
Selama ini Zaid selalu egois dengan pemikirannya sendiri. Dirinya rindu namun dia menafikan semua perasaan rindu itu. Dia menganggap dirinya tidak diinginkan di kehidupan kedua orang tuanya.
Sampai lah dia tidak ingin mencari tahu keberadaan org tua nya, termasuk ibunya. Namun ternyata semenjak ia mengetahui kisah sebenarnya kenapa ia dititipkan di panti asuhan, dia lebih bersyukur dengan hal itu.
Ibu nya yang memasuki usia senja itu juga memendam rindu yang terdalam terhadap anak satu-satunya itu. Ketika rekan dan ayah angkat nya menemukan ibu kandungnya, kondisi sang ibu pun hidup sendirian, dia melanjutkan hidupnya dengan berdagang kecil kecilan di Kalimantan Utara.
Dalam keadaan koma hampir sebulan itu. Zaid sangat sering mengigau menyebut ibu ibu ibu!! Rekan-rekannya yang pernah ia tolong sangat iba melihat kondisinya.
Dan akhirnya mereka berinisiatif sendiri mencari keberadaan ibu kandungnya, pada akhirnya ditemukan juga sang ibu. Dan setelah kedatangan ibunya itu di Kota Jakarta.
Sontak saja tak lama kemudian kesadaran Zaid mulai terlihat, dan akhirnya hampir selama sebulan dia tidak bisa membuka matanya.
Ketika membuka mata yang pertama kali yang ia lihat adalah sosok yang tidak asing baginya, padahal sama sekali ia belum pernah menemuinya di dalam dunia nyata.
Sosok itu seperti hadir setiap hari menemaninya, namun namanya saja pun dia tidak tahu. Didalam koma nya yang panjang dia menemui sosok ibunya, namun ketika sadar dia tidak tahu siapa yang di depannya.
Walaupun begitu wajah wanita yang di tatapnya itu sangat tidak asing dilihatnya, ketika Om Jaka yang dianggap ny layaknya ayah baginya itu, menjelaskan seketika itu lah deraian air matanya tak henti.
Dan ia mendekap ibunya yang memasuki usia senja itu sangat erat. Sepertinya ia tidak ingin melepaskan dekapan itu, dekapan yang selalu dinantikan setiap malam tidur nya.
Semua yang melihat moment itu tidak bisa menahan air yang mengalir di deretan kelopak mata mereka, semuanya terharu terisak, bahkan Zaid sendiri pun tidak sungkan menjatuhkan bulir bulir air matanya.
Dia yang terkenal tangguh, terkenal kuat, terkenal tak pernah menangis dalam kondisi apapun. Sekarang pertama kalinya orang orang terdekatnya melihatnya menangis tanpa henti.
Ibunya tak henti hentinya menciumi tangan pipi kening anaknya itu. Seakan mereka tidak ingin terpisahkan lagi.
Hampir 1 jam mereka makan bersama di restaurant itu, Sofiya cukup lega dengan pertemuan pertama ini. Akhirnya sekian lama berharap orang yang ditunggu nya menemuinya juga bahkan membawa ibunya bersama untuk menemui dirinya.
Tiba-tiba ponsel Sofiya berdering beberapa kali.
Langsung Sofiya menjawabnya, karena dia baru ingat kedua sahabatnya itu pasti sedang menunggu dia datang membawa seseorang yang spesial ke rumahnya itu.
__ADS_1
Sahabatnya itu tahu password apartemen nya jadi sangat mudah untuk mereka masuk dan lagi-lagi Sofiya sendiri yang meminta tolong kepada mereka.
"Ika!! Dimana sih lama banget??" Udah beress nih semua, kau enggk kenapa kenapa kan?? tanya Rani bertubi-tubi terdengar nada khawatir.
"IYa Ran enggak apa-apa!! Ini kita juga udah mau otw ke rumah. Terima kasih ya sekali lagi, udah bantuin aku!!" ucap nya lembut.
"Iya iya Ka!! Aman, asalkan pangeran itu sampai dengan selamat. haha!!" Rini terdengar berteriak sambil tertawa.
"Husss!! sudah nanti kita sambung lagi bye," Sofiya langsung menutup teleponnya.
Sofiya tidak ingin membuat orang spesial nya menunggu, langsung dia mengajak mereka berjalan ke arah parkiran. Tak lupa juga Sofiya menuntun tangan ibu, sepertinya mereka sudah sangat akrab.
Tidak begitu banyak barang bawaan Zaid dan ibunya. Hanya ada dua koper dorong yang mereka bawa, sampai di parkiran mereka pun memasukkan koper ke bagasi mobil Sofiya. Ibu duduk di sebelah Sofiya dan Zaid duduk di belakang mereka.
Setengah perjalanan sangat lancar dan aman. Akiqa berasa lega dan bersyukur kepada Tuhan, akhirnya kali ini Tuhan benar- benar memberi buah yang manis atas kesabaran dan keteguhannya selama ini. Menghadapi segala ujian-ujian yang Tuhan telah berikan kepadanya.
Sedikit macet perjalanan, Sofiya tidak ingin mengendarai mobil dengan laju. Karena takut mengganggu tidur ibu yang sepertinya memang sangat kelelahan.
Dan dibalik kaca yang berada di depan Sofiya sesekali Sofiya melirik ke belakang memastikan apa yang sedang dilakukan Zaid. Namun Zaid pun tidak bersuara.
Gubrak.....
Ibu pun terbangun, lalu mereka berdua melihat ke belakang, ternyata Zaid terjatuh dari tempat duduknya, kepalanya terbentur di pinggir pintu mobil, sangat keras kedengarannya.
Sofiya dan Ibu pun turun dan bersamaan melihat kondisi Zaid. Hidungnya sudah mengalirkan darah, badannya lunglai, dengan tangguh Sofiya mencoba menaruh kembali posisi nya.
Dan ibu memutuskan duduk dibelakang. Agar Zaid bisa baring di pangkuan ibunya, Sofiya menyetujui itu dengan cepat, langsung saja Sofiya menuju rumah sakit terdekat.
Berdering kembali ponsel Sofiya
"Hallo Ka dimana??" tanya Rani yang menunggu dari tadi sedikit khawatir.
"Ran tolong aku Ran!! Tolong aku Menuju Rumah sakit, kalian datang ya!! nanti aku share lokasi rumah sakitnya," ucap Sofiya
"Ika!! Siapa yang sakit??"
"kamu kenapa Ka??" tanya Rani makin khawatir, namun panggilan sudah ditutup oleh Sofiya.
__ADS_1
Tidak memakan waktu lama karena kondisi mereka pun berada di tengah jalan. Akhirnya rumah sakit terdekat ditemukan. Sofiya memarkirkan mobil nya di Rs.Camatha sahidya, langsung Zaid ditangani dan dimasukkan ke ruang Icu.
Berdering kembali ponsel Sofiya tertera nama Rani di layarnya, dia pun langsung menjawab telepon Rani tersebut.
"Hallo, Ran!! Aku udah di Rs.Camata sahidya!!" ucapnya dengan nada gemetar dan airmata yang tumpah.
"Oke oke, aku menuju Rumah sakit sekarang," ucapnya.
Seolah paham yang sakit bukan Sofiya melainkan Zaid. Rani dan Rini pun langsung bergerak menuju rumah sakit, mereka berdua tidak tunggu lama lagi langsung turun menggunakan lift dan menuju parkiran.
Sampai di parkiran mobil mereka langsung masuk ke dalamnya dengan cepat.
"Biar aku yang nyetir kak," ucap Rini.
"Yadah dek, ini kuncinya!!" ucap Rani
Kemampuan Rini tidak diragukan lagi, selain dia pandai menghidupkan api pembakaran dia juga handal dalam balapan. Karena karakternya yang tomboy ini dia terbiasa dengan gelap jalanan.
Itulah mengapa tidak,diragukan lagi dia langsung membelokkan mobilnya dengan cepat dan menuju rumah sakit yang telah diberitahukan oleh Sofiya.
"Dek Rs. Camata Sahidya ya!!" ucap Rani sambil memasang belt, karena kecepatan Rini sudah tak terkendali.
"Baik kakak!" ucapnya singkat.
Mobil itu melaju seolah di arena balapan sesungguhnya, Rani sudah berdebar jantungnya. Namun dia tetap memberikan seratus persen kepercayaan terhadap adiknya yang tomboy itu.
*******
__ADS_1