
Sudah bulan kelima Sore mengantar Embun dan Lea ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya. Tidak secara bersamaan, namun sudah dijadwal. Perut Embun sudah terlihat besar namun berbeda dengan Lea yang masih tak terlihat.
"Aku mau keluar ya" izin Embun, sudah berdandan rapih, cantik, nan elegan.
Sore tak mengijinkannya karena melihat kandungan Embun yang sudah sanagt besar. Ia khawatir takut terjadi apa-apa pada kandungannya. Dan Embun memutuskan untuk kembali ke kamar mengganti pakaiannya itu dengan wajah yang tak suka.
Sorry sayang.Hari ini gak diizinin keluar, aku usahain besok kita ketemu yah. — mengirim pesan.
Esoknya Sore terbangun oleh kicauan burung yang sangat berisik. Kedua matanya perlahan membuka dengan tangan yang terus meraba-raba keberadaan Embun. Namun, dia sudah tidak ada disana.
Berjalan dan menatap kebawah masih tak melihat Embun. Mengirim pesan pun masih tidak dibalas. Menanyakan pada bi Inem dan menjawab bahwa Embun pagi-pagi sekali pergi membawa Nino bilangnya mengajak bermain diluar. Mendengarnya membuat Sore menjadi sedikit lega.
Beberapa jam kemudian, Bi Inem masuk ke kamar Sore memberitahu bahwa ada tamu datang mencarinya. Sore berjalan menghampiri dan ternyata itu Lea sedang duduk di ruang tamu. Rambutnya terurai, dengan dandan yang cantik membuat Sore tersenyum kagum melihatnya. Melihat Sore, Lea beranjak dari duduknya dan memeluk erat tubuh Sore. Dengan santainya Lea malah langsung beraksi dengan menarik wajah Sore, namun dihentikan oleh Sore karena Bi Inem sedang memperhatikan.
"Bi jangan bilang-bilang Embun yah" Ucap Sore membuat kecurigaan Bi Inem menjadi terjawabkan.
Aku pulang agak malam.
Pesan dari Embun sembari dibacakan di depan Lea. Lea tersenyum dan senang karena akhirnya dia bisa bersama Sore sangat lama.
__ADS_1
"Menurut kamu nama yang cocok buat anak kita apa, yang?"
"Karena anaknya cewek, gimana kalo kita namain Lara?"
"Lara? Lumayan juga. Jadi nanti nama panjangnya Lara Nyjani"
"Nyjani?"
"Iya singkatan nama panjang kamu sama aku" Lea tersenyum sembari memeluk kembali tubuh Sore.
Lea tak ingin lepas dengan Sore, dia terus memeluk eratnya sembari duduk di atas sofa. Sore perlahan melepas dan mengambil cemilan di kulkas untuk dimakan bersama Lea. Saling menyuapi layaknya sudah suami istri. Bi Inem tanpa tak kuasa melihatnya kerena kelakuan Sore yang sudah diluar batas. Bi Inem mengeluarkan ponselnya dan memfoto mereka berdua yang akan langsung dikirim ke Embun.
"Kenapa?"
"Itu bi Inem main foto-foto aja terus dikirim ke Embun"
"Aelah gak bisa jaga rahasia tuan nya nih, pecat aja" Ucap sinis Lea sambil memelototi bi Inem.
Pukul enam malam Sore mengantarkan Lea pulang kerumahnya.
__ADS_1
"Nginep yah" Ajaknya
"Nanti aja yah, gak enak kalo diliat tetangga loh" tolak Sore.
"Yaudah" Lea memeluk lagi Sore dan masuk kedalam rumahnya.
Sepulangnya mengantarkan Lea, Embun sudah tiba lebih dulu di rumah menatap ke arahnya.
"Dari mana?"
"Antar Lea"
"Oh oke"
Bi Inem tercengang saat Embun bilang seperti itu. "Tidak salah kan ini pendengaran saya" Gumamnya.
"Gimana udah ada bukti mencurigakan?"
"Kecurigaan kita selama ini benar, Lea gak hamil. Selama ini aku dibohongin, dia mau buat aku terus kasih perhatian ke dia. Dan saat ke Club pun orang-orang itu bawaan dia buat ngejebak aku"
__ADS_1