun ayahnya tidak menghiraukannya. Terus mendobrak pintu itu membuat Bio di dalam tambah ketakutan. Paniknya dia pergi menghampiri jendela kamarnya untuk meloloskan diri dari amukan Ayah Embun dengan melompat keluar. Lagi-lagi gagal karena Sore sedang berusaha memanjat ke jendela itu.
"Tolol ngapain lo kesini!"
__ADS_1
"Nang....kep lo... lah!" jawabnya dengan engos-engosan.
"Awas lo!" Menghus-hus tangan Sore dari jendelanya.
"Eh..eh. Gue bisa jatuh anj, mana tinggi bisa patah tulang gue"
"Anj, awas kalo gue udah sampe disana. Gue jait mulut lo"
Dobrakan terus terdengar hingga membuat pintu kamar Bio rusak. Ayahnya menghampiri Bio yang hendak akan keluar dari jendela itu dan menariknya kembali masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Pak! pak! lepas pak!" Ujar ibu Bio dengan khawatir.
"Diem bu, saya harus kasih pelajaran ke anak ibu ini karena sudah menghamili anak saya" Jelasnya membuat ibu Bio kaget dan tak percaya dengan ucapan Ayah Embun itu. Kakinya seketika lemas, tubuhnya terjatuh ke lantai, tatapannya menjadi kosong, menghela nafas dengan berat, dan tak memedulikan Bio yang terus di marahi oleh Ayah Embun.
Embun terus melerai Ayahnya dengan Bio, berusaha dengan sekuat tenaga namun kekuatannya kalah dengan yang dimiliki Ayahnya itu.
"Bun.. Embun!!" Suara Sore meminta tolong untuk dibantu diangkat masuk kedalam kamar Bio. Embun cepat-cepat menghampiri Sore dan membantunya. Baru menginjak kakinya ke kamar Bio, Sore langsung memisahkan keduanya. Embun membantu ibu Bio berdiri dan terus menenangkannya.
"ADA APA INI!" Teriak suara laki-laki sangat berat yang ternyata itu Ayah Bio. Semua terdiam karena teriakan yang dahsyat itu. Wajah Ayah Bio amat marah, kedua halisnya mengkerut, ditambah tatapannya yang begitu menakutkan.
__ADS_1