
"Murung banget muka kamu, kenapa?"
"Gara-gara mba, poin aku kena minus" sebalnya seperti anak kecil.
Anya tersenyum tak menyangka dengan apa yang sekarang dia lihat. Seorang Nino anak yang keras kepala itu sekarang jadi menciut sambil menyalahkannya cuma karena poin saja.
"Cuma poin dipermasalahin"
"Cuma poin kata mba? Sekarang bagi Nino poin itu berharga tau! Karena apa? karena kalo poin Nino berkurang dari 100 ke 70, cinta Nino bakal gak diterima sama Violet" Curhatnya.
"Yaudah ayo pulang"
"Eh turun ah! Nino mau anter Violet" Menarik turun Anya yang bertahan untuk duduk di motor Nino.
"Turun gak!" Paksa Nino terus menarik tubuh Anya.
"Pak Mahmud! Bu Anya bilang mau bareng nih" Teriak Nino kepada pak Mahmud.
...Mahmud ( Bukan Mamah Muda )...
Panggilan : Pak Mahmud
Umur : 25 tahun
Hobby : Razia anak
Skill : Bikin para siswi rela buat di razia
Status : Sedang mencari calon istri bukan calon pacar
"Apaan sih!" tarik tubuh Nino karena malu pada pak Mahmud.
__ADS_1
"Alah cieeee.. Naksir kan. Cepet tuh naik udah nungguin si Mahmudnya"
"Pak! pake pak!" pukul bibir Nino.
Anya turun dari motor Nino dan menghampiri Pak Mahmud. Nino terus menunggu Violet yang sedang rapat osis, hingga sudah menunggu 20 menit akhirnya Violet muncul.
"Gue anter yah" Sambil memasangkan helm kepada Violet.
"Sendiri juga bisa gue" Tolaknya sambil membuka helm yang dipakaikan Nino.
Nino memasang kembali helm itu dan menalikan dengan kencang sehingga Violet susah membukanya. Dan membopongnya ke motornya itu hingga menaikinya.
"Diem, udah diem disitu. Jangan turun" Kata Nino membuat Violet nurut.
Nino menarik tangan Violet dan menyimpannya melingakari tubuhnya.
"Udah gini. Jangan coba-coba lepas" Katanya lagi memperingati Violet seperti ke anak kecil.
Nino menyalakan mesin motornya dan mengendarai dengan amat sangatt pelan sekali membuat Violet sangat kesal.
"Eh..eh.. kok belok sih!" Nino memutarkan balikkan arah padahal beberapa langkah lagi hampir dekat dengan rumah Violet.
"Isi bensin dulu"
"Ya kan bisa turunin gue dulu"
"Kalo gue lanjutin terus, tiba-tiba berhenti nih motor gegara abis bensin kan gak lucu"
"Ya kan, gue bisa jalan"
"Ya gue gak mau kalo lo jalan, kalo nanti malem kaki lo pegel-pegel gimana?"
"Ish!" pukul kesal tubuh Nino.
__ADS_1
Nino tersenyum tampak senang melihat Violet yang sedang kesal padanya. Wajah yang imut dengan rambut dikuncir kuda itu membuatnya sangat gemas. Bibir kecilnya, mata indahnya, kulit bak susu, hidung yang mancung seperti prosotan. Ketua osis, siswi terbaik di sekolah, kalo gini ceritanya pasti rival Nino jadi banyak.
"Kalo gini terus, bisa sampe 2 jam sampe rumah"
"Ya emangnya kenapa? Emangnya lo gak mau lama-lama sama gue?"
"Gak!" Mendengarnya pun sudah sangat menyesakkan untuk Nino. Rasa ingin mengulang waktu dan tak ingin menanyakan apa yang tadi dia katakan. Nino cemberut dan melanjutkan perjalanannya hingga sampai ke rumah Violet.
"Udah sana pulang"
"Ngusir?"
"Iya"
"Kalo ngomong ke gue bisa gak adem ayem kaya lo ngobrol sama si Ali?"
"Gak"
"Ish" kesal Nino terus diam di depan rumah Violet sambil memainkan helm yang sudah ditangannya.
"Pulang sana!" Mengusir terus menerus.
"Gak!" makin sebal.
"Pulang buruan" dorong tubuh Nino sekuat tenaga.
"Gak mau" mempertahankan jiwa dan raganya.
"Nino!!!" Menjadi murka.
"Apa sayang...?" Nada bergelombang bercampur aduk kebahagiaan, kali ini dalam sehari Nino mendengar Violet menyebut namanya.
"Ish, sayang.. sayang.. Apaan sih. Pulang sana cepet!"
__ADS_1
"Iya.. iya.. Selamat malam Inces aku" Membalikkan motornya dan pulang.