Young Dad!

Young Dad!
Chapter 21


__ADS_3

Anak saya seorang atlet, perjalanannya masih panjang, dan dia HARUS melanjutkan mimpinya. Jadi saya tidak terima jika dia menikahi anak bapak ini. Anda mau buat mimpi anak saya hancur?


"Ayah..." Ibu Bio yang menarik tangan Ayahnya memberi kode untuk tidak berbicara seperti itu kepada Ayah Embun.


"Ya benar kan?" Ucap keras Ayah Bio.


"Toh sudah terlanjur juga buat apa, lebih baik gugurkan saja. Anak haram tidak pantas hidup, lagian sudah terlihat jelas anak bapak cewek gak benar. Gak pantas mendapatkan anak saya" tambahnya.


"Benar anak saya memang tidak pantas sekali dengan anak bapak. Jelas-jelas anak saya seorang atlet, atlet voli. Embun ceanelia, atlet putri terbaik yang amat sangat tidak pantas sekali didapatkan oleh anak bapak" Tegas Ayah Embun. Wajah Ayah Bio tak percaya dia terus menatap Embun. dan Sore juga ikut menatap Embun yang juga ikut tidak percaya akan Embun seorang atlet.


"Jika memang tidak mau bertanggung jawab langsung saja ke intinya, tidak usah meremehkan anak saya, dan mengata-ngatai cucu saya sebagai anak haram. Anak gadis mana yang mau hamil diluar nikah? Tidak ada yang menginginkannya. Saya pamit dan saya peringati kepada anak bapak untuk tidak mendekati anak saya lagi" Tambahnya dengan tenang.


Ayah Embun berdiri dan menggenggam tangan Embun membawanya pergi keluar dari rumah itu, dengan suasana hati yang sangat kesal. Ibu Bio menghampiri dan meminta maaf untuk ayah Bio karena sudah berbicara menyakiti hatinya.


"Saya tidak butuh permintaan maaf, saya butuh pertanggung jawaban anak anda"


......................

__ADS_1


Dipagi hari pukul sembilan Sore selesai berolahraga dengan memakai kaus dan celana pendek berwarna serba hitam, kembali kerumah dengan sepeda yang ia pakai. Ponsel nya terus bergetar di saku celananya disertai nada yang lumayan keras.


Sore malam ini kita makan bersama ya, dirumah Ayah. Sekalian merayakan kemenangan kamu.


Hmmm...


Langsung menutup telpon, lalu melempar ponsel ke sofa. Berbaring sejenak di sofa, karena lelahnya.


"Den sudah pulang"


"Sudah bi"


"Tumben bi Inem baru pulang jam segini" Tanya Sore sembari berbaring di atas tangan kanan dilipatnya.


"Pacaran yah sama si abang tukang sayur itu tuh... namanya siapa ya lupa. Oh... Mang Ayur kan!" Tambahnya membuat bi Inem menjadi malu-malu tidak jelas, wajahnya memerah, dan salting.


"Eh engga den, cuma ngobrol aja" Malunya.

__ADS_1


"Emmm. bi Inem suka malu-malu, gak apa-apa bi asal tanggung jawab, menafkahi, uang ngalir terus mah embat terus bi. Tarik terus uangnya, kalo udah kere tinggalin ckckck"


"Eh si aden kok tau, bi Inem emang ngarah uangnya aja ckckcck" Jawaban bi Inem membuat Sore menjadi tertawa cekikikan hingga sakit perut.


"Oh ya, malam ini bibi gak usah masak yah. Langsung istirahat aja"


"Makan sama si bapak, den?"


"Iya, tadi ngajak makan dirumahnya"


"Oh, oke deh siap den"


Sudah pukul tujuh malam, Sore sudah bersiap-siap memakai pakaian rapih. Sangat wangi sekali tubuhnya, mengambil kunci motornya lalu pergi berpamitan ke bi Inem. Sampai disana, ia sudah di tunggu oleh ibu tirinya. Baik sekali orangnya, sehingga Sore menganggap seperti ibunya sendiri.


"Sore!" Teriak dari suara gadis kecil berlari terbirit-birit menghampiri Sore. Ya, itu adik tirinya bernama Anya. Sangat lucu, cantik, berambut panjang coklat terurai, matanya sangat bulat dan besar, pipinya cubby seperti bakpau, bibirnya kecil.


"Anya! panggilnya pake kakak dong. Kakak Sore" ucap memberitahu.

__ADS_1


"Gak apa-apa bu, sini Anya" ucap sambil menggendong Anya. Anya terus memeluk Sore dengan sangat nyaman.


__ADS_2