
Suara getaran ponsel Sore dimeja, membuat tatapan Embun mengarah pada ponsel itu. Menatap layar ponsel dan melihat terpangpang jelas nama Lea disana.
Sore baru saja keluar kamar mandi sembari terus mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dipegangnya.
"Lea siapa?" Tanya Embun.
"Anak kampus"
"Cewek yang tadi dikantin? yang ngobrol sama kamu?"
"Iya"
"(menghela nafas dengan tak percaya) Berarti selama ini benar dugaan aku"
"Dugaan apa?"
"Gak usah di bahas"
"Embun maksud kamu apa? jelasin dulu ke aku" tarik tangan Embun.
"Kamu selingkuh kan?"
__ADS_1
"Jangan ngada-ngada aku baru nikahin kamu beberapa hari yang lalu, kamu dengan entengnya nuduh aku gak jelas"
"Bukan nuduh, memang kenyataannya bukan? Kamu berubah"
"Berubah? Bukannya kamu yang berubah!" Sentak keras Sore.
HEEEM — suara Embun tiba-tiba berlari ke kamar mandi membuat Sore menjadi sangat panik. Terus menepuk punggung Embun yang terus muntah di wastafel. Wajahnya terlihat sangat pucat, Sore langsung membawanya ke ranjang dan menidurkannya.
Esoknya Sore dengan inisiatif membeli tespek dan memberikannya pada Embun. Keluar saat selesai mendapatkan hasil, dan diperlihatkan kepada Sore. Membuat Sore menjadi senang dan bangga. Mengangkatnya dan memeluknya, terus mengecup bibirnya berkali-kali saking gembiranya. Sangat tak percaya baru menikah sudah diberi momongan. Sore mencoba membawa Embun untuk periksa ke dokter untuk memperjelas.
"Selamat yah, istri bapak hamil sudah menginjak 1 bulan"
"Anak siapa itu?! Anak Bio?!" Tanya Sore kesal yang sedang berada di kamar bersama Embun.
"Aku tanya itu anak siapa!?" menunjuk kearah perut Embun.
"Ya anak kamu! anak siapa lagi"
"Bohong! kamu selama ini main kan di belakang aku?"
"Kamu nyalahin aku? Bukannya kamu yang main di belakang aku!"
__ADS_1
"Eh aku tanya serius ya. Kamu malah nyalahin aku gak jelas"
"Ya terus apa hubungan kamu sama Lea? Sampe-sampe kamu gak ada waktu ke aku sama Nino"
"Ayah Nino bukan aku. Tapi Bio" Ucapan Sore membuat Embun tak bisa berkata-kata dan perlahan keluar dari kamarnya itu, menjauh dari Sore sambil membawa Nino dipangkunya.
"Mau kemana kamu!" Kesal Sore menghalang kepergian mereka.
"Kamu bukan Ayah Nino bukan? Jadi jangan halang aku buat cari Ayah Nino!" Kata Embun membuat Sore terdiam karena ucapan marah Embun yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Nino pun ikut kaget dengan suaranya dan menangis memeluk Embun.
"Apa salah aku nikah sama kamu, aku kira kamu bener-bener bisa jadi Ayah terbaik buat Nino. Tapi nyatanya sama aja, mending sekalian aku cari Bio yang gak bertanggung jawab. Jelas-jelas dia Ayah kandungnya" Embun pergi meninggalkan rumah itu.
Sementara Sore masih terdiam karena masih tak percaya dengan Embun yang berucap seperti itu. Ia terus mengacak-acak rambutnya itu dengan kekesalan di benaknya. Tanpa banyak fikir ia langsung mengejar Embun menggunakan motornya. Menghampiri rumah Bio, terus menggedor-gedor pintu rumahnya dengan kesal.
"Embun mana?"
"Kenapa nanya ke gue, kan itu istri lo tolol!" jawabnya yang masih lelunggu karena baru bangun tidur.
"Jangan bohong lo" Sore langsung masuk ke dalam rumah Bio dengan terus mencari Embun disana. Namun, sama sekali ia tidak melihatnya.
"Gue bilang gak ada ya gak ada" Kata Bio yang jadi kesal.
__ADS_1
Sore terus menelfon Embun namun tetap saja tidak di angkat olehnya, mengirim pesan pun tak di jawab. Bertanya pada teman-teman yang lain pun jawabannya sama tidak ada.